Sukses

6 Mitos Protein yang Belum Anda Tahu

Liputan6.com, Jakarta Protein dapat meningkatkan rasa kenyang lebih lama. Protein juga dapat membantu pemulihan otot, pemeliharaan, dan pertumbuhan. Namun jika hanya mengasup protein saja tentu tidak sehat.

Dokter Jamie Baum, PhD, seorang ahli gizi dan peneliti protein di universitas Arkansas menjelaskan bahwa kebanyakan orang memiliki anggapan yang salah tentang protein, seperti dikutip dari Prevention, Selasa (26/7/2016)

Mitos 1

Lebih protein = lebih berotot

Tubuh tidak dapat benar-benar memperbaiki atau menghasilkan otot tanpa rangkaian lengkap dari asam amino esensial yang ditemukan dalam sumber makanan protein. Tapi hanya makan protein saja tidak cukup untuk membangun atau mempertahankan kekuatan dan massa otot.

Mitos 2

Semua protein diciptakan sama

Tidak semua sumber protein mengandung asam amino esensial yang dibutuhkan tubuh untuk mendukung kesehatan otot dan sel. Menurut Baum, terdapat perbedaan besar antara sumber protein hewan dan tumbuhan. Protein hewan seperti daging, susu, telur, ikan merupakan sumber lengkap asam amino esensial, sedangkan dari tanaman tidak ada.

“Bahkan serat dalam beberapa sumber protein nabati justru dapat mencegah pencernaan dan penyerapan beberapa asam amino," jelasnya. 

Maka tidak benar jika ada yang mengatakan bahwa untuk mendapatkan asam amino yang dibutuhkan tubuh maka Anda tak perlu makan dari sumber hewani, tetapi jika berniat untuk bebas dari produk hewani maka sebaiknya menggabungkan kacang dalam menu diet Anda seperti kacang lentil, dan kacang tanah. Karena kacang-kacangan serta biji-bijian mengandung semua asam amino esensial yang dibutuhkan tubuh.

Mitos 3

Semakin banyak protein, semakin baik

Menurut data orang Amerika, rata-rata makan protein dalam sehari sekitar 80 - 90 gram atau kira-kira dua kali jumlah harian yang direkomendasikan oleh National Academy of Medicine.

“Sebetulnya ada batasan berapa banyak protein yang benar-benar dapat digunakan oleh tubuh. Batas itu adalah antara 25 gram dan 30 gram per makan,” kata Douglas Paddon-Jones, PhD, seorang profesor nutrisi dan metabolisme di University of Texas Medical Branch.

Jumlah itu setara dua telur atau sebagian tiga ons daging. 

Mengonsumsi protein berlebihan hanya akan merepotkan distribusi dalam tubuh. Paddon-Jones menyarankan untuk mengurangi asupan protein pada malam hari dan menambahkan beberapa daging atau protein untuk sarapan.

Mitos 4

Anda membutuhkan protein setelah latihan

Sebagian besar pria merasa membutuhkan protein setiap selesai gym untuk memaksimalkanm latihan mereka. Sementara orang-orang seperti Arnold Schwarzenegger yang berkompetisi binaraga memerlukan protein setiap 4 jam, orang-orang biasa rasanya cukup dengan makan protein dari makanan kita sehari-hari sambil berlatih untuk membentuk masa otot.

Mitos 5

Jika Anda lelah, mungkin kekurangan protein

Banyak kasus, rasa lelah tidak ada hubungannya dengan asupan protein. Sebagai gambaran seorang vegetarian yang sepanjang hari tidak mengonsumsi protein hewani apakah mereka akan selalu terlihat lelah sepanjang hari?

Mitos 6

Makan lebih banyak protein membuat berat badan turun

Baum mengatakan protein memang dapat memberi rasa kenyang lebih lama. Tapi ada batas untuk efek ini. Makan banyak protein tetap saja bisa membuat tubuh gemuk, jika tak diimbangi dengan pola hidup yang seimbang ditambah olahraga. Baum menyarankan jika ingin menurunkan berat badan ada baiknya untuk mengurangi karbohidrat dalam menu diet Anda.

Sebagai contoh, jika menu sarapan Anda bagel gandum, krim, telur atau yoghurt Yunani. Sebaliknya, kurangi porsi bagel Anda untuk membuat ruang bagi telur atau yoghurt.