Jepang Catat 30 Korban Tewas Akibat Salju Lebat

Udara dingin ekstrem memicu salju lebat di pesisir Laut Jepang dalam beberapa pekan terakhir. Sejumlah daerah mencatat curah salju lebih dari dua kali lipat.

Diterbitkan 03 Februari 2026, 17:14 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Tokyo - Salju tebal yang tidak biasa di Jepang telah menyebabkan sedikitnya 30 orang meninggal dalam dua pekan terakhir. Demikian menurut keterangan para pejabat pada Selasa (3/2/2026). 

Pemerintah pusat Jepang telah mengerahkan pasukan militer untuk membantu warga di Prefektur Aomori, wilayah yang paling parah terdampak. Di sejumlah daerah terpencil di wilayah tersebut, ketebalan salju yang masih tersisa dilaporkan mencapai hingga 4,5 meter.

Perdana Menteri Sanae Takaichi pada Selasa pagi menggelar rapat khusus setingkat kabinet. Dalam pertemuan tersebut, ia menginstruksikan para menteri untuk melakukan segala upaya yang diperlukan guna mencegah jatuhnya korban jiwa dan terjadinya kecelakaan lebih lanjut akibat kondisi cuaca ekstrem ini.

Salju lebat tersebut dipicu oleh massa udara dingin yang sangat kuat, yang dalam beberapa pekan terakhir menyebabkan hujan salju intens di sepanjang pesisir Laut Jepang. Beberapa wilayah dilaporkan menerima curah salju lebih dari dua kali lipat dibandingkan jumlah normal pada periode yang sama.

Berdasarkan data Badan Penanggulangan Kebakaran dan Bencana Jepang, sejak 20 Januari hingga Selasa, sebanyak 30 orang meninggal dunia akibat dampak langsung dari salju tebal tersebut.

Salah satu korban adalah Kina Jin, perempuan berusia 91 tahun, yang ditemukan meninggal dunia di rumahnya di Ajigasawa, Prefektur Aomori. Seorang pejabat kepolisian setempat mengatakan kepada AFP bahwa korban ditemukan tertimbun salju sekitar tiga meter.

Polisi meyakini bahwa salju yang menumpuk di atap rumah korban runtuh dan menimpanya. Penyebab kematian korban dipastikan akibat sesak napas. Di dekat jasad korban, petugas menemukan sebuah sekop aluminium.

"Ketika suhu mulai menghangat, salju yang menumpuk akan mencair dan jatuh. Hal ini bergantung pada volume salju dan suhu udara. Area tepat di bawah atap merupakan tempat yang berbahaya," ujar pejabat kepolisian tersebut kepada AFP.

Gubernur Prefektur Aomori Soichiro Miyashita pada Senin mengatakan bahwa dirinya telah meminta bantuan militer Jepang untuk memberikan bantuan penanggulangan bencana. Ia juga meminta agar pasukan membantu para lansia yang tinggal sendirian dan membutuhkan bantuan untuk membersihkan salju di sekitar tempat tinggal mereka.

Menurut Gubernur Miyashita, dinding-dinding salju setinggi hingga 1,8 meter masih menutupi permukaan tanah di Kota Aomori, ibu kota prefektur tersebut. Ia menambahkan bahwa para pekerja lokal yang bertugas membersihkan salju dari jalan dan rumah-rumah kewalahan menghadapi kondisi tersebut.

"Ancaman terjadinya insiden yang mengancam nyawa, seperti kecelakaan fatal akibat runtuhan salju dari atap atau robohnya bangunan, berada pada tingkat yang sangat mengkhawatirkan," ujarnya dalam sebuah konferensi pers.