Putin: Rusia Akan Kerahkan Segala Upaya Untuk Rebut Donbas dari Ukraina

Apa respons Volodymyr Zelenskyy terkait pernyataan Putin?

Diterbitkan 05 Desember 2025, 14:06 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Moskow - Presiden Vladimir Putin menegaskan bahwa Rusia tidak akan menerima kompromi terkait masa depan wilayah Donbas di Ukraina timur.

Dalam wawancaranya dengan India Today, ia mengatakan bahwa pasukan Ukraina harus mundur sepenuhnya atau Rusia akan merebut wilayah tersebut dengan kekuatan militer. Saat ini, Moskow menguasai sekitar 85% kawasan tersebut.

“Entah kami mengambil wilayah itu dengan paksa, atau pasukan Ukraina meninggalkannya,” ujar Putin.

Sikap ini bertolak belakang dengan posisi Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy, yang berkali-kali menyatakan bahwa negaranya tidak akan menyerahkan wilayah kedaulatannya kepada Rusia, dikutip dari BBC, Jumat (5/12/2025).

Pernyataan Putin datang setelah Presiden AS Donald Trump mengatakan bahwa para utusan yang diutusnya untuk bernegosiasi—Steve Witkoff dan Jared Kushner—percaya bahwa Putin “ingin mengakhiri perang” setelah pembicaraan mereka pada Selasa di Moskow. Dari Moskow, tim Witkoff dijadwalkan melanjutkan pembicaraan dengan delegasi Ukraina di Florida.

Trump menyebut pertemuan di Kremlin “cukup baik,” namun menekankan bahwa masih terlalu awal untuk memprediksi hasilnya karena proses perdamaian membutuhkan persetujuan kedua belah pihak.Rencana awal perdamaian dari AS dilaporkan mencakup penyerahan wilayah Donbas yang masih berada di bawah kendali Ukraina kepada Rusia.

Namun versi baru—yang telah direvisi oleh tim Witkoff—dipresentasikan dalam pembicaraan terakhir di Moskow.

Putin mengonfirmasi bahwa ia belum melihat versi terbaru itu sebelum bertemu Witkoff dan Kushner.“Kami harus membahas setiap poin, dan itulah mengapa pertemuan berlangsung lama,” kata Putin, seraya menambahkan bahwa Moskow tidak dapat menerima beberapa ketentuan dalam proposal AS.

Ia menolak merinci poin-poin yang diperdebatkan, namun setidaknya ada dua isu utama yang masih buntu: masa depan wilayah Ukraina yang direbut Rusia, serta jaminan keamanan jangka panjang bagi Ukraina.

Yuri Ushakov, penasihat senior kebijakan luar negeri Putin, sebelumnya mengatakan bahwa pembicaraan di Kremlin “tidak menghasilkan kompromi.” Ia bahkan menyiratkan bahwa posisi Rusia kini semakin kuat berkat apa yang mereka klaim sebagai kemajuan terbaru di medan perang.

Ukraina sendiri menuduh Rusia terus menghalangi upaya gencatan senjata demi mendapatkan lebih banyak wilayah.Menanggapi pembicaraan tersebut, Menteri Luar Negeri Ukraina Andrii Sybiha menyebut Putin “membuang-buang waktu dunia.”

 

Respons Zelenskyy

Zelenskyy, dalam pernyataannya pada Rabu, mengatakan bahwa dunia melihat adanya “peluang nyata” untuk mengakhiri perang, namun menegaskan bahwa tekanan internasional terhadap Rusia harus tetap meningkat. Ukraina menuntut jaminan keamanan yang jelas dalam setiap kesepakatan perdamaian.

Pekan lalu, Zelensky mengatakan bahwa para negosiatornya telah berhasil mendorong beberapa perubahan penting dalam proposal awal AS—yang sebelumnya dianggap terlalu menguntungkan Moskow—selama pertemuan dengan delegasi AS di Jenewa pada 23 November. Para negosiator AS dan Ukraina kemudian mengeluarkan pernyataan bersama bahwa mereka telah menyusun “kerangka kerja perdamaian yang diperbarui,” tanpa merinci isi revisi tersebut.

Sementara itu, para pemimpin Eropa, yang khawatir perundingan AS akan merugikan Ukraina, dilaporkan mengungkapkan keberatan mereka dalam sebuah panggilan konferensi rahasia yang transkripnya diperoleh Der Spiegel.Dalam transkrip tersebut, Presiden Prancis Emmanuel Macron dikutip mengatakan bahwa ada risiko AS “mengkhianati Ukraina” terkait isu wilayah, sementara Kanselir Jerman Friedrich Merz memperingatkan Zelensky agar “tetap sangat berhati-hati.”

Presiden Finlandia Alexander Stubb bahkan menegaskan bahwa Ukraina “tidak boleh dibiarkan sendirian.”

Kantor kepresidenan Prancis menolak isi transkrip tersebut, sedangkan pemimpin lain yang disebut tidak memberikan komentar.

Gedung Putih, dalam pernyataannya kepada BBC, mengatakan bahwa seluruh tim keamanan nasional AS bekerja “tanpa henti” untuk menghentikan pertumpahan darah di Ukraina dan telah menggelar pertemuan produktif untuk menyusun rencana perdamaian yang “bertahan lama dan dapat ditegakkan.”

Sejak Rusia melancarkan invasi besar-besaran pada Februari 2022, Moskow kini menguasai sekitar 20% wilayah Ukraina. Dalam beberapa pekan terakhir, pasukan Rusia terus bergerak maju di wilayah tenggara meskipun dilaporkan mengalami kerugian besar di garis depan.