Mahasiswa PhD Asal China di Swiss Viral, Bertahan Hidup dengan Makan Makanan Kucing

Apakah makanan kucing aman dan bermanfaat untuk tubuh manusia?

Diterbitkan 01 Oktober 2025, 08:06 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Bern - Seorang mahasiswa PhD asal China di Swiss mengaku memenuhi kebutuhan proteinnya dengan makan makanan kucing demi bisa bertahan hidup di negara dengan biaya hidup selangit.

Mahasiswa bernama Meiri Renwu yang menamakan dirinya "The Artful Cheapskate" itu dikenal hemat ekstrem. Demi mendanai studi doktornya di bidang kedokteran, ia rela hidup dengan jatah makan minim bahkan mendonorkan darah agar bisa mendapat makan gratis, dilansir dari SCMP, Rabu (1/10/2025).

Sosoknya kini punya lebih dari 12 ribu pengikut di media sosial. Ia sebelumnya lulus dari sekolah kedokteran di China dan berhasil menabung 300 ribu yuan (Rp700 juta) saat bekerja di Shanghai, sebelum akhirnya melanjutkan PhD di sebuah lembaga riset ternama di Swiss.

Menurutnya, biaya hidup mahasiswa PhD di Swiss bisa mencapai 1.000 hingga 1.500 franc Swiss (Rp20 juta–Rp31 juta) per bulan.

"Saya sudah melihat banyak mahasiswa mandiri yang menyerah di tahun ketiga karena tidak sanggup membayar biaya hidup dan kuliah. Itu hal yang tidak bisa saya terima," ujarnya.

Kebiasaan Hidup Hemat

Ia menegaskan sudah berniat hidup superhemat sejak sebelum tiba di Swiss.

"Sebelum saya datang ke Swiss, saya sudah memutuskan untuk hidup hemat. Mahasiswa internasional di sini tidak boleh bekerja secara legal, jadi saya harus menghemat sebisa mungkin," ujarnya.

Dalam salah satu unggahannya yang viral, ia mengungkap cara tak biasa untuk tetap sehat dan menjaga massa otot, yaitu makan makanan kucing sebagai tambahan protein.

"Banyak orang terkejut dengan pilihan saya. Tapi saya sudah hitung. Satu kantong makanan kucing 3 kg harganya hanya 3,75 franc Swiss (Rp77 ribu) dan mengandung 32 persen protein. Itu nilai gizi terbaik dibanding makanan lain yang pernah saya temukan di Swiss," ujarnya.

 

Manfaat Makanan Kucing

Meski begitu, ia memberi peringatan soal cara mengonsumsinya.

"Jangan pernah campur dengan susu. Berdasarkan pengalaman, cara terbaik menutupi baunya adalah dimakan dengan kacang. Rasa kenyangnya tahan lama," ungkapnya.

Ia bahkan mengklaim makanan kucing punya manfaat tambahan.

"Teman-teman PhD saya banyak yang rambutnya rontok, tapi makanan kucing mengandung bahan yang bikin bulu kucing halus dan berkilau. Rambut saya sekarang lebih bagus dari sebelumnya," katanya.

Selain itu, ia juga rutin mendonorkan darah agar bisa mendapat makan siang gratis.

"Itu seperti prasmanan. Saya selalu atur jadwal donor saat jam makan siang. Waktu itu sup sedang panas dan makanan paling banyak," tulisnya di salah satu unggahan.

Kini, ia baru saja mendapatkan beasiswa dan akan melanjutkan program kunjungan ke Harvard University di Boston, Amerika Serikat. Meski begitu, ia berencana tetap hidup hemat ekstrem.

Kisahnya menuai beragam komentar di media sosial China.

"Dia benar-benar legenda. Saya coba saran dia, beli makanan kucing, tapi baunya amis sekali sampai tidak bisa saya makan,"tulis seorang warganet.

Ada juga yang memberi saran lain."Apakah itu benar-benar perlu, Bro? Coba saja pergi ke Jerman saat akhir pekan untuk stok daging," tulis warganet lain.

Â