COP30 Brasil: Dari Krisis Emisi hingga Hutan Amazon, Dunia Dihadapkan pada Ujian Nyata

COP30 akan berlangsung di jantung Amazon, kawasan yang menjadi paru-paru dunia sekaligus wilayah paling rentan terhadap krisis lingkungan.

Diterbitkan 14 Oktober 2025, 16:06 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Brasilia - Konferensi Iklim Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) tahun ini atau COP30, digelar dengan simbolisme yang kuat, dalam rangka memperingati satu dekade sejak lahirnya Perjanjian Paris.

COP30 akan berlangsung di jantung Amazon, kawasan yang menjadi paru-paru dunia sekaligus wilayah paling rentan terhadap krisis lingkungan.

Namun di balik gemerlap diplomasi dan janji hijau, muncul pertanyaan besar: apa sebenarnya agenda nyata dari KTT iklim ini?

Berbeda dengan edisi-edisi sebelumnya, COP30 tidak mengusung satu tema utama atau sasaran tunggal. Meski begitu, negara-negara berkembang yang paling terdampak perubahan iklim tetap menuntut aksi nyata dan dukungan finansial dari negara-negara kaya yang selama ini menjadi penyumbang emisi terbesar.

Berikut isu-isu utama yang akan menjadi sorotan ketika konferensi dua pekan ini dimulai pada 10 November di Belem, Brasil, dikutip dari laman Channel News Asia, Selasa (14/10/2025).

1. Emisi: Janji Tinggi, Aksi Rendah

Dunia belum bergerak cukup cepat untuk menurunkan emisi gas rumah kaca sesuai target Perjanjian Paris. Dan semua kemegahan COP30 tidak bisa menutupi kenyataan itu.

Sesuai kesepakatan global, setiap negara diwajibkan memperbarui target pengurangan emisinya setiap lima tahun. Putaran terbaru untuk target tahun 2035 seharusnya diserahkan pada Februari lalu, memberi waktu bagi PBB menilai komitmen negara-negara peserta sebelum konferensi dimulai.

Namun, hingga awal Oktober, baru sekitar 60 negara yang mengirimkan rencana revisinya — dan hanya sebagian kecil yang dianggap ambisius. Target dari Tiongkok, misalnya, dinilai masih jauh dari harapan.

Sementara itu, Uni Eropa belum bisa menyepakati angka akhir karena perdebatan internal, dan India pun belum menyerahkan rencana resminya.

Brasil, sebagai tuan rumah dan pemimpin kawasan Amerika Selatan, menghadapi tekanan besar untuk mendorong komitmen global lebih kuat, sejalan dengan pesan mereka: “visi masa depan kita bersama.”

 

2. Pendanaan: Janji Uang yang Tak Kunjung Nyata

Isu pendanaan selalu menjadi batu sandungan di setiap COP — dan tahun ini tak berbeda.

Negara-negara berkembang menuntut kejelasan: seberapa besar dukungan finansial nyata dari negara-negara kaya untuk membantu mereka beradaptasi terhadap dampak perubahan iklim dan beralih menuju energi bersih.

Pada COP29 tahun lalu, negara-negara maju sepakat menyediakan pendanaan sebesar USD 300 miliar per tahun bagi negara berkembang pada 2035 — angka yang jauh di bawah kebutuhan riil. Selain itu, mereka hanya menyebutkan target longgar untuk mengumpulkan USD 1,3 triliun per tahun dari sumber publik dan swasta tanpa rincian jelas.

Di COP30, tekanan akan semakin besar agar janji tersebut dikonkretkan. Salah satu agenda resmi juga akan membahas pendanaan adaptasi, seperti pembangunan perlindungan pesisir menghadapi kenaikan permukaan laut dan infrastruktur tangguh bencana.

 

3. Hutan: Amazon di Pusat Perhatian Dunia

Pemilihan Belem, kota di tepian Sungai Amazon, sebagai tuan rumah COP30 bukan kebetulan. Brasil ingin menjadikan konferensi ini panggung untuk menyoroti peran krusial hutan tropis dalam mengatasi krisis iklim.

Pemerintah Brasil berencana meluncurkan inisiatif ambisius bernama Dana Hutan Tropis Selamanya (Tropical Forest Forever Fund / TFFF), yang akan memberikan insentif finansial kepada negara-negara dengan tutupan hutan tropis tinggi agar menjaga pohon-pohon tetap berdiri, bukan ditebang.

Dana ini menargetkan pengumpulan hingga USD 25 miliar dari negara donor dan USD 100 miliar dari sektor swasta, dengan investasi di pasar keuangan global. Brasil sendiri telah menjanjikan USD 1 miliar sebagai komitmen awal.

Menurut Clement Helary dari Greenpeace, keberhasilan dana ini bergantung pada tindakan nyata:

“TFFF bisa menjadi langkah besar melindungi hutan tropis, tapi hanya jika COP30 juga menghasilkan keputusan tegas untuk mengakhiri deforestasi pada 2030.”

Sayangnya, kondisi di lapangan masih suram. Data dari Global Forest Watch menunjukkan, kehilangan hutan primer tropis mencapai rekor tertinggi pada 2024 — setara dengan hilangnya 18 lapangan sepak bola setiap menit, sebagian besar akibat kebakaran besar.