Kota Toyoake di Jepang Anjurkan Warganya Batasi Pemakaian Ponsel Pintar Dua Jam Sehari

Apakah anjuran ini disambut baik warga Toyoake atau justru sebaliknya?

Diperbarui 28 Agustus 2025, 09:35 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Tokyo - Sebuah kota di Jepang akan mengimbau semua warganya membatasi penggunaan ponsel pintar hanya dua jam sehari di luar pekerjaan atau sekolah dalam upaya mengatasi kecanduan daring dan kurang tidur.

Pejabat di Toyoake, Prefektur Aichi, mengatakan langkah ini tidak hanya ditujukan kepada anak-anak namun juga orang dewasa, di tengah meningkatnya kekhawatiran tentang dampak fisik dan psikologis dari penggunaan ponsel pintar yang berlebihan bagi semua kalangan usia.

"Langkah ini bertujuan untuk mencegah penggunaan perangkat yang berlebihan yang menyebabkan masalah kesehatan fisik dan mental … termasuk gangguan tidur," kata Wali Kota Masafumi Koki belum lama ini seperti dilansir The Guardian.

Majelis Kota Toyoake mulai membahas rancangan peraturan yang tidak mengikat ini minggu ini, dengan jadwal pemungutan suara pada akhir bulan depan. Jika rancangan itu disahkan maka aturan akan mulai berlaku pada Oktober. Namun, aturan ini tidak akan memberikan sanksi bagi mereka yang melebihi batas penggunaan dua jam sehari.

Rancangan ini meminta siswa sekolah dasar – anak usia enam hingga 12 tahun – dan anak yang lebih kecil untuk tidak menggunakan ponsel pintar atau tablet setelah pukul 21.00, sementara remaja dan orang dewasa dianjurkan untuk menyingkirkan perangkat mereka setelah pukul 22.00.

Usulan, yang untuk pertama kalinya ditujukan kepada seluruh penduduk, ini memicu reaksi balik di media sosial. Beberapa pengguna mengecamnya sebagai serangan terhadap kebebasan individu, sementara yang lain mengatakan batas waktu itu sama sekali tidak realistis.

"Saya mengerti maksud mereka, tapi batas dua jam itu tidak mungkin," tulis seorang pengguna di platform media sosial X.

Yang lain mengatakan, "Dua jam bahkan tidak cukup untuk membaca sebuah buku atau menonton film (di ponsel pintar)."

Disambut Kritik oleh Warga

Menanggapi protes warga, Koki menegaskan bahwa batas waktu itu tidak bersifat wajib. Dia juga mengakui bahwa ponsel pintar memang berguna dan tidak tergantikan dalam kehidupan sehari-hari.

Namun, dia menambahkan, "Saya berharap aturan ini bisa menjadi kesempatan bagi keluarga untuk meninjau kembali kebiasaan mereka: seberapa banyak waktu yang dihabiskan dengan ponsel pintar, dan pada jam berapa perangkat itu biasanya digunakan."

Bagaimanapun, usulan ini tidak disambut baik oleh banyak dari 69.000 penduduk Toyoake. Menurut surat kabar Mainichi Shimbun, dalam empat hari setelah pengumuman, para pejabat menerima 83 panggilan telepon dan 44 email, di mana 80 persen di antaranya berisi kritik.

Pejabat mengatakan usulan ini dirancang untuk menangani masalah perilaku yang terkait dengan penggunaan ponsel pintar berlebihan, termasuk bolos sekolah di antara anak-anak yang tidak tahan meninggalkan ponsel mereka di rumah ketika pergi ke sekolah.

Koki juga mengatakan ada kesaksian bahwa orang dewasa di kota itu terpaku pada ponsel mereka ketika seharusnya tidur atau menghabiskan waktu bersama keluarga.

Inisiatif Toyoake mencerminkan meningkatnya kekhawatiran tentang dampak negatif terhadap kesehatan – terutama pada anak-anak – akibat berjam-jam membungkuk di depan ponsel pintar dan tablet.

Pada tahun 2020, sebuah wilayah di Jepang barat meloloskan peraturan – juga tidak mengikat – yang membatasi anak-anak bermain gim hanya satu jam sehari pada hari sekolah dan 90 menit saat liburan sekolah.

Menurut sebuah survei yang dirilis tahun ini oleh Badan Anak dan Keluarga, rata-rata anak muda Jepang menghabiskan waktu online lebih dari lima jam per hari pada hari kerja.