Mantan Kepala Intelijen Inggris: Iran Lebih Tangguh dari Perkiraan, Opsi AS dan Israel Terbatas

Kenapa Iran bisa disebut lebih tangguh? Berikut penjelasan Younger.

Diterbitkan 26 Maret 2026, 10:13 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, London - Mantan kepala badan intelijen luar negeri Inggris, MI6, Alex Younger, menilai bahwa rezim Iran jauh lebih kuat dan tahan menghadapi tekanan dibandingkan perkiraan banyak pihak.

Dalam wawancara dengan The Economist pada Rabu (25/3/2026), Younger mengatakan bahwa Amerika Serikat (AS) telah meremehkan situasi. Ia menyebut sekitar dua minggu lalu, AS mulai kehilangan kendali atas arah konflik, sehingga Iran kini berada dalam posisi yang lebih menguntungkan.

Menurut Younger, salah satu kunci kekuatan Iran adalah keputusan strategis yang diambil sejak Juni tahun lalu. Iran tidak memusatkan kekuatan militernya di satu tempat, melainkan menyebarkannya ke berbagai lokasi. Selain itu, Iran juga memberikan kewenangan kepada komandan di lapangan untuk mengambil keputusan penggunaan senjata. Dengan cara ini, meski terjadi serangan besar, kemampuan militer mereka tidak mudah lumpuh.

"Dalam praktiknya, rezim Iran terbukti lebih tangguh dari yang diperkirakan siapa pun," ujar Younger.

Strategi "eskalasi horizontal" Iran, yaitu menyerang berbagai target yang berada dalam jangkauan, dinilai Younger efektif memberi tekanan langsung kepada AS.

Selain itu, Iran dinilai memahami pentingnya aspek "perang energi" dengan mempertahankan ancaman terhadap jalur laut strategis seperti Selat Hormuz, yang menjadi jalur utama pengiriman minyak dunia, sehingga berdampak langsung pada pasokan energi global. Hal ini membuat konflik tidak hanya terbatas di satu wilayah, tetapi meluas secara global.

Younger menyebut Iran berhasil memainkan posisi yang sebenarnya lemah dengan sangat baik. Ia menggarisbawahi bahwa bagi Iran, konflik ini adalah soal bertahan hidup sebagai negara. Sementara bagi AS, konflik ini merupakan pilihan.

Terkait serangan drone, Younger mengatakan bahwa serangan tersebut merupakan operasi militer dari udara yang hampir dieksekusi secara sempurna. Namun, ia menegaskan bahwa ancaman seperti itu tidak akan pernah bisa ditekan hingga nol.

"Saya kira pilihan yang dimiliki AS dan Israel sangat terbatas dan tidak ideal," tambahnya.