14 April 1970: Apollo 13 Alami Ledakan Saat Berada di Ruang Angkasa

Apollo 13 ini berisi tiga orang awak yang terdiri dari James Lovell, Jack Swigert dan Fred Haise.

Diterbitkan 14 April 2026, 06:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Washington, D.C.- Ledakan hebat yang mengguncang misi Apollo 13 pada 14 April 1970 menjadi salah satu momen paling menegangkan dalam sejarah penerbangan antariksa. Insiden tersebut melumpuhkan sebagian sistem pesawat dan mengubah misi pendaratan di Bulan menjadi operasi penyelamatan darurat bagi tiga astronot di dalamnya.

Ledakan terjadi sekitar 56 jam setelah peluncuran, tepatnya di salah satu sel bahan bakar modul layanan. Dampaknya fatal: pasokan listrik utama hilang, diikuti ancaman krisis oksigen dan air yang kian menipis.

Tiga awak—James Lovell, Jack Swigert, dan Fred Haise—berada dalam kondisi tidak pasti, sementara tim di NASA berpacu dengan waktu menyusun rencana darurat, dikutip dari laman BBC, Selasa (14/4/2026).

Penyebab pasti ledakan tidak pernah sepenuhnya dipastikan. Salah satu dugaan awal menyebut kemungkinan benturan meteorit, namun investigasi lebih lanjut terhambat karena modul layanan terbakar saat memasuki kembali atmosfer Bumi.

Dalam kondisi kritis, para astronot bertahan dengan memanfaatkan modul lunar “Aquarius” sebagai sumber daya darurat. Modul yang sejatinya digunakan untuk pendaratan di Bulan itu menjadi “sekoci penyelamat” di luar angkasa.

Sementara itu, modul komando “Odyssey” dimatikan untuk menghemat energi yang tersisa, karena bagian tersebut akan menjadi kunci dalam proses masuk kembali ke atmosfer Bumi.

NASA kemudian merancang manuver berisiko tinggi: mengarahkan Apollo 13 mengitari Bulan sebelum menyalakan mesin pendorong untuk keluar dari orbit lunar dan kembali ke jalur menuju Bumi. Tidak ada rencana cadangan jika skenario ini gagal.

Jika berhasil, kapsul dijadwalkan mendarat di Samudra pada 17 April 1970.

Padahal, misi Apollo 13 awalnya dirancang sebagai pendaratan manusia ketiga di Bulan, dengan target wilayah Fra Mauro. James Lovell dan Fred Haise dijadwalkan melakukan eksperimen geologi selama 33 jam di permukaan Bulan, termasuk mengumpulkan sampel batuan untuk penelitian usia Bulan yang diperkirakan mencapai 4,5 miliar tahun.

Sementara itu, Jack Swigert bertugas mengemudikan modul komando di orbit Bulan. Ia menggantikan Thomas Mattingly hanya beberapa jam sebelum peluncuran, setelah Mattingly dinyatakan tidak memiliki kekebalan terhadap campak Jerman.

Insiden Apollo 13 kemudian dikenang sebagai “kegagalan yang berhasil”—sebuah krisis besar yang berujung pada penyelamatan dramatis, sekaligus menunjukkan kemampuan teknis dan ketangguhan manusia dalam menghadapi situasi paling ekstrem di luar angkasa.