Washington Navy Yard atau markas Angkatan Laut AS kebobolan. Seseorang memberondokan senapan dan mengakibatkan 13 orang meninggal dunia dan 12 orang lain luka-luka.
Sebuah rekaman video sesaat sebelum pelaku yang diidentifikasi sebagai mantan perwira AS bernama Aaron Alexis beraksi Gedung 197 di Markas AL itu beredar. Video berdurasi sekitar 26 detik dari CCTV Markas AL itu dirilis FBI dan disiarkan banyak media, salah satunya CBS News, Kamis (26/9/2013).
Para pejabat FBI mengatakan, Alexis percaya bahwa ia sedang dikendalikan oleh gelombang elektromagnetik (halusinasi) ketika beraksi. Dia juga diketahui bekerja di Markas AL sebagai kontraktor, sepekan sebelum melakukan pembantaian.
Video yang dirilis oleh FBI pada Rabu 25 September menunjukkan Alexis saat memasuki tempat parkir markas AL hingga melewati gerbang keamanan. Alexis terlihat santai berjalan melalui pintu depan gedung, sambil membawa ransel penuh senjata dan amunisi. Lalu ia merakit senapan Remington 870 di kamar mandi, dan keluar dalam kondisi sudah bersenjata.
"Kami dapat mengatakan bahwa senapan Remington 870 telah dimodifikasi," kata Valerie Parlave, salah satu anggota FBI.
Setelah itu, seperti digambarkan video CCTV itu, Alexis terlihat berjalan mengendap-ngendap menuju pintu dan berpindah ke lantai lain. Dia terlihat bersembunyi di balik dinding sebelum berlari ke arah orang-orang untuk melancarkan serangan sporadisnya.
"Dua dari responden NCIS yang bekerja sama dengan polisi metropolitan ketika itu sedang bersama, saat ketiganya terkena tembakan Alexis," ungkap Michael Monroe, salah satu anggota NCIS.
Penembakan itu berlangsung lebih dari satu jam, sebelum Alexis berhasil dilumpuhkan dengan timah panas.
Selain merilis video detik-detik sebelum serangan sporadis Alexis, FBI juga merilis foto-foto senjata yang digunakan Alexis saat penembakan. Pada senapan itu terlihat gambar tulisan tangan berbunyi 'Lebih baik begini', 'mengakhiri siksaan' dan 'bukan apa yang kalian semua katakan'.
Gambar ransel Alexis yang digunakan untuk menyembunyikan senjata dan ditinggalkan di kamar kecil, juga dirilis FBI.
Para pejabat FBI mengatakan, bukti-bukti yang dikumpulkan menunjukkan tanda-tanda seorang pria delusional.
"Ada beberapa indikator, tapi Alexis diketahui mengalami delusi, ia sedang dikendalikan atau dipengaruhi oleh frekuensi yang sangat rendah atau ELF, gelombang elektromagnetik," ujar Valerie dari FBI.
Agen FBI mengatakan, bukti-bukti yang telah dirilis pihaknya menunjukkan Alexis memang siap untuk mati dan menerima konsekuensinya atas tindakannya.
Setelah bukti-bukti itu dirilis, kini pencarian bukti selanjutnya disebut-sebut berlanjut ke kamar hotel, di mana Alexis tinggal.
Pihak terkait menyebutkan bahwa Aaron Alexis, penembak brutal di Washington Navy Yard mengalami delusi. Jadi ia diduga kuat terpengaruh dengan keyakinannya yang salah, yang mendorongnya untuk berbuat negatif.
Dalam ilmu psikiatri, delusi diartikan sebagai kepercayaan yang persifat patologis (hasil dari penyakit atau proses sakit) dan terjadi walaupun terdapat bukti yang berkebalikan.
Kasus delusi, sebelumnya juga sempat dialami oleh seorang ibu yang tega membunuh buah hatinya sendiri. Karena gangguan pada penilaian realitas (delusi) ini, sang ibu nekat membunuh buah hatinya. (Tnt/Yus)
Sebuah rekaman video sesaat sebelum pelaku yang diidentifikasi sebagai mantan perwira AS bernama Aaron Alexis beraksi Gedung 197 di Markas AL itu beredar. Video berdurasi sekitar 26 detik dari CCTV Markas AL itu dirilis FBI dan disiarkan banyak media, salah satunya CBS News, Kamis (26/9/2013).
Para pejabat FBI mengatakan, Alexis percaya bahwa ia sedang dikendalikan oleh gelombang elektromagnetik (halusinasi) ketika beraksi. Dia juga diketahui bekerja di Markas AL sebagai kontraktor, sepekan sebelum melakukan pembantaian.
Video yang dirilis oleh FBI pada Rabu 25 September menunjukkan Alexis saat memasuki tempat parkir markas AL hingga melewati gerbang keamanan. Alexis terlihat santai berjalan melalui pintu depan gedung, sambil membawa ransel penuh senjata dan amunisi. Lalu ia merakit senapan Remington 870 di kamar mandi, dan keluar dalam kondisi sudah bersenjata.
"Kami dapat mengatakan bahwa senapan Remington 870 telah dimodifikasi," kata Valerie Parlave, salah satu anggota FBI.
Setelah itu, seperti digambarkan video CCTV itu, Alexis terlihat berjalan mengendap-ngendap menuju pintu dan berpindah ke lantai lain. Dia terlihat bersembunyi di balik dinding sebelum berlari ke arah orang-orang untuk melancarkan serangan sporadisnya.
"Dua dari responden NCIS yang bekerja sama dengan polisi metropolitan ketika itu sedang bersama, saat ketiganya terkena tembakan Alexis," ungkap Michael Monroe, salah satu anggota NCIS.
Penembakan itu berlangsung lebih dari satu jam, sebelum Alexis berhasil dilumpuhkan dengan timah panas.
Selain merilis video detik-detik sebelum serangan sporadis Alexis, FBI juga merilis foto-foto senjata yang digunakan Alexis saat penembakan. Pada senapan itu terlihat gambar tulisan tangan berbunyi 'Lebih baik begini', 'mengakhiri siksaan' dan 'bukan apa yang kalian semua katakan'.
Gambar ransel Alexis yang digunakan untuk menyembunyikan senjata dan ditinggalkan di kamar kecil, juga dirilis FBI.
Para pejabat FBI mengatakan, bukti-bukti yang dikumpulkan menunjukkan tanda-tanda seorang pria delusional.
"Ada beberapa indikator, tapi Alexis diketahui mengalami delusi, ia sedang dikendalikan atau dipengaruhi oleh frekuensi yang sangat rendah atau ELF, gelombang elektromagnetik," ujar Valerie dari FBI.
Agen FBI mengatakan, bukti-bukti yang telah dirilis pihaknya menunjukkan Alexis memang siap untuk mati dan menerima konsekuensinya atas tindakannya.
Setelah bukti-bukti itu dirilis, kini pencarian bukti selanjutnya disebut-sebut berlanjut ke kamar hotel, di mana Alexis tinggal.
Pihak terkait menyebutkan bahwa Aaron Alexis, penembak brutal di Washington Navy Yard mengalami delusi. Jadi ia diduga kuat terpengaruh dengan keyakinannya yang salah, yang mendorongnya untuk berbuat negatif.
Dalam ilmu psikiatri, delusi diartikan sebagai kepercayaan yang persifat patologis (hasil dari penyakit atau proses sakit) dan terjadi walaupun terdapat bukti yang berkebalikan.
Kasus delusi, sebelumnya juga sempat dialami oleh seorang ibu yang tega membunuh buah hatinya sendiri. Karena gangguan pada penilaian realitas (delusi) ini, sang ibu nekat membunuh buah hatinya. (Tnt/Yus)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8475678/original/062240100_1782386179-cek_fakta_bansos_PKH_-_2026.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8471521/original/041151500_1782374656-Tugas__40_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3968655/original/065769700_1647752951-presiden_ukraina_1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8472796/original/057767300_1782376694-cek_fakta_BPS.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/21186/original/penyusup-markas-al-as-130926b-v.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1411598/original/098494900_1479704927-Amerika_Serikat.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/42/original/030046100_1469523349-Tanti_Edit.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8259732/original/038298000_1781511216-000_B7396ZD.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263772/original/067560900_1782010379-jerman.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8258990/original/029859700_1781430570-AP26154680263164.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260144/original/013036700_1781578034-AP26166147695589.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261509/original/095684300_1781725548-RD_Kongo_s_Yoane_Wissa.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8362045/original/070572100_1782237587-AP26174619862047.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8385152/original/045727200_1782264420-panama.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8378005/original/081695500_1782256125-ghana.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264149/original/054877000_1782096496-063_2282689905-Timnas_Mesir.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264303/original/054619900_1782106281-AP26172737361128.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264253/original/054046300_1782102358-uruguay.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8456333/original/005196400_1782354547-063_2282682114.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8484279/original/013090500_1782396796-mail.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5028216/original/059069000_1732870090-logo_piala_dunia_2026.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5497603/original/096409200_1770638744-3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5461829/original/047106800_1767458658-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5488493/original/037865300_1769753942-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8460553/original/022979300_1782360036-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3046088/original/077180100_1581323846-20200210-Pasar-Saham-di-Asia-Turun-Imbas-Wabah-Virus-Corona-5.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4826292/original/095830100_1715176226-fotor-ai-20240508204955.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2748581/original/016857400_1552342962-penatagon.jpg)