AS Desak China Bebaskan 30 Pemimpin Gereja Bawah Tanah

Bagaimana China merespons desakan AS? Temukan jawabannya berikut ini.

Diterbitkan 13 Oktober 2025, 18:49 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Washington, DC - Amerika Serikat (AS) menyerukan pembebasan 30 pemimpin salah satu jaringan gereja bawah tanah terbesar di China, yang dilaporkan ditahan selama akhir pekan dalam serangkaian penggerebekan semalam di berbagai kota.

Menurut organisasi nirlaba yang berbasis di AS, ChinaAid, di antara mereka yang ditangkap terdiri dari beberapa pendeta dan pendiri Gereja Zion, Jin Mingri, yang ditahan pada Sabtu (11 dini hari setelah 10 petugas menggeledah rumahnya.

Melansir BBC, sejumlah kelompok Kristen menyebut tindakan terbaru ini sebagai penindasan paling luas terhadap umat Kristen dalam beberapa dekade terakhir.

Selama bertahun-tahun, umat Kristen di China menghadapi tekanan untuk bergabung hanya dengan gereja-gereja yang disetujui negara — yang dipimpin oleh pendeta berlisensi pemerintah dan diwajibkan untuk sejalan dengan garis ideologi partai.

Hingga kini belum ada kejelasan apakah para pemimpin gereja yang ditahan telah secara resmi didakwa.

Dalam pernyataannya, Gereja Zion menyebut bahwa penindasan sistematis semacam ini bukan hanya penghinaan terhadap Gereja Tuhan, namun juga tantangan terbuka terhadap komunitas internasional.

Menanggapi hal tersebut, Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio mendesak China segera membebaskan para pemimpin gereja. Dia menegaskan dalam pernyataannya pada hari Minggu bahwa penindasan ini semakin memperlihatkan bagaimana Partai Komunis China bersikap bermusuhan terhadap umat Kristen yang menolak campur tangan partai dalam iman mereka dan memilih beribadah di gereja-gereja rumah yang tidak terdaftar.

Sementara itu, mantan Wakil Presiden AS Mike Pence dan mantan Menteri Luar Negeri AS Mike Pompeo juga menyampaikan kecaman terhadap penangkapan tersebut melalui platform media sosial X.

 

 

China Tolak Campur Tangan AS

Saat ditanya mengenai penangkapan itu dalam konferensi pers, juru bicara Kementerian Luar Negeri China Lin Jian menyatakan bahwa dia tidak memiliki informasi tentang kasus tersebut. 

"Pemerintah China mengatur urusan keagamaan sesuai hukum dan melindungi kebebasan beragama serta kegiatan keagamaan yang normal. Kami dengan tegas menentang campur tangan AS dalam urusan dalam negeri China dengan dalih masalah keagamaan," ujarnya.

Hal ini bisa menjadi sumber gesekan baru dalam hubungan AS–China, di saat ketegangan perdagangan antara dua ekonomi terbesar dunia itu meningkat karena kebijakan tarif dan pengendalian ekspor.

Sudah muncul keraguan apakah pertemuan puncak antara Presiden Donald Trump dan Presiden Xi Jinping, yang rencananya akan diadakan di Korea Selatan akhir bulan ini, akan tetap berlangsung.

Belum Pernah Terjadi

Di bawah kepemimpinan Xi, China disebut semakin memperketat kebebasan beragama, terutama terhadap umat Kristen dan muslim.

Dalam konferensi nasional tentang agama pada tahun 2016, dia menyerukan agar partai membimbing umat beragama untuk mencintai negara mereka, menjaga persatuan tanah air, dan melayani kepentingan keseluruhan bangsa China.

Meskipun demikian, gerakan gereja rumah yang tidak terdaftar di China terus berkembang. Di antara mereka adalah Gereja Zion, yang didirikan oleh Jin pada tahun 2007 hanya dengan 20 orang. Kini jaringannya mencakup sekitar 10.000 jemaat di 40 kota di seluruh negeri, menjadikannya salah satu gereja bawah tanah terbesar di China.

Pada September 2018, partai secara resmi melarang gereja tersebut setelah pihak gereja menolak tekanan pemerintah untuk memasang kamera pengawas di propertinya di Beijing. Jin dan beberapa pemimpin gereja sempat ditahan sebentar.

Banyak jemaat cabang gereja itu di seluruh negeri sejak saat itu telah diselidiki dan ditutup. Keluarga Jin pindah ke AS demi keselamatan, sementara dia tetap tinggal di China untuk menggembalakan jemaatnya. Pihak berwenang telah melarangnya meninggalkan negara tersebut.

Namun, gereja itu tetap melanjutkan pertemuan dalam kelompok kecil dan membagikan khotbahnya secara daring.

ChinaAid menyebut gelombang penangkapan para pemimpin Kristen kali ini — yang melibatkan kepolisian di beberapa kota — sebagai tindakan yang belum pernah terjadi sebelumnya, dan merupakan gelombang penindasan paling luas dan terkoordinasi terhadap umat Kristen dalam lebih dari empat dekade.

"Kampanye nasional baru ini mengingatkan pada masa-masa tergelap tahun 1980-an, ketika gereja-gereja di kota mulai muncul kembali setelah Revolusi Kebudayaan,” kata pendiri ChinaAid, Bob Fu, merujuk pada masa pembersihan besar-besaran di tahun 1960–1970-an yang menimbulkan kekerasan dan gejolak besar di seluruh China.

Pengakuan Orang Terdekat

Dalam surat yang meminta dukungan doa, istri Jin, Liu Chunli, menulis bahwa hatinya dipenuhi dengan campuran keterkejutan, kesedihan, duka, kekhawatiran, dan kemarahan yang benar.

"Jin hanya melakukan apa yang akan dilakukan oleh seorang pendeta yang taat... Dia tidak bersalah!” tulisnya, seraya menambahkan bahwa harapan keluarganya untuk reuni setelah lebih dari tujuh tahun berpisah kembali pupus.

Beberapa gereja rumah di China juga mengeluarkan pernyataan menyerukan pembebasan mereka yang ditahan.

Sean Long, seorang pendeta Gereja Zion yang berbasis di AS, mengatakan bahwa Jin telah siap menghadapi penindasan dalam skala sebesar ini.

Dalam panggilan Zoom beberapa minggu lalu antara kedua pendeta itu, Long sempat bertanya apa yang akan terjadi jika Jin dipenjara dan semua pemimpin gereja ditangkap.

Jin menjawab, "Haleluya! Sebab gelombang kebangunan rohani yang baru akan mengikuti setelah itu!"