Sukses

Konsumsi Protein Berlebih, Ini 3 Bahayanya

Liputan6.com, Jakarta Protein merupakan salah satu komponen penting bagi tubuh kita. Mulai dari meningkatkan fungsi otak, imunitas tubuh, massa otot, mengenyangkan perut. Asupan protein bisa diperoleh dari telur, daging, ayam, susu, hingga kedelai.

Namun bukan berarti ketika Anda ingin mengekang rasa lapar dan meningkatkan massa otot dengan cara mengonsumsi protein berlebih. Bagi wanita idealnya sekitar 46 gram dan pria 56 gram per hari. Ketika asupan protein terlalu banyak timbulkan hal tidak menyenangkan.

Mengutip Women's Health, Minggu (27/11/2016) berikut dampak tidak menyenangkan akibat konsumsi protein berlebih.

1. Aroma mulut tak sedap

Saat diet tinggi protein, ada orang yang memangkas asupan karbohidrat dan meningkatkan protein. Ketika tubuh tidak memiliki cukup karbohidrat dari makanan untuk diproses menjadi energi, maka lemak dibakar. Hasil dari proses ini adalah keton. Hal ini memang bisa menurunkan berat badan, namun tidak bagi napas seperti dipaparkan dokter Jessica Cording.

Saat tubuh membakar lemak, terdapat senyawa kimiawi keton, yang membuat aroma mulut seperti bau penghapus cat kuku. Menggosok gigi atau berkumur tak akan membuat perubahan signifikan pada aroma mulut.

2. Suasana hati buruk

Gula yang terdapat dalam karbohidrat bisa membuat otak bahagia. Kehadiran karbohidrat dalam porsi secukupnya membantu menstimulus produksi hormon yang mengatur suasana hati jadi lebih baik, serotonin. Bila asupan karbohidrat kurang, tak heran orang tersebut jadi mudah marah dan kesal.

Hal ini terbukti lewat studi di Australia. Orang gemuk yang diminta diet rendah karbohidrat merasa lebih mudah tersinggung dibanding yang mengonsumsi karbohidrat porsi secukupnya.

3. Ginjal bekerja keras

Saat dicerna, makanan mengandung protein menghasilkan produk sampingan nitrogen. Ginjal kemudian menyaring nitrogen tersebut agar tidak masuk dalam darah. Sementara itu nitrogen akan keluar bersama urine.

Namun bila asupan protein meningkat, Anda memaksa ginjal bekerja lebih keras. Yang dari waktu ke waktu memiliki potensi menyebabkan kerusakan ginjal seperti dituturkan Cording.