Laos Pilih Diplomat Senior sebagai Perdana Menteri Baru

Sosok perdana menteri baru menggantikan Sonexay Siphandone, yang kemudian terpilih menjadi ketua Majelis Nasional.

Diterbitkan 08 Oktober 2026, 15:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Vientiane - Laos memiliki perdana menteri baru setelah Majelis Nasional memilih diplomat senior Saleumxay Kommasith untuk menduduki jabatan tersebut. Demikian dilaporkan media pemerintah pada Selasa (6/10/2026).

Saleumxay, yang akan berusia 58 tahun pada 31 Oktober, terpilih dalam pemungutan suara di Vientiane, ibu kota Laos, pada Senin (5/10). Kantor berita pemerintah KPL menyebut seluruh 158 anggota parlemen yang hadir memberikan suara untuknya.

Ia merupakan anggota Politbiro Partai Revolusioner Rakyat Laos yang berkuasa. Sebelum terpilih sebagai perdana menteri, Saleumxay menjabat wakil perdana menteri dan menteri luar negeri.

Mengutip laporan Associated Press, Saleumxay menempuh pendidikan di Moscow State Institute of International Relations, Rusia, serta Monash University, Australia. Setelah itu, ia menjalani karier di Kementerian Luar Negeri Laos dan pernah menangani hubungan dengan Australia, Amerika Serikat, negara-negara di kawasan Amerika, serta Eropa.

Ia juga pernah bertugas di perwakilan Laos untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) di New York. Saleumxay menguasai bahasa Inggris, Rusia, dan Prancis.

Perjalanan karier Saleumxay yang banyak bersinggungan dengan negara-negara Barat terbilang tidak biasa di Laos. Negara kecil tanpa akses ke laut dan tergolong miskin itu memiliki pemimpin yang umumnya tidak banyak dikenal di tingkat internasional, kecuali melalui hubungan erat dengan sesama negara komunis tetangganya, Vietnam dan China.

Dalam pidato di hadapan Majelis Nasional setelah terpilih, Saleumxay mengatakan pemerintahannya akan segera memprioritaskan produksi pangan, pemulihan infrastruktur, pengelolaan sumber daya mineral, proyek-proyek investasi besar, pariwisata, penerimaan negara, serta stabilitas moneter, menurut KPL.

Laporan mengenai Laos pada 2026 yang diterbitkan Bertelsmann Stiftung, Jerman, menyebut perekonomian negara Asia Tenggara itu masih lemah dan menghadapi sejumlah persoalan, mulai dari pinjaman yang terlalu besar, beban utang, minimnya cadangan devisa, hingga pelemahan nilai mata uang.

"Negara satu partai itu masih belum menunjukkan kecenderungan untuk melakukan reformasi menuju sistem multipartai," tulis laporan tersebut.

Laos memainkan peran penting selama Perang Vietnam. Negara itu tidak hanya menjadi medan pertempuran antara pemerintahan kerajaan dan kelompok pemberontak komunis, tetapi juga menjadi salah satu jalur utama pengiriman pasokan melalui Ho Chi Minh Trail dari Vietnam Utara yang komunis menuju medan perang di Vietnam Selatan.

Akibatnya, Laos mengalami salah satu pengeboman udara terberat dalam sejarah jika dihitung berdasarkan jumlah penduduk, yang dilakukan oleh Angkatan Udara Amerika Serikat.

Pada Desember 1975, kelompok komunis Pathet Lao berhasil mengalahkan pasukan kerajaan yang didukung Amerika Serikat dan mengambil alih kekuasaan. Pada tahun yang sama, kelompok komunis yang bersekutu dengan mereka juga lebih dahulu mengambil alih kekuasaan di Vietnam dan Kamboja.

Laos hingga kini tetap menjalin hubungan dekat dengan Vietnam. Perdana Menteri Vietnam dijadwalkan berkunjung ke Laos pada Kamis.

Sementara itu, pengaruh China di Laos terus meningkat. Kekuatan ekonomi Beijing yang besar turut memperkuat kerja sama ekonomi dan perdagangan antara kedua negara.

Sebagai negara tanpa akses ke laut, Laos sangat bergantung pada negara-negara tetangganya, termasuk Thailand, baik untuk perdagangan maupun investasi. Salah satu komoditas ekspor utama Laos adalah listrik yang dihasilkan dari bendungan-bendungan pembangkit listrik tenaga air.