Sukses

60 Persen Kehidupan di Alam Terbunuh karena Nafsu Manusia

Liputan6.com, Jakarta Manusia sepertinya harus berpikir lebih sering soal isu lingkungan hidup. Pasalnya, sebuah laporan dari World Wildlife Fund (WWF) memaparkan seberapa parah kerusakan yang dibuat manusia terhadap lingkungan.

Melansir New York Post pada Sabtu (3/11/2018), WWF mengungkapkan bahwa manusia bertanggung jawab atas terbunuhnya 60 persen dari mamalia, ikan, burung, dan reptil di dunia. Persentase rata-rata tersebut sudah dihitung sejak 40 tahun lalu.

"Bumi kehilangan keanekaragaman hayati pada tingkat yang hanya terlihat selama kepunahan massal," kata penulis WWF Living Planet Report.

Data tersebut dikumpulkan dari lebih dari 4 ribu spesies di dunia antara 1970 hingga 2014. Beberapa penyebab kepunahan ini adalah nafsu manusia yang tidak terpuaskan akan sumber daya alam baik energi, tanah, dan air, serta industri produksi makanan yang sedang berkembang. Hal tersebut mengarah pada eksploitasi yang berlebihan.

 

Simak juga video menarik berikut ini:

 

2 dari 3 halaman

Mendesak pemimpin dunia

Maka dari itu, WWF mendesak para pemimpin dunia untuk menyelamatkan planet ini.

"Pengambil keputusan di setiap tingkat perlu membuat pilihan politik, keuangan, dan konsumen untuk mencapai visi bahwa kemanusiaan dan alam berkembang selaras di satu-satunya planet kita," tulis pernyataan WWF.

WWF sendiri meminta pemimpin dunia bergerak lebih cepat. Diperkirakan, hanya sepersepuluh dari daratan di dunia yang terhindar dari konsumsi manusia.

Amerika Selatan dan Tengah telah menderita dampak terbesar. Mereka kehilangan 89 persen spesies vertebrata.

Selain itu, sejak 1970, sampah plastik juga menempatkan perairan bumi ke dalam bahaya. Kehidupan menjadi lebih berisiko terutama bagi ikan di danau, sungai, dan lahan basah yang menurun sebanyak 83 persen.

 

3 dari 3 halaman

Harapan tidak hilang

Diperkirakan, bumi akan kehilangan setengah dari karang air dangkal dalam 30 tahun. Selain itu, 20 persen dari Amazon telah hilang dalam waktu 50 tahun.

"Statistik itu menakutkan, tetapi seluruh harapan tidak hilang," kata profesor Ken Norris, Direktur sains di Zoological Society of London, Inggris, yang mengorganisir penelitian itu.

"Kita memiliki kesempatan untuk merancang jalur baru ke depannya, yang memungkinkan kita untuk hidup berdampingan secara berkelanjutan dengan satwa liar tergantung di mana kita," kata Norris.

"Kami butuh bantuan Anda untuk mencapainya."

Artikel Selanjutnya
Terkuak, Abu Jasad Manusia Disebar di Taman Bermain Walt Disney
Artikel Selanjutnya
Pembuluh Darah Terlihat Menonjol di Tangan Anda? Ini 5 Alasan Ilmiahnya...