Media Israel Soroti Indonesia Jadi Kontributor Pertama Misi Penjaga Perdamaian di Gaza

Bagaimana laporan media Israel terkait isu ini? Berikut selengkapnya.

Diterbitkan 11 Februari 2026, 20:02 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Indonesia akan menjadi negara pertama yang berkontribusi dalam Pasukan Stabilisasi Internasional (International Stabilization Force/ISF) yang akan menangani aspek penjagaan perdamaian di Jalur Gaza selama fase kedua gencatan senjata yang digagas oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Demikian seperti dilaporkan oleh media Israel The Jerusalem Post mengutip Channel 11 pada Senin (9/2/2026).

Dalam beberapa bulan terakhir, Indonesia menjadi salah satu negara yang disebut-sebut sebagai calon kontributor dalam gugus tugas ISF bersama sejumlah negara lain seperti Uni Emirat Arab, Mesir, Italia, Azerbaijan, Pakistan, Qatar, dan Turki. Selain Indonesia, belum ada negara yang melangkah dari sekadar komitmen umum menuju kesiapan konkret untuk mengerahkan pasukan.

Menurut laporan Channel 11, tidak lama setelah Presiden Prabowo Subianto menghadiri pertemuan Dewan Perdamaian yang digelar Presiden Trump di Washington pada 19 Februari, pasukan Indonesia kemungkinan besar akan segera dikerahkan ke Gaza.

Baik ISF secara umum maupun Indonesia secara khusus, sebut laporan media Israel, diperkirakan tidak akan berkonfrontasi langsung dengan Hamas ataupun secara proaktif berupaya melucuti persenjataan kelompok tersebut. Sebaliknya, mereka diharapkan untuk mengawasi garis-garis gencatan senjata yang saat ini berlaku dan, apabila diperlukan, menangani berbagai persoalan lain yang berkaitan dengan wilayah perbatasan.

Militer Indonesia kemungkinan besar disebut akan dimobilisasi di sekitar wilayah Khan Younis dan Rafah, yang terletak di bagian selatan Gaza.

Dalam beberapa pekan mendatang, masih terdapat sejumlah persoalan kompleks yang perlu diselesaikan, termasuk penetapan aturan pelibatan apabila Hamas melakukan kontak dengan kontingen Indonesia dalam ISF. Jumlah personel Indonesia yang akan bergabung juga masih menjadi pertanyaan, meskipun terdapat perkiraan jumlahnya bisa mencapai ribuan atau bahkan lebih.

Lebih lanjut, masih belum dapat dipastikan negara mana saja yang akan mengikuti langkah Indonesia serta kapan keputusan tersebut akan diambil.

Terakhir, apabila Hamas belum memulai proses pelucutan senjata secara serius hingga awal Mei—bertepatan dengan tenggat 100 hari pemerintahan Presiden Trump—maka belum jelas apakah ISF akan tetap berlanjut atau justru Israel akan kembali melancarkan operasi darat besar-besaran di Gaza.

Media Israel lainnya Ynet Global turut melaporkan hal serupa dengan tajuk "Indonesia prepares up to 8,000 troops for possible Gaza mission, first state to signal participation" atau "Indonesia menyiapkan hingga 8.000 personel untuk kemungkinan misi di Gaza, sekaligus menjadi negara pertama yang memberi sinyal partisipasi".

Penjelasan Mensesneg

Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menyatakan pemerintah Indonesia tengah mematangkan rencana pengiriman pasukan penjaga perdamaian sebagai bagian dari komitmen dalam BoP.

Ia menyebut saat ini proses pengiriman pasukan masih dalam pembahasan. Namun, Prasetyo memperkirakan jumlah personel yang dikirim kurang lebih 8.000 prajurit TNI.

"Sedang dibicarakan, tapi ada kemungkinan kita akan kurang lebih di angka 8.000," ujar Prasetyo di Jakarta, Selasa (10/2), seperti dikutip dari kantor berita Antara.

Terkait informasi bahwa wilayah Rafah menjadi salah satu opsi penempatan, Prasetyo menyebut bahwa keputusan tersebut belum final.

"Kita baru mempersiapkan diri, sewaktu-waktu sudah ada kesepakatan, kita harus mengirim pasukan perdamaian sebagai sebuah komitmen. Itu akan kita lakukan," terangnya.

Mensesneg menegaskan bahwa keterlibatan Indonesia dalam BoP merupakan bagian dari komitmen bangsa terhadap perjuangan Palestina, khususnya dalam mendukung pengakuan kemerdekaan Palestina dan membantu meringankan penderitaan warga Gaza.

Lebih lanjut, Prasetyo menyampaikan bergabungnya Indonesia dalam BoP bersama tujuh negara muslim lainnya, diharapkan dapat menurunkan eskalasi konflik dan membuka akses bantuan kemanusiaan ke wilayah Gaza.

"Setidaknya kita berharap akan mengurangi eskalasi konflik yang ada di Gaza, sehingga saudara-saudara kita berkurang penderitaannya. Dengan sekarang proses tersebut, bantuan-bantuan makanan bisa masuk ke Gaza. Yang ini kita berharap meringankan beban saudara-saudara kita," tutur Prasetyo.

Adapun terkait iuran keanggotaan Indonesia di BoP, Prasetyo menyebut hingga kini belum dibayarkan. Menurutnya, hal tersebut masih menunggu proses teknis dan prosedur kenegaraan.

"Belum (bayar iuran). Nanti kan ada teknisnya, urusan negara itu kan tidak mudah. Ada prosedurnya, ada tahapannya," imbuhnya.