Israel Deportasi 137 Aktivis Global Sumud Flotilla ke Turki

Armada Global Sumud berlayar dari Spanyol bulan lalu dengan membawa hampir 50 kapal dan sekitar 500 aktivis, termasuk politisi dan aktivis lingkungan terkenal Greta Thunberg.

Diterbitkan 05 Oktober 2025, 16:07 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Gaza - Pemerintah Israel mendeportasi lebih dari 130 aktivis internasional yang ditahan setelah ikut serta dalam armada bantuan menuju Gaza, menurut pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri Israel pada Sabtu (4/10/2025).

Dalam pernyataannya, kementerian menyebut sebanyak 137 aktivis dari berbagai negara, termasuk Amerika Serikat, Inggris, dan Italia, telah dikembalikan ke negara asal mereka. Empat di antaranya, warga Italia, dideportasi sehari sebelumnya.

Israel berupaya mempercepat proses deportasi terhadap mereka yang ditahan dari armada tersebut,” bunyi pernyataan itu, dikutip dari laman CBS News, Minggu (5/10).

Armada Global Sumud berlayar dari Spanyol bulan lalu dengan membawa hampir 50 kapal dan sekitar 500 aktivis, termasuk politisi dan aktivis lingkungan terkenal Greta Thunberg.

Misi kemanusiaan itu merupakan upaya terbesar untuk menembus blokade maritim Israel di Gaza yang telah berlangsung selama 18 tahun. Para peserta berencana mengirim bantuan makanan dan logistik bagi warga Palestina di wilayah yang terkepung tersebut.

Namun, perjalanan itu berakhir tragis setelah pasukan Israel mencegat hampir seluruh armada di perairan internasional pada Kamis. Beberapa drone yang disebut-sebut telah disetujui langsung oleh Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dilaporkan menargetkan kapal dalam armada, menurut laporan CBS News.

Kecaman Dunia Internasional

Langkah Israel tersebut memicu kecaman luas dari berbagai pemimpin dunia. Kementerian Luar Negeri Turki menyebut penahanan dan penyitaan kapal itu sebagai pelanggaran serius terhadap hukum internasional.

Associated Press melaporkan bahwa kapal terakhir armada ditangkap pada Jumat.Sementara itu, Israel menuduh para peserta sebagai “provokator” dan mengklaim sebagian dari mereka memiliki hubungan dengan Hamas — klaim yang dibantah keras oleh para aktivis.

Kementerian Luar Negeri Israel juga menuding beberapa peserta “menghalangi proses deportasi” dan mengatakan beberapa negara enggan menerima warganya kembali. Namun, Israel tidak menjelaskan negara mana yang dimaksud.

 

Gelombang Aksi Solidaritas Global

Tindakan Israel memicu gelombang protes besar-besaran di berbagai negara. Menurut Associated Press, lebih dari 2 juta orang di Italia ikut dalam aksi mogok nasional pada Jumat untuk menyuarakan solidaritas terhadap warga Gaza.

Di Spanyol, sekitar 70.000 orang turun ke jalan di Barcelona, sementara demonstrasi serupa digelar di Madrid dan Lisbon, Portugal.Pihak berwenang di Yunani memperkirakan aksi protes juga akan berlangsung di Athena sepanjang akhir pekan.

Di tengah ketegangan itu, Hamas pada Jumat menyatakan telah menyetujui sebagian dari proposal gencatan senjata yang diajukan Presiden AS Donald Trump awal pekan ini.Seorang pejabat AS mengatakan kepada CBS News bahwa Washington menilai tanggapan Hamas “positif,” meski masih ada detail yang perlu disepakati.

Trump, dalam pernyataannya di platform Truth Social, menyebut Hamas “siap untuk perdamaian abadi” dan mendesak Israel untuk menghentikan pemboman di Gaza.Sumber dari Associated Press mengungkapkan bahwa Israel kini berada dalam posisi bertahan di Gaza dan tidak lagi melakukan operasi ofensif besar, meski belum menarik pasukannya.

Konflik yang Belum Usai

Perang antara Israel dan Hamas pecah sejak 7 Oktober 2023, ketika kelompok militan yang berbasis di Gaza melancarkan serangan ke wilayah selatan Israel, menewaskan sekitar 1.200 orang dan menyandera 251 orang.

Sebagai balasan, Israel melakukan serangan udara dan operasi darat besar-besaran di Jalur Gaza.Menurut Kementerian Kesehatan Gaza yang dikelola Hamas, lebih dari 67.000 warga Palestina tewas sejak konflik dimulai — meski data tersebut tidak memisahkan antara korban sipil dan militan.

Hingga kini, sekitar 50 sandera masih diyakini berada di Gaza, dan kurang dari separuhnya diperkirakan masih hidup, menurut otoritas Israel.