Bayi Baru Lahir Jadi Anak Kedelapan yang Meninggal Akibat Hipotermia di Gaza

Gencatan senjata mungkin menurunkan tensi ketegangan, namun maut masih membayangi warga Gaza melalui krisis kesehatan, cuaca ekstrem, kelangkaan pangan, dan kondisi pengungsian yang tidak layak.

Diterbitkan 18 Januari 2026, 15:20 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Gaza - Seorang bayi perempuan berusia 27 hari meninggal dunia di Gaza pada Sabtu (17/1/2026) akibat cuaca dingin ekstrem. Menurut otoritas kesehatan setempat, kematian ini menambah jumlah anak yang meninggal karena hipotermia di wilayah tersebut sejak awal musim dingin saat ini menjadi delapan orang.

Sumber medis mengonfirmasi kepada kantor berita Anadolu bahwa bayi bernama Aisha Ayesh al-Agha meninggal akibat suhu yang sangat rendah. Saat dibawa ke Rumah Sakit Nasser di Khan Younis, nyawa bayi tersebut tidak lagi dapat diselamatkan. Tidak ada keterangan lebih lanjut yang diungkapkan mengenai kondisi bayi sebelum meninggal dunia.

Dua laporan terbaru dari Physicians for Human Rights, yang disusun bersama Global Human Rights Clinic di Fakultas Hukum Universitas Chicago serta Physicians for Human Rights-Israel, seperti dikutip dari laporan The Guardian mendokumentasikan dampak perang terhadap tingginya angka kematian ibu dan bayi baru lahir.

Dalam laporan itu disebutkan bahwa antara Januari hingga Juni 2025 terjadi 2.600 keguguran, 220 kematian terkait kehamilan, 1.460 kelahiran prematur, lebih dari 1.700 bayi lahir dengan berat badan rendah, serta lebih dari 2.500 bayi yang membutuhkan perawatan intensif neonatal.

Para ibu di Gaza disebut terpaksa menghadapi pilihan-pilihan yang tidak terbayangkan, dengan secara rutin mengorbankan kesehatan dan keselamatan mereka sendiri demi memenuhi kebutuhan paling dasar anak-anak mereka. Layanan kesehatan ibu dan bayi dilaporkan lumpuh akibat kekurangan bahan bakar, terhambatnya pasokan medis, pengungsian massal, serta pengeboman yang terus berlangsung. Dalam kondisi tersebut, berpindah ke kamp-kamp pengungsian berupa tenda yang padat menjadi satu-satunya pilihan yang tersisa.

Krisis Kemanusiaan Belum Berakhir

Pada bulan-bulan pertama tahun 2025, tercatat sekitar 17.000 kelahiran di Gaza. Angka ini menunjukkan penurunan sebesar 41 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun 2022.

Situasi kehidupan di Gaza tetap berada dalam kondisi yang sangat rentan. Juru bicara UNICEF James Elder menyatakan bahwa lebih dari 100 anak telah terbunuh di wilayah tersebut sejak gencatan senjata mulai berlaku pada Oktober tahun lalu. Meskipun intensitas serangan udara dan tembakan dilaporkan menurun, keduanya belum sepenuhnya berhenti.

Krisis kemanusiaan semakin diperparah oleh badai yang terjadi belakangan ini. Badai tersebut menyebabkan korban jiwa dan banjir di kamp-kamp pengungsian yang sudah melampaui kapasitas. Angin musim dingin yang kencang dilaporkan merobohkan dinding hingga menimpa tenda-tenda rapuh milik warga Palestina yang mengungsi pada Selasa (13/1), menewaskan sedikitnya empat orang.

Otoritas kesehatan Gaza juga menyampaikan bahwa pada Selasa malam, seorang bayi lain berusia satu tahun meninggal dunia akibat hipotermia.

Berdasarkan data otoritas kesehata Gaza, sejak gencatan senjata diberlakukan, sedikitnya 464 warga Palestina dilaporkan tewas dan hampir 1.280 lainnya mengalami luka-luka akibat serangan Israel.