Survei di Korea Selatan: 4 dari 10 Warganya Main Instagram Cuma untuk Flexing

Survei ini dilakukan oleh firma riset pasar di Korea Selatan bernama Embrain Trend Monitor. Bagaimana cara kerjanya?

Diterbitkan 24 Februari 2026, 18:35 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Seoul - Survei yang dilakukan oleh firma riset pasar bernama Embrain Trend Monitor dari Korea Selatan, menemukan kajian yang mengejutkan.

Studi yang dirilis pada 23 Februari 2026 itu menujukkan bahwa sekitar 4 dari 10 orang masih menggunakan media sosial untuk memamerkan kehidupan pribadi, demikian dikutip dari laman Straitstimes, Selasa (24/2/2026).

Embrain Trend Monitor melakukan kajian ini terhadap 1.000 orang dewasa yang berumur sekitar 19 hingga 59 tahun. Syaratnya, memiliki akun media sosial.

Hasilnya, menunjukkan sebanyak 39 persen dari mereka mengaku tujuan utama mengunggah postingan di Instagram (IG) hanya untuk pamer.

Sementara itu, 32,7 persen lainnya beralasan untuk mendokumentasikan kehidupan sehari-hari, serta 28,3 persen lainnya menggunakan IG untuk berbagi informasi.

Meskipun keinginan untuk flexing masih kukuh, tren mencari validasi terlihat menurun.

Terbukti dari proporsi individu yang mengaku bahwa mengunggah konten agar mendapatkan ulasan positif turun menjadi 24,5 persen pada tahun 2026, dari sebelumnya 39,6 persen pada tahun 2015.

Responden yang menegaskan bahwa mereka yang mengunggah konten untuk menuai empati dari orang lain juga mengalami penurunan sebesar 18,5 persen. Dari 41,2 persen menjadi 22,7 persen. Selain itu, hanya 30 persen responden yang mengaku khawatir jika unggahan mereka memperoleh jumlah likes atau komentar yang lebih sedikit dari yang diharapkan.

Laporan ini juga menyoroti adanya kesenjangan yang terjadi antara realita dengan dunia digital. Mayoritas responden (72,9 persen) memperhatikan banyaknya perilaku pamer di media sosial. Sementara, 65 persen lainnya berpendapat bahwa pengguna lebih memilih untuk menampilkan momen momen bahagia saja.

 

 

Upaya untuk Memukau Orang Lain

Fenomena ini tidak terjadi begitu saja. Berdasar pada budaya masyarakat yang sangat memperdulikan opini orang lain (social conciousness) yang di dorong oleh tiga faktor utama.

Yaitu, sebanyak 68,3 persen responden berusaha sekeras mungkin agar tidak terlihat "aneh" atau negatif di mata publik.

Sekitar 67,6 persen dari mereka memposting di media sosial agar terlihat memukau sehingga mendapatkan pengakuan atau meningkatkan reputasi mereka di tempat kerja atau sekolah mereka. Sementara 66,1 persen lainnya ingin meninggalkan kesan positif pada orang lain.Â