17 Januari 1995: Gempa Dahsyat Magnitudo 7,2 Guncang Kobe, Infrastruktur Lumpuh dan Ratusan Tewas

Sebanyak 13.000 orang terluka dan lebih dari 120.000 bangunan hancur akibat gempa di Kobe yang juga melumpuhkan aktivitas warga terhadap kebutuhan sehari-hari.

Diterbitkan 17 Januari 2026, 06:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Tokyo - Kota pelabuhan Kobe, Jepang, diguncang gempa bumi dahsyat berkekuatan 7,2 magnitudo pada 17 Januari 1995. Gempa tersebut menyebabkan kerusakan parah pada infrastruktur vital, memutus aliran listrik, serta meruntuhkan bangunan dan jalur transportasi di kota berpenduduk sekitar 1,5 juta jiwa itu.

Guncangan kuat membuat kepanikan meluas. Jaringan komunikasi lumpuh akibat pemadaman listrik yang berdampak pada sekitar satu juta warga. Kerusakan pada pipa gas dan saluran air semakin memperparah kondisi, membuat banyak warga kesulitan menghubungi anggota keluarga maupun memperoleh kebutuhan dasar.

Dalam situasi darurat, warga terpaksa mencari air bersih dan makanan dari sisa-sisa toko yang hancur. Banyak di antaranya berlindung di area terbuka untuk menghindari bangunan yang rapuh dan berisiko runtuh susulan.

Gempa terjadi pada pukul 05.46 waktu setempat, saat aktivitas pagi mulai berlangsung. Warga dan para komuter tengah bersiap menuju tempat kerja ketika guncangan hebat mengguncang kota.

Guncangan utama yang berlangsung sekitar 20 detik menyebabkan runtuhnya bangunan, jembatan layang, serta jalur kereta api. Sedikitnya 200 orang dilaporkan tewas, sementara sekitar 13.000 lainnya mengalami luka-luka, seperti dilaporkan BBC, Sabtu (17/1/2026).

Seorang jurnalis asal Inggris yang tinggal di Osaka, Dennis Kessler, menggambarkan detik-detik mencekam saat gempa terjadi.

“Setiap benda di kamar kami beterbangan, dinding dan langit-langit bergerak dan berderit, seluruh ruangan bergerak seperti terbuat dari agar-agar,” ujarnya kepada surat kabar Evening Standard.

Upaya Pemulihan Kobe

Dikutip dari laman media Japan Nakama, lebih dari 120.000 bangunan rusak dan hancur, sementara 80 persen warga kehilangan pasokan gas di rumah. Untuk memperbaiki situasi yang menimpa kota, pasokan listrik secara cepat berhasil dipulihkan sekitar seminggu setelah gempa meski sebanyak 236.000 warga masih mengungsi di 600 penampungan pada akhir Januari.

Setelah guncangan dahsyat mengguncang Kobe, Perdana Menteri Jepang, Tomiichi Muruyama, memerintahkan pembentukan komite darurat untuk menangani dampak gempa dan mengirim tim penyelamat yang berhasil mengevakuasi lebih dari 35.000 orang dari reruntuhan bangunan.

Kemudian, untuk membantu para korban yang turut kehilangan tempat tinggal, pada bulan April, pemerintah mengalokasikan tiga triliun Yen Jepang untuk rekonstruksi serta rencana pembangunan selama tiga tahun.

Jika dilihat dari sisi ekonomi yang juga lumpuh saat itu, langkah ini terbukti membantu warga dengan bantuan rekonstruksi yang menciptakan berbagai lapangan kerja baru.

Contohnya, mereka dapat bekerja dalam proyek pembangunan rumah, perbaikan jalan dan jembatan, hingga fasilitas umum lainnya. Pada akhirnya, pelabuhan Kobe yang rusak dapat kembali pulih dan juga sebagian besar aktivitas ekonomi kota tersebut pada 1997.