Sukses

Setop Permalukan Anak di Media Sosial, Ini Alasannya

Liputan6.com, Jakarta Aksi mempermalukan anak secara online oleh orangtua bukanlah hal yang langka. Coba ketikkan judul “child shaming video” di mesin pencari Youtube, Anda akan menemukan lebih dari 30 ribu video yang memenuhi kriteria pencarian itu.

Beberapa orang melontarkan pembelaannya bahwa tindakan tersebut merupakan pendisiplinan kreatif, atau jika meminjam istilah masa kini, pendisiplinan "zaman now".

Namun Dr Gail Gross, Ph.D., Ed.D., M.Ed, mengatakan bahwa tindakan tersebut tidaklah dibenarkan, karena dengan alasan apa pun, tindakan orangtua mempermalukan anak tidaklah benar.

"Orangtua yang mempermalukan anaknya melanggar seluruh prinsip bagaimana mengasuh anak yang baik,” ujarnya. “Orangtua seharusnya menjadi tempat teraman bagi anak-anak.”

Efek jangka panjang

Mempermalukan anak akan menghancurkan rasa kepercayaan anak pada orangtua dan bisa mengakibatkan masalah hidup yang permanen sepanjang hidup sang anak, ujar Gross.

"Setiap hubungan berakar pada pola asuh awal masa kanak-kanak,” kata dia lagi.

Gross juga mengatakan bahwa mempermalukan anak bisa mengubah perkembangan anak, menempatkan anak pada kondisi stres otak. Kecemasan dan depresi yang timbul ketika dewasa pun bisa mengakar pada peristiwa anak dipermalukan ketika masih kecil.

Beberapa anak bahkan mengalami PTSD (post-traumatic disorder) setelah dipermalukan oleh orangtuanya. Yang terburuk, mereka mengakhiri hidupnya sendiri.

Bahaya jangka pendek

Mempermalukan anak bukan saja berpotensi merusak, tapi juga menempatkannya dalam bahaya. Ada banyak predator anak berkeliaran di dunia maya. Mereka akan mengincar anak yang merasa tidak aman dan memiliki kepercayaan diri yang rendah.

Orangtua yang mempermalukan anaknya dan mempublikasikannya juga menjadikan anak sebagai sasaran perundungan (bullying) di sekolah. Itu karena pada zaman sekarang, semua orang terkoneksi dengan internet. 

 

Saksikan juga video berikut: 

 

1 dari 2 halaman

Mengapa hal ini terjadi?

"Ketika orangtua mempermalukan anaknya, selesai sudah kredibilitas mereka sebagai orangtua,” ujar Gross.

Mereka mengulangi siklus yang sama dengan perundungan, bahkan dianggap sebagai perilaku yang menyimpang yang hanya akan membuat anak memiliki perilaku buruk. Anak akan menyalurkan kemarahannya pada orang lain ketika mereka di sekolah atau rumah.

Mempermalukan juga sering kali diambil sebagai langkah terakhir oleh orangtua untuk meredam perilaku buruk.

"Ketika orangtua tidak lagi bisa melakukan apa pun, mereka cenderung memilih untuk mempermalukannya. Mereka berpikir bahwa mereka telah memberikan perilaku disiplin yang dramatis untuk menghentikan perilaku buruk anak mereka. Mereka cenderung berpikir bahwa dengan mengekspos anak, mereka akan bisa mengendalikannya,” ujar Dr Gross.

“Namun hal tersebut sama sekali bukanlah tindakan pendisiplinan. Itu merupakan perilaku reaktif. Mereka akan menimbulkan banyak masalah dalam ke depannya,” ucap Gross.

Fakta akibat perilaku mempermalukan anak oleh orangtua

"Ibarat olahraga lari, mengasuh anak bukanlah lomba sprint, tapi lebih kepada lari maraton,” ujar Dr Gross.

Mempermalukan anak membuat orangtua merasa bahwa mereka telah “memenangi pertempuran”. Namun, yang terjadi sebenarnya adalah orangtua “kalah dalam peperangan” karena mempermalukan anak bisa menghilangkan kepercayaan dan rasa aman anak secara permanen.

"Jangan lupa kalau anak Anda hanyalah seorang anak-anak. Mereka tidak mempunyai kemampuan untuk mengatasi sesuatu layaknya para orang dewasa,” ujar Dr Gross.

Anak akan mengandalkan orangtua untuk mendapatkan panduan bagaimana memecahkan masalah mereka, bukan untuk mencari perhatian pada wilayah di mana mereka justru berjuang untuk mengatasinya.

Artikel Selanjutnya
Pelajar Wonogiri Paskahan Sambil Berliterasi Media
Artikel Selanjutnya
Kerja Sama KPAI dan Dewan Pers, Cegah Anak Jadi Korban Pemberitaan