Balita 2 Tahun Dipilih Jadi Dewi Kumari di Nepal, Seperti Apa Sosoknya?

Tetap berpegang teguh terhadap tradisi, kehidupan balita yang berumur dua hingga empat tahun harus tinggal di dalam kuil hingga tiba masa pubertasnya.

Diterbitkan 06 Oktober 2025, 18:35 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Kathmandu - Di tengah kecanggihan teknologi di era modern ini, Nepal tetap mempertahankan tradisi yang memilih seorang balita untuk tinggal di dalam kuil.

Ananta Shakya, ayah dari seorang balita, harus menyerahkan gadis kecilnya bernama Aryantara Shakya, berumur dua tahun untuk dinobatkan sebagai "dewi hidup" Nepal yang baru, dilansir dari laman The Week, Senin (6/10/2025).

Prosesi penobatan tersebut dimulai dengan gadis kecil yang digendong oleh anggota keluarga, dibawanya keluar dari rumah menuju sebuah kuil di Kathmandu.

Lalu dinobatkan sebagai Kumari terbaru, yang berlangsung pada minggu lalu tepatnya di perayaan Dashain, festival Hindu paling penting di Nepal.

Ananta Shakya juga menyampaikan rasa ikhlasnya.

"Kemarin dia masih putri saya, tetapi hari ini sudah menjadi seorang dewi," ujarnya.

Selain itu, ia juga berkata kepada Associated Press terkait arti mimpi.

"Saat kehamilan, istri saya bermimpi jika dirinya menjadi dewi, dan kami tahu jika anak kami akan menjadi seseorang yang sangat istimewa," tambahnya.

 

 

Rahasia Kehidupan Seorang Kumari di Nepal

Dewi Kumari adalah dewi hidup yang disembah dan tradisinya telah berlangsung selama 300 tahun, terutama kalangan umat Hindu dan Buddha. Bahkan sebagian India menjadikan tradisi ini sebagai perwujudan perempuan yang suci.

Dalam pelaksanaannya, hanya gadis kecil dari klan Shakya, yang merupakan umat Buddha Newati dapat mengikuti tradisi ini.

Para calon Kumari biasanya berusia antara dua hingga empat tahun, serta memenuhi kriteria fisik yang ketat yaitu kulit, rambut, mata, dan gigi harus bersih tanpa cacat.

Selama festival, gadis kecil diarak keliling kota dan berada di atas kereta yang ditarik oleh umat terpilih. Ia juga menggunakan pakaian berwarna merah berhiaskan "mata ketiga" yang dilukis di dahinya.

Namun, banyak dari calon Kumari yang tidak bisa mengingat apa yang terjadi pada hari penobatan, hal ini dikarenakan umurnya yang terlalu muda untuk mengingat banyak hal.

Para gadis kecil menghabiskan masa kecil mereka di dalam kuil, jarang sekali diizinkan untuk pergi keluar dinding kuil, kaki mereka tidak boleh menyentuh tanah. Lalu mereka akan kembali menjadi manusia biasa ketika dirinya mendapatkan menstruasi atau masa pubertasnya pertama kali.

Selama delapan tahun, mantan Kumari Preeti Shakya menjalani kehidupan yang berbeda dari terakhir kali ia tinggal di pinggiran kota yang tak dikenal.

Berada di dalam Kumari Ghar, sebuah istana khusus tempat sang Dewi, ia hanya diperbolehkan bertemu keluarganya seminggu sekali. Tidak hanya itu, satu-satunya teman yang ia miliki adalah keluarga penjaga resmi Kumari.

"Saya ingat menonton televisi dan melihat gaun-gaun modern, saya sangat ingin memakainya," ujar Preeti Shakya pada salah satu situs berita.

Selama masa jabatannya, Preeti memberkati Raja Nepal sebanyak tujuh kali dan sekali kepada perdana menteri.

Menurutnya, banyak yang merasakan pancaran positif saat berada di dekatnya.

"Mereka merasakan sesuatu seperti api, energi positif di sekitar saya," ucapnya. "Orang-orang yang berdoa kepada saya sebenarnya telah diberkati, tetapi saya tidak merasakan apa-apa."

Respons Terhadap Tradisi Kumari

Dalam beberapa dekade terakhir, kritik terhadap tradisi Kumari di Nepal semakin meningkat.

Para gadis dianggap kembali menjadi manusia ketika mereka mencapai pubertas, di mana mereka dikeluarkan dari kuil dan digantikan oleh gadis kecil lainnya.

Menurut Deutsche Welle, mantan Kumari juga sering menghadapi kesulitan beradaptasi dengan kehidupan normal setelah bertahun-tahun diasingkan dari kehidupan luar.

Dalam memoarnya tahun 1990-an "From Goddess to Mortal," mantan Kumari yakni Rashmila Shakya menggambarkan kurangnya pendidikan dan mengalami kesulitan untuk kembali menyesuaikan diri ke dalam masyarakat.

Sejak saat itu, pemerintah Nepal telah mewajibkan pendidikan bagi seorang Kumari yang masih menjabat. Tidak tertinggal juga untuk memberikan pensiun bulanan sekitar 165 dollar untuk mantan Kumari, sedikit di atas upah minimum. 

Perubahan setelah menjalani tradisi Kumari juga mengganggu kehidupan para gadi, karena statusnya sebagai mantan Kumari akan selalu melekat.

The Guardian pada tahun 2001 mengatakan bahwa laki-laki yang menikahi mantan Kumari akan menderita kematian dini.

"Sang Kumari terpaksa untuk mengorbankan masa kecilnya," ucap salah satu pengacara hak asasi manusia di Nepal, Sapana Pradhan-Malla.

"Hak-haknya dilanggar karena ia harus menjadi dewi," tambahnya.

Seiring meningkatnya berbagai pandangan terhadap tradisi Kumari, banyak pengamat turut bersuara. Sehingga Nepal melakukan penandatanganan Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hak-Hak Anak perihal tradisi Kumari.

Preeti Shakya juga menegaskan terkait hak anak.

"tidak ada yang dapat mengeksploitasi anak-anak atas simbol kebudayaan," ujarnya.