14 Januari 2002: Inggris Resmi Bebas Wabah Penyakit Mulut dan Kuku

Berapa jumlah total hewan yang terjangkit virus mulut dan kuku di Inggris?

Diterbitkan 14 Januari 2026, 06:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, London - Departemen Lingkungan, Pangan, dan Urusan Pedesaan (Defra) menyatakan krisis penyakit mulut dan kuku yang melanda Inggris Raya resmi berakhir pada tengah malam 14 Januari 2002.

Pengumuman tersebut muncul setelah tidak ada wabah baru selama lebih dari tiga bulan, dengan kasus fatal terakhir tercatat di wilayah Cumbria. Pengujian pada kawanan domba di Northumberland, lokasi penyakit tersebut pertama kali terlacak, juga telah menunjukkan hasil negatif. 

Serikat Petani Nasional Inggris (NFU) menyebut momen tersebut menghapus "bayangan panjang dan kelam" dari pedesaan tempat lebih dari 2 ribu kasus tercatat, mengutip laporan BBC, Rabu, (14/1/2026).

Meskipun status bebas wabah telah diumumkan, pembatasan terhadap peternak baru akan dicabut beberapa minggu lagi. Izin internasional untuk perdagangan ekspor hewan serta produk hewani bahkan memerlukan waktu lebih lama karena saat itu hanya ekspor terbatas yang diizinkan dalam lingkup Uni Eropa.

Menteri Urusan Pedesaan, Lord Whitty, mengingatkan bahwa pemulihan perdagangan penuh membutuhkan proses panjang.

Lord Whitty mengatakan, "Akan memakan waktu, mungkin berbulan-bulan, sebelum mitra internasional kami memulihkan status perdagangan kami di Uni Eropa dan sekitarnya sebagai negara yang sepenuhnya bebas penyakit mulut dan kuku."

 

Dampak Ekonomi dan Kritik Penanganan

Sejak tanda-tanda awal penyakit ditemukan pada 19 Februari 2001 di sebuah rumah potong hewan di Essex, jutaan hewan telah dimusnahkan. Data resmi Defra memperlihatkan total 6,5 juta hewan harus dibunuh, di mana mayoritas adalah domba.

Skala pemusnahan yang begitu besar memaksa pelibatan tentara untuk mengatur pembakaran massal dan penguburan bangkai hewan.

Badan Pedesaan mencatat wabah tersebut merugikan industri pertanian Inggris sebesar £2,4 miliar Euro dan pariwisata hingga £3 miliar euro, dengan total estimasi kerugian mencapai £8 miliar euro.

Pemerintah juga menerima kritik tajam dari para petani dan berbagai laporan resmi. Laporan bertajuk The Lessons To Be Learned mengkritik pemerintah karena gagal melakukan persiapan, bertindak terlalu lambat setelah kasus pertama didiagnosis, serta kurangnya ketersediaan vaksin. 

Selain itu, laporan Kantor Audit Nasional menyebutkan bahwa peringatan mengenai kekurangan dokter hewan untuk menangani krisis tersebut telah diabaikan.