Trump Bicara soal Mengambil Alih Kuba: Saya Bisa Melakukan Apa Saja

Trump menyebut Kuba sebagai negara yang saat ini berada dalam kondisi sangat lemah.

Diterbitkan 17 Maret 2026, 10:59 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Kolombo - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump pada Senin (16/3/2026) menyatakan akan menjadi sebuah "kehormatan" baginya untuk mengambil alih Kuba. Pernyataan tersebut muncul ketika pemerintahannya sedang menekan rezim komunis di Havana melalui kebijakan blokade bahan bakar.

Trump menyampaikan pernyataan itu kepada para wartawan dari Ruang Oval di Gedung Putih. Dalam kesempatan tersebut, ia tidak menutup kemungkinan adanya langkah militer terhadap negara kepulauan di Karibia itu.

"Saya pikir saya bisa melakukan apa saja yang saya inginkan dengan itu," kata Trump seperti dikutip dari laporan The Hill. "Apakah saya membebaskannya atau mengambilnya, saya pikir saya bisa melakukan apa saja dengan itu."

Pernyataan tersebut disampaikan pada hari yang sama ketika Kuba mengalami pemadaman listrik besar-besaran. Pemadaman itu menyebabkan sekitar 11 juta penduduk di negara pulau tersebut mengalami kegelapan.

Situasi ini terjadi setelah pemerintah AS pada akhir Januari memberlakukan blokade minyak terhadap Kuba, memutus pasokan utama minyak dari Venezuela yang selama ini menjadi sumber energi penting bagi negara tersebut.

Para ahli memperingatkan bahwa Kuba diperkirakan hanya memiliki cadangan bahan bakar yang cukup hingga pertengahan Maret. Mereka juga menilai bahwa kebijakan blokade minyak tersebut memperburuk krisis kemanusiaan yang telah terjadi akibat puluhan tahun salah pengelolaan dan korupsi oleh rezim komunis di Havana.

Dalam kondisi tersebut, Trump disebut sedang berupaya menekan Presiden Kuba Manuel Diaz-Canel agar mencapai kesepakatan dengan AS. Namun hingga kini pemerintah Trump belum memberikan rincian mengenai syarat atau isi dari kesepakatan yang diinginkan.

Trump sendiri menggambarkan Kuba sebagai negara yang gagal. Ia mengatakan negara tersebut tidak memiliki uang, minyak, maupun sumber daya yang cukup, meskipun memiliki tanah yang bagus, pemandangan yang indah, serta merupakan sebuah pulau yang cantik.

Sejumlah anggota parlemen AS yang bersikap keras terhadap Kuba menyatakan dukungannya terhadap kemungkinan runtuhnya rezim yang berkuasa di negara tersebut. Mereka berharap akan terjadi transisi menuju sistem demokrasi.

Di Kuba sendiri, protes terhadap pemerintah dilaporkan semakin meningkat.

Menanggapi situasi ini, Wakil Perdana Menteri Kuba Oscar Perez-Oliva Fraga pada Senin mengatakan kepada NBC News bahwa Kuba terbuka untuk menjalin hubungan komersial yang lebih lancar dengan perusahaan-perusahaan AS.

Ia juga menyatakan bahwa Kuba siap membuka hubungan bisnis dengan warga Kuba yang tinggal di AS serta keturunan mereka.

Â