Trump Berupaya Redakan Krisis Pasca Penembakan Minneapolis

Penembakan di Minneapolis telah memancang gelombang kemarahan rakyat AS, sementara respons Trump justru memanaskan situasi.

Diterbitkan 29 Januari 2026, 10:55 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Washington, DC - Pemerintahan Presiden Donald Trump pada Rabu (28/1/2026) menyatakan bahwa dua agen imigrasi yang terlibat dalam penembakan fatal terhadap seorang warga sipil di Minneapolis, Minnesota, telah ditempatkan dalam status cuti. Pernyataan itu disampaikan di tengah kritik keras Trump terhadap wali kota Minneapolis.

Pejabat Amerika Serikat (AS) seperti dilaporkan AFP mengatakan bahwa kedua agen tersebut telah diberi cuti sejak Sabtu (24/1), menyebut langkah itu sebagai "protokol standar". Pada hari itu, Alex Pretti, seorang perawat unit perawatan intensif, ditembak beberapa kali setelah dijatuhkan ke tanah secara paksa oleh petugas berseragam kamuflase. Insiden tersebut terjadi dalam sebuah perkelahian yang terekam dalam video dan beredar luas. 

Pada Selasa (27/1) sebelumnya, Presiden Trump menyatakan ingin sedikit meredakan situasi di Minneapolis, yang menjadi pusat ketegangan akibat kebijakan keras pemerintahannya terkait penindakan imigrasi.

Namun, pada Rabu, presiden dari Partai Republik berusia 79 tahun itu justru menyerang Wali Kota Minneapolis Jacob Frey dengan menuding penolakannya untuk bekerja sama dengan otoritas federal dalam memburu imigran ilegal sebagai "pelanggaran hukum yang sangat serius".

Trump menuduh Frey "bermain api", seperti yang ia sampaikan melalui media sosial.

Penembakan fatal terhadap Pretti menuai kecaman luas dari berbagai kalangan politik, meskipun pada awalnya pejabat Gedung Putih berupaya membenarkan tindakan tersebut. Untuk meredam reaksi publik, Trump kemudian merombak kepemimpinan agen imigrasi yang dikerahkan di Minneapolis.

Ia mengganti Greg Bovino, sosok yang dikenal konfrontatif dan kerap membanggakan operasi penindakan imigrasi agresif di televisi, dengan pejabat yang lebih berfokus pada kebijakan, yakni "tsar perbatasan" Tom Homan.

Seorang pejabat tinggi lainnya, Jaksa Agung Pam Bondi, berada di Minneapolis pada Rabu. Dalam kunjungannya, ia mengumumkan penangkapan 16 orang yang disebut sebagai "perusuh" di Minnesota atas dugaan penyerangan terhadap aparat penegak hukum federal.

 

 

 

 

Amarah Publik

Meski Gedung Putih menegaskan bahwa operasi penindakan imigrasi federal itu menargetkan para penjahat berbahaya, penggunaan petugas bertopeng dan bersenjata berat untuk menangkap orang-orang di jalan, rumah, dan tempat kerja telah menimbulkan keterkejutan luas di masyarakat. 

Keterkejutan itu berubah menjadi kemarahan bulan ini setelah agen imigrasi menembak mati dua demonstran di Minneapolis dalam insiden terpisah dengan jarak sangat dekat. Korban lainnya adalah Renee Good. Baik Pretti maupun Good merupakan warga negara AS.

Penasihat utama Trump, Stephen Miller, awalnya membenarkan penembakan Pretti dengan menyebutnya sebagai "calon pembunuh", meskipun bukti video dengan jelas menunjukkan bahwa pria berusia 37 tahun itu tidak menimbulkan ancaman saat ditembak. Pada Selasa malam, Miller mengakui bahwa agen Bea Cukai dan Perlindungan Perbatasan yang menewaskan Pretti "mungkin tidak mengikuti protokol."

Dalam upaya menjauhkan diri dari dampak politik, Trump juga menyampaikan nada yang lebih damai pada Selasa. Namun, ia menegaskan tidak ada rencana untuk melakukan "penarikan pasukan" dan menolak seruan agar mencopot Menteri Keamanan Dalam Negeri Kristi Noem, yang merupakan sekutu setianya.

Pertarungan politik diperkirakan akan bergeser ke Kongres, di mana Partai Demokrat mengancam akan menahan persetujuan pendanaan bagi sejumlah besar lembaga pemerintah AS jika tidak ada reformasi untuk mengekang badan-badan imigrasi bergaya militer tersebut.

Sementara itu, presiden konferensi uskup Katolik Roma di AS pada Rabu menyerukan kepada para imam untuk mengadakan waktu doa menyusul penembakan fatal di Minneapolis.

 

Politikus Imigran Diserang

Fokus Trump pada Minnesota terkait dengan penyelidikan dugaan korupsi oleh imigran Somalia di negara bagian tersebut, yang ia dan sekutu sayap kanannya angkat sebagai contoh dari apa yang mereka sebut sebagai upaya memerangi imigran kriminal.

Presiden secara khusus menjadikan anggota Kongres kelahiran Somalia, Ilhan Omar, sebagai sasaran serangan. Ia kerap menghina Omar dalam pidato-pidatonya dan menyatakan bahwa ia seharusnya dikirim kembali ke Somalia.

Dalam tanda terbaru memburuknya iklim politik, seorang pria menyemprotkan cairan ke arah Omar saat ia memberikan pidato pada Selasa malam, sebelum akhirnya diamankan oleh petugas keamanan. Tersangka, pria berusia 55 tahun bernama Anthony Kazmierczak, ditangkap atas dugaan penyerangan. CNN mengutip sumber penegak hukum melaporkan bahwa cairan tersebut kemungkinan adalah cuka sari apel.

"Ini adalah kenyataan yang tidak dipahami oleh orang-orang seperti pria buruk rupa ini—kami kuat sebagai warga Minnesota dan akan tetap tangguh menghadapi apa pun yang mereka lemparkan kepada kami," ujar Omar di hadapan para konstituennya.