Epstein Sebut Penguasa UEA Menjebak Putra Mahkota Arab Saudi dalam Kasus Pembunuhan Khashoggi

Pembunuhan Khashoggi yang disinggung Epstein mengguncang dunia karena terjadi di dalam gedung perwakilan diplomatik sebuah negara asing.

Diterbitkan 03 Februari 2026, 12:04 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Washington, DC - Dokumen korespondensi yang baru dirilis sebagai bagian dari Epstein Files mengungkap adanya pertukaran pesan antara terpidana kasus kejahatan seksual Jeffrey Epstein dan sejumlah kontaknya pada hari-hari setelah pembunuhan jurnalis Arab Saudi, Jamal Khashoggi, di Istanbul, Turki.

Pesan-pesan tersebut dipublikasikan pada Jumat (30/1/2026) malam sebagai bagian dari kumpulan dokumen yang lebih luas, dengan total sekitar tiga juta dokumen. Di dalamnya termasuk percakapan antara Epstein dan seorang pria bernama Anas al-Rashid.

Khashoggi dibunuh di dalam Konsulat Arab Saudi di Istanbul pada 2 Oktober 2018. Intelijen Amerika Serikat (AS) kemudian menyimpulkan bahwa Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman (MBS) menyetujui operasi pembunuhan tersebut.

Pada 12 Oktober 2018, kasus ini telah berkembang menjadi krisis internasional dan memicu kecaman global atas pembunuhan brutal terhadap kontributor Middle East Eye dan kolumnis Washington Post tersebut.

Dalam sebuah pesan tertanggal 12 Oktober 2018, Anas al-Rashid menggambarkan pembunuhan itu sebagai "ugly .. very ugly" atau "buruk .. sangat buruk". Demikian seperti dikutip dari laporan Middle East Eye.

Epstein membalas pesan tersebut dengan mengatakan, "smells like something bigger to me. I wouldnt be surprised if MBZ set him up", yang berarti ia mencium adanya sesuatu yang lebih besar dan menyatakan tidak akan terkejut jika Mohammed bin Zayed (MBZ), penguasa Uni Emirat Arab (UEA), berada di balik kejadian tersebut. Al-Rashid merespons singkat dengan, "mmmmmm".

Ketika Epstein meminta penjelasan lebih lanjut, Al-Rashid menulis bahwa situasinya sulit dipastikan, seraya menyebut bahwa informasi bocor secara terencana dan disebarkan dengan sangat cepat. Ia juga memperingatkan bahwa krisis tersebut telah berubah menjadi perang citra di media internasional. 

"Ini sekarang adalah perang media. Saya pikir Saudi sedang kehilangan Trump jika mereka tidak mulai membela diri. Pertahanan terbaik adalah kebenaran meskipun itu buruk, menurut pendapat saya," tulis al-Rashid dalam pesan tersebut.

 

Permintaan Bertemu dari MBZ

Dalam email lanjutan lain yang termasuk dalam dokumen, Epstein menyatakan sebuah "sumber sekunder" memberitahunya bahwa salah satu peserta dalam operasi pembunuhan merekam sebuah video menggunakan ponsel sebelum perangkat tersebut diretas dan rekamannya diperoleh.

Korespondensi tersebut tidak mengidentifikasi pihak yang meretas ponsel tersebut.

Pada 13 Oktober 2018, Epstein kembali mengajukan sejumlah pertanyaan dalam pertukaran pesan lain. Ia membahas kemungkinan Jamal Khashoggi dilabeli sebagai "teroris", serta mengemukakan skenario bahwa operasi rahasia yang ditujukan terhadap Khashoggi gagal atau berubah menjadi jebakan yang dirancang sejak awal, sambil berulang kali menyebut nama MBZ. 

Pada malam yang sama, dokumen menunjukkan bahwa Epstein menerima pesan dari seorang kenalan yang namanya disamarkan. Dalam pesan itu disebutkan bahwa MBZ meminta pertemuan yang bersifat "mendesak", dengan rencana keberangkatan keesokan paginya.

Secara terpisah, sebuah memo FBI yang juga dirilis pada Jumat malam menyatakan bahwa Epstein bekerja sama dengan intelijen AS dan Israel. Memo tersebut menyebutkan bahwa Epstein memiliki kedekatan dengan mantan Perdana Menteri Israel Ehud Barak dan dilaporkan pernah dilatih sebagai mata-mata di bawah bimbingannya.