Pemimpin Oposisi Taiwan Peringatkan Risiko Perang dengan China

Cheng terpilih sebagai pemimpin KMT bulan lalu dan Presiden Xi Jinping sudah memberinya selamat.

Diterbitkan 01 November 2025, 16:47 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Taipei - Pemimpin oposisi baru Taiwan resmi menjabat pada Sabtu (1/11/2025), memperingatkan tentang risiko perang dengan China. Pada saat yang sama, dia berjanji akan membuka era baru perdamaian dengan Beijing.

Mantan anggota parlemen Cheng Li-wun (55) kini memimpin partai oposisi terbesar, Kuomintang (KMT), di tengah meningkatnya ketegangan militer dan politik dengan Tiongkok, yang menganggap pulau demokratis itu sebagai wilayah miliknya.

"Ini adalah masa terburuk. Selat Taiwan menghadapi bahaya militer yang sangat serius dan dunia tengah memperhatikan dengan cermat," katanya kepada para anggota partai dalam pidato di sebuah stadion sekolah menengah di Taipei, seperti dikutip dari CNA.

"Keamanan Taiwan menghadapi ancaman perang yang terus-menerus."

KMT secara tradisional mendukung hubungan yang erat dengan Beijing, sementara itu pemerintah Taiwan yang dipimpin oleh Partai Progresif Demokratik (DPP) dengan tegas menolak klaim kedaulatan Tiongkok.

Cheng sudah menunjukkan niat untuk menjalin hubungan yang lebih erat dengan Tiongkok, lebih daripada Eric Chu, yang sebelumnya memimpin partai dengan gaya lebih berorientasi internasional dan tidak pernah mengunjungi Tiongkok selama menjabat. 

Setelah Cheng terpilih bulan lalu, Presiden Tiongkok Xi Jinping dengan cepat menyampaikan ucapan selamat kepadanya. Dalam pesannya, Xi menyerukan perlunya melanjutkan upaya untuk memajukan "penyatuan kembali" antara Tiongkok dan Taiwan. 

Beberapa pengguna internet di Tiongkok menjuluki Cheng sebagai "dewi reunifikasi". Pekan ini Cheng mengakui bahwa dirinya telah diberi banyak julukan di dunia maya.

"Kalau julukan itu salah atau tidak benar, tertawakan saja," ujarnya.

Tantangan Pertama

Cheng tidak mengungkapkan rincian kebijakannya terhadap Tiongkok dalam pidato perdananya sebagai pemimpin partai, juga tidak menyebut apakah ia akan melakukan kunjungan, melainkan menegaskan bahwa ia akan bekerja demi perdamaian.

"KMT akan menjadi partai yang membuka babak baru perdamaian antara kedua sisi Selat Taiwan dan membawa Taiwan maju ke depan," ungkap Cheng.

Cheng menentang peningkatan anggaran pertahanan, yang merupakan kebijakan utama pemerintahan Presiden Lai Ching-te dan didukung kuat oleh Amerika Serikat.

Meskipun KMT kalah dalam pemilihan presiden tahun lalu, partai tersebut bersama sekutunya, Partai Rakyat Taiwan (Taiwan People’s Party) yang berukuran lebih kecil, kini memiliki jumlah kursi terbanyak di parlemen — situasi yang menyulitkan DPP dalam upayanya meloloskan anggaran dan undang-undang lainnya.

Salah satu tugas pertama Cheng adalah mempersiapkan pemilihan wali kota dan pemilihan lokal yang akan digelar akhir tahun depan. Meski sebagian besar berfokus pada isu-isu domestik, pemilihan ini akan menjadi tolok ukur penting untuk mengukur tingkat dukungan menjelang pemilihan presiden 2028.