Dua Jet Tempur Korea Selatan Tabrakan Akibat Pilot Sibuk Ambil Foto dan Video

Biaya kerusakan akibat insiden tabrakan dua jet tempur ini mencapai hingga ratusan ribu dolar AS.

Diterbitkan 23 April 2026, 10:01 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Seoul - Pada Desember 2021, dua jet tempur F-15K milik Angkatan Udara Korea Selatan (Korsel) bertabrakan di udara saat menjalani misi latihan. Kedua awak pesawat berhasil kembali ke pangkalan dengan selamat, meskipun pesawat mengalami kerusakan.

Pada hari Rabu (22/4/2026), pemerintah Korea Selatan mengungkap penyebab kecelakaan tersebut. Berdasarkan laporan Dewan Audit dan Inspeksi, insiden itu terjadi karena salah satu pilot mengambil foto dengan ponselnya, sementara seorang awak di pesawat lain merekam video.

Salah satu pilot diketahui sedang menjalani penerbangan terakhirnya bersama unit tersebut. Mengutip laporan NY Times, dalam pengarahan sebelum misi, ia telah memberi tahu rekan-rekannya bahwa ia ingin mengambil foto sebagai kenang-kenangan.

Saat misi selesai dan kedua pesawat dalam perjalanan kembali ke pangkalan, pilot yang berperan sebagai wingman—pilot yang terbang mendampingi atau mengikuti pesawat utama dalam satu formasi. —mulai mengambil foto menggunakan ponsel pribadinya. Pilot utama kemudian menawarkan untuk ikut mengambil foto. Wingman itu lalu meminta seorang awak di pesawat utama untuk merekam video.

Untuk mendapatkan video yang lebih baik, wingman tiba-tiba menaikkan pesawatnya tajam ke atas, lalu membalikkan posisi pesawat.

Akibat manuver tersebut, jarak kedua pesawat menjadi sangat dekat. Kedua pilot langsung berusaha menghindari tabrakan. Pilot utama menurunkan pesawatnya secara tajam, sementara wingman menaikkan pesawatnya hampir tegak lurus ke atas

Namun, upaya itu tidak berhasil sepenuhnya. Sayap kiri pesawat pilot utama menyentuh bagian ekor pesawat wingman, tepatnya stabilator. Laporan tidak menyebutkan lokasi pasti kejadian, tetapi media lokal menyebut unit tersebut berbasis di Daegu, Korea Selatan.

Kerusakan akibat insiden itu menelan biaya perbaikan hampir USD 600.000. Pada awalnya, angkatan udara menuntut wingman untuk membayar seluruh biaya tersebut. Namun, ia menolak dan pada 2023 mengajukan keberatan kepada dewan audit.

Dewan audit, yang tidak mengungkap identitas kedua pilot, memutuskan bahwa wingman—yang kini telah keluar dari militer—hanya perlu membayar sepersepuluh dari total biaya. Laporan itu juga tidak menjelaskan apakah pilot lainnya dikenai sanksi.

Selain itu, dewan menyatakan bahwa angkatan udara turut bertanggung jawab karena tidak memiliki aturan yang jelas terkait penggunaan kamera oleh pilot selama penerbangan.

"Mereka yang terlibat dalam kasus ini menyatakan bahwa ini bukan satu-satunya penerbangan di mana foto diambil," demikian isi laporan tersebut.  Â