Liputan6.com, Teheran - Pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) Bushehr, satu-satunya fasilitas nuklir yang masih beroperasi di Iran, dilaporkan menjadi sasaran serangan berulang dalam konflik yang sedang berlangsung antara Iran melawan Israel dan Amerika Serikat (AS). Serangan ini menimbulkan kekhawatiran luas akan potensi insiden nuklir yang disebut dapat berakibat "katastropik" bagi seluruh negara di kawasan Teluk.
Serangan terbaru terjadi pada Sabtu (4/4/2026), ketika rudal menghantam area dekat fasilitas tersebut. Menurut Organisasi Energi Atom Iran, satu petugas keamanan tewas dan sebuah bangunan samping mengalami kerusakan.
Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Abbas Araghchi dalam pernyataannya seperti dikutip dari Al Jazeera menyebut bahwa fasilitas Bushehr telah dibom sebanyak empat kali sejak konflik pecah pada 28 Februari. Ia mengkritik AS dan Israel atas apa yang disebutnya sebagai kurangnya perhatian terhadap keselamatan nuklir.
Advertisement
Apa Itu PLTN Bushehr?
PLTN Bushehr merupakan fasilitas nuklir yang terletak di kota pesisir Bushehr, yang dihuni sekitar 250.000 penduduk. Pembangunan awalnya dimulai pada 1975 oleh perusahaan Jerman, namun proyek tersebut baru selesai pada 2011 oleh Kementerian Energi Atom Rusia.
Ratusan personel Rusia ditempatkan di Bushehr, dengan sebagian di antaranya telah dievakuasi setelah serangan terbaru.
PLTN ini merupakan pembangkit listrik tenaga nuklir pertama di Timur Tengah dan saat ini memiliki satu reaktor aktif. Unit 1 Bushehr menyuplai sekitar 1.000 megawatt listrik ke jaringan nasional Iran. Dua unit tambahan direncanakan mulai beroperasi pada 2029.
Risiko PLTN Bushehr Diserang
Jika reaktor nuklir atau kolam penyimpanan bahan bakar nuklir bekas terkena serangan langsung maka dapat terjadi pelepasan partikel radioaktif, termasuk isotop berbahaya seperti Caesium-137, ke atmosfer.
Zat radioaktif tersebut dapat menyebar melalui angin dan air, mencemari tanah, makanan, dan sumber air selama puluhan tahun. Paparan langsung dapat menyebabkan luka bakar pada kulit serta meningkatkan risiko kanker.
Peringatan dari Badan Nuklir PBB
International Atomic Energy Agency (IAEA), badan pengawas nuklir PBB, telah lama memperingatkan bahaya penargetan fasilitas ini.
Direktur Jenderal IAEA Rafael Grossi sebelumnya mengatakan kepada Dewan Keamanan PBB bahwa serangan terhadap Bushehr dapat memicu bencana regional.
Ia memperingatkan bahwa serangan langsung dapat menyebabkan pelepasan radioaktivitas dalam jumlah besar dengan dampak luas hingga melampaui wilayah Iran. Bahkan, serangan terhadap jalur listrik yang memasok sistem pendingin reaktor dapat memicu pelelehan inti reaktor (meltdown).
Dalam skenario tersebut, evakuasi harus dilakukan dalam radius ratusan kilometer, termasuk ke negara-negara tetangga. Penduduk juga perlu diberikan tablet yodium dan pembatasan konsumsi makanan kemungkinan harus diberlakukan akibat kontaminasi.
Ancaman terhadap Air di Kawasan Teluk
Kerusakan pada Bushehr berpotensi pula mencemari perairan Teluk. Radiasi dapat berdampak pada ekosistem laut dan karena perairan Teluk relatif dangkal, efeknya dapat bertahan lama.
Hal ini sangat mengkhawatirkan karena banyak negara Teluk bergantung pada air hasil desalinasi laut. Namun, instalasi desalinasi umumnya tidak dirancang untuk menyaring bahan radioaktif.
Menurut Alan Eyre dari Middle East Institute, risiko utama bukan hanya dampak seperti tragedi Chernobyl, tetapi kontaminasi air yang dapat menghentikan proses desalinasi secara total.
Perdana Menteri Qatar Mohammed bin Abdulrahman bin Jassim Al Thani bahkan menyatakan bahwa simulasi pemerintah menunjukkan bahwa serangan terhadap Bushehr dapat membuat seluruh laut tercemar dan negara kehabisan air dalam tiga hari.
"Tidak ada air, tidak ada ikan, tidak ada kehidupan," ujarnya.
Advertisement
Hukum yang Melarang Serangan Ini
Hukum internasional melarang penargetan fasilitas nuklir sipil. Berdasarkan Protokol I Pasal 56 dari Konvensi Jenewa, fasilitas yang mengandung "kekuatan berbahaya" seperti instalasi nuklir tidak boleh diserang.
Serangan terhadap fasilitas tersebut, jika dilakukan dengan mengetahui bahwa hal itu dapat menyebabkan kerugian besar terhadap manusia dan lingkungan, merupakan kejahatan perang.
IAEA pun sudah menetapkan pedoman yang melarang serangan terhadap reaktor dan bahan bakar nuklir, serta mewajibkan perlindungan terhadap staf dan sistem pendingin.
Perbandingan dengan Kasus Ukraina
Menlu Araghchi menyoroti perbedaan respons Barat terhadap situasi ini dibandingkan dengan insiden di PLTN Zaporizhzhia di Ukraina.
Saat Rusia menyerang fasilitas tersebut pada Maret 2022, berbagai negara Barat segera mengecam dan bahkan menggelar sidang darurat Dewan Keamanan PBB. NATO juga memperingatkan bahwa dampak radiasi terhadap negara anggotanya dapat memicu respons kolektif.
Namun, dalam kasus Bushehr, Uni Eropa belum memberikan pernyataan resmi. Sementara itu, Rusia telah mengecam serangan tersebut dan menyebutnya sebagai tindakan keji.
Sejarah Kecelakaan Nuklir Besar
Dunia telah menyaksikan beberapa bencana nuklir besar sebelumnya.
Pada 2011, bencana Fukushima nuclear disaster terjadi di Jepang setelah gempa bumi memicu kegagalan sistem reaktor. Sekitar 160.000 orang dievakuasi.
Sementara itu, bencana Chernobyl pada 1986 menyebabkan ledakan reaktor yang melepaskan radiasi dalam jumlah besar. Sekitar 30 orang tewas segera setelah kejadian, dan puluhan ribu lainnya kemudian menderita kanker tiroid. Lebih dari 300.000 orang harus meninggalkan rumah mereka dan wilayah tersebut hingga kini masih sebagian besar tidak berpenghuni.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9296274/original/073062000_1784009598-cek_fakta_-_pendamping_desa.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9296218/original/017054600_1784007463-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-07-14T123701.052.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9296017/original/033910000_1784000101-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-07-14T103335.623.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5379728/original/080061400_1760356827-20251013_140108.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5547451/original/017189300_1775459461-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1411708/original/048619800_1479708636-Iran.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1411598/original/098494900_1479704927-Amerika_Serikat.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9296024/original/097611600_1784000800-000_B9FB274.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9294052/original/078184700_1783778533-adams_1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9293767/original/045633200_1783749356-Alexander_Sorloth.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260364/original/000638100_1781588460-spanyol_2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8710891/original/090798400_1782791218-WhatsApp_Image_2026-06-30_at_10.43.25__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8625301/original/096522400_1782619158-000_B8K37NR.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8776165/original/067157000_1782861161-mbappe.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8625483/original/070181900_1782619556-000_B8K37NR.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9295984/original/006342200_1783998580-000_B8H387Q.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8869219/original/061225400_1782930973-ko4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261544/original/016069100_1781743382-inggris.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9110984/original/061131000_1783049682-lamine.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5516526/original/082099100_1772322543-3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5563532/original/083842700_1776904085-AP26108447222186.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1694576/original/098412300_1503994463-20170829-Saham-Akibat-Rudal-Korut-AP3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5522304/original/046186800_1772753122-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9295877/original/092669600_1783988616-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8258069/original/058566900_1781312784-AP26162502155547.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4826292/original/095830100_1715176226-fotor-ai-20240508204955.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5516473/original/017053500_1772306812-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9290338/original/083924200_1783473452-Untitled.jpg)