4 Kandidat Sekjen PBB Jalani Uji Publik, Ini Nama-namanya

Sekjen PBB Antonio Guterres akan segera mengakhiri masa tugasnya.

Diterbitkan 21 April 2026, 14:03 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Washington D.C - Empat kandidat sekretaris jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) akan menjalani uji publik pekan ini di hadapan negara-negara anggota, dalam proses seleksi yang dinilai berlangsung di tengah dinamika geopolitik global yang semakin kompleks.

Jumlah kandidat kali ini jauh lebih sedikit dibandingkan pada 2016, ketika 13 orang bersaing dan Antonio Guterres akhirnya terpilih sebagai pemimpin organisasi dunia tersebut.

Mantan Presiden Chile, Michelle Bachelet, menjadi kandidat pertama yang tampil dalam sesi tanya jawab selama tiga jam di hadapan perwakilan 193 negara anggota PBB pada Selasa. Ia kemudian diikuti oleh Direktur Jenderal International Atomic Energy Agency (IAEA), Rafael Mariano Grossi dari Argentina.

Pada Rabu (21/4/2026), Sekretaris Jenderal United Nations Conference on Trade and Development, Rebeca Grynspan, dijadwalkan tampil, disusul mantan Presiden Senegal, Macky Sall.

Pengamat menilai menurunnya jumlah kandidat mencerminkan perubahan situasi global. Dunia saat ini dinilai lebih terpolarisasi dan dipenuhi konflik dibandingkan satu dekade lalu, ketika Donald Trump pertama kali terpilih sebagai Presiden Amerika Serikat, dikutip dari laman AP News, Selasa (21/4).

Selain itu, pengaruh PBB dinilai mengalami penurunan. Pada 2016, organisasi ini mencatat capaian penting seperti Perjanjian Paris dan adopsi 17 tujuan pembangunan berkelanjutan. Namun saat ini, perpecahan di antara kekuatan besar dunia membuat PBB kesulitan menjalankan perannya dalam menjaga perdamaian dan keamanan global.

 

Dewan Keamanan PBB, misalnya, dinilai gagal mengambil langkah tegas dalam sejumlah konflik besar seperti perang di Ukraina dan Gaza, sehingga peran organisasi tersebut kerap berada di pinggir krisis global.

Direktur program di International Crisis Group, Richard Gowan, mengatakan situasi geopolitik saat ini membuat kandidat dan negara pendukung lebih berhati-hati.

Menurutnya, berbeda dengan 2016 ketika banyak kandidat ikut serta untuk meningkatkan profil, kini risiko diplomatik jauh lebih besar. “Jika kandidat membuat kesalahan dan menyinggung Washington atau Beijing, dampaknya bisa signifikan secara diplomatik,” ujarnya.

 

 

Prosedural Pemilihan Sekjen PBB

Secara prosedural, pemilihan sekretaris jenderal dilakukan oleh Majelis Umum PBB berdasarkan rekomendasi Dewan Keamanan, yang memberi lima anggota tetap—Amerika Serikat, Rusia, Tiongkok, Inggris, dan Prancis—hak veto dalam menentukan hasil akhir.

Secara tradisional, posisi ini juga mempertimbangkan rotasi kawasan. Setelah dipegang oleh Guterres dari Eropa, muncul harapan giliran Amerika Latin, meskipun Eropa Timur belum pernah menduduki posisi tersebut.

Dalam proses nominasi, Bachelet tetap maju meski dukungan dari pemerintah Chile dicabut, karena ia mendapat pencalonan dari Brasil dan Meksiko. Sementara itu, Grossi dan Grynspan masing-masing diusung oleh negara asalnya.

Adapun pencalonan Macky Sall oleh Burundi tidak didukung oleh negara asalnya, Senegal, maupun African Union.

Isu kesetaraan gender juga kembali mengemuka. Dua kandidat perempuan dalam kontestasi ini menghadapi dorongan dari berbagai pihak yang menginginkan perempuan pertama memimpin PBB. Dukungan tersebut antara lain datang dari Inggris, Prancis, serta kelompok advokasi global seperti GWL Voices.

Namun, dinamika politik tetap menjadi faktor penentu. Bachelet, misalnya, menghadapi kritik dari sejumlah politisi Partai Republik di Amerika Serikat. Duta Besar AS untuk PBB, Mike Waltz, menyatakan memahami kekhawatiran tersebut, meski belum memastikan posisi resmi negaranya.

Gowan menilai peluang kandidat perempuan sempat menguat, tetapi kembali dipertanyakan setelah Trump kembali berkuasa. Meski demikian, ia menekankan bahwa hasil akhir tetap sulit diprediksi di tengah kompleksitas politik global saat ini.