23 April 1985: Peluncuran Varian Baru Coca-Cola Berujung Kontroversi dan Penolakan Publik

Peluncuran produk terbaru coca-cola pada 23 April 1985 picu kontroversi. Apa penyebabnya?

Diterbitkan 23 April 2026, 06:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Washington, D.C. - Pada 23 April 1985, produk minuman Coca-Cola varian baru yang dikenal sebagai New Coke menjadi sorotan setelah peluncurannya justru memicu reaksi negatif luas dari publik. Alih-alih membawa penyegaran bagi merek ikonik tersebut, perubahan formula itu berujung pada penolakan konsumen dan menjadi salah satu kontroversi terbesar dalam sejarah industri minuman.

Keputusan perubahan formula dilakukan oleh perusahaan di tengah tekanan persaingan yang meningkat dari Pepsi. Sejak pertengahan 1970-an, Pepsi disebut berhasil unggul dalam berbagai uji rasa buta, yang perlahan menggerus dominasi Coca-Cola di pasar minuman bersoda.

Menghadapi situasi tersebut, Coca-Cola pada 1983 menjalankan proyek internal yang dikenal sebagai “Proyek Kansas” untuk mengembangkan rasa baru. Perusahaan kemudian melakukan uji rasa terhadap sekitar 200.000 responden sebelum akhirnya memperkenalkan formula baru yang diklaim lebih manis dan halus.

Namun, setelah resmi diluncurkan, respons publik justru berbalik arah. Ribuan konsumen menghubungi layanan pelanggan untuk menyampaikan protes, sementara sebagian lainnya dilaporkan menimbun produk lama sebagai bentuk penolakan terhadap perubahan formula, dikutip dari laman Britannica, Kamis (23/4/2026).

Tekanan publik yang meningkat membuat perusahaan akhirnya mengambil langkah mundur. Hanya 79 hari setelah peluncuran, Coca-Cola mengumumkan pengembalian formula asli ke pasar dan menghentikan distribusi New Coke secara bertahap. Produk varian tersebut kemudian tetap beredar berdampingan untuk beberapa waktu sebelum akhirnya dihentikan pada 2002.

Peristiwa ini tidak hanya berdampak pada strategi bisnis perusahaan, tetapi juga disebut turut memengaruhi citra merek dan pergerakan saham. Meski demikian, sejumlah analis menilai kegagalan tersebut justru memperkuat loyalitas konsumen terhadap produk asli Coca-Cola.

Menanggapi kontroversi tersebut, mantan eksekutif Coca-Cola, Donald R. Keough, pernah menyatakan bahwa perusahaan tidak merancang kegagalan tersebut sebagai strategi.

“Beberapa orang sinis mengatakan kami merencanakannya. Sebenarnya, kami tidak sebodoh itu, dan kami juga tidak sepintar itu,” ujarnya.