Thailand dan Kamboja Mulai Tarik Senjata Berat dari Perbatasan Pasca Gencatan Senjata

Penarikan senjata berat ini akan dilakukan melalui tiga tahapan.

Diterbitkan 04 November 2025, 09:51 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Bangkok - Para pejabat Thailand pada Senin (3/11/2025) menyampaikan bahwa Thailand dan Kamboja telah mulai menarik senjata berat serta melakukan operasi pembersihan ranjau di sepanjang perbatasan yang masih disengketakan. Langkah tersebut merupakan bagian dari upaya untuk meredakan ketegangan setelah penandatanganan gencatan senjata yang diperpanjang minggu lalu.

Para pemimpin Thailand dan Kamboja menandatangani kesepakatan gencatan senjata yang diperbarui di sela KTT ASEAN di Kuala Lumpur pada 26 Oktober, dengan disaksikan oleh Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. Penandatanganan ini dilakukan tiga bulan setelah ketegangan di perbatasan antara Thailand dan Kamboja meledak menjadi konflik berdarah selama lima hari.   

Juru bicara pemerintah Thailand Siripong Angkasakulkiat seperti dikutip dari CNA mengatakan bahwa pihaknya tidak akan membebaskan 18 tentara Kamboja yang ditahan sejak konflik berlangsung maupun membuka kembali pos-pos pemeriksaan perbatasan sampai Thailand menilai bahwa Kamboja benar-benar mematuhi perjanjian tersebut.

Sementara itu, juru bicara Kementerian Pertahanan Thailand Laksamana Muda Surasant Kongsiri menyampaikan dalam konferensi pers bahwa operasi pembersihan ranjau di sepanjang perbatasan telah dimulai. Thailand mengusulkan pembersihan ranjau di 13 area, sedangkan Kamboja di satu area.

Pada Jumat (31/10), kedua negara mengeluarkan pernyataan bersama yang menyebutkan bahwa mereka telah sepakat untuk menarik senjata berat dari perbatasan dalam tiga tahap: dimulai dengan sistem roket, dilanjutkan dengan artileri, dan kemudian tank serta kendaraan lapis baja lainnya.

Pada Sabtu (1/11), Kementerian Pertahanan Kamboja menyatakan bahwa tahap pertama penarikan akan berlangsung selama tiga minggu sejak 1 November.

"Kami memperkirakan penarikan senjata berat akan selesai pada akhir tahun ini," kata Surasant pada hari Senin.

Kedua negara juga meningkatkan kerja sama untuk memerangi kejahatan siber lintas negara dan tengah mengupayakan langkah mendesak dalam penandaan batas bersama di area perbatasan yang disengketakan.

Perang lima hari pada Juli lalu menewaskan sedikitnya 48 orang dan menyebabkan ratusan ribu warga di kedua sisi perbatasan mengungsi sementara. Pertempuran tersebut menjadi yang terburuk antara kedua negara dalam beberapa dekade.

Adapun gencatan senjata awal yang ditengahi di Malaysia dengan keterlibatan AS ditandatangani pada 28 Juli.