Liputan6.com, Jakarta - Kabupaten Sumenep, Jawa Timur dilanda Kejadian Luar Biasa (KLB) campak. Tercatat 1.944 kasus suspect campak dengan lebih dari separuh (53,3%) penderita adalah balita usia 0-4 tahun. Mirisnya, 17 anak dinyatakan meninggal dunia. Kemenkes mencatat, mayoritas tidak memiliki riwayat imunisasi campak.
Rupanya, hal ini terjadi karena orang tua para anak tidak percaya tentang vaksin. Menurut Kemenkes, rata-rata mereka termakan hoaks, bahaya pada vaksin.
"Ada orang tua yang ragu karena terpengaruh informasi keliru. Ini berisiko besar," ungkap epala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman.
Advertisement
Hal ini terjadi pada Benzema (bukan nama sebenarnya). Setiap kali ada program vaksinasi gratis di sekolah, dia akan menyuruh anak-anaknya tetap di rumah. Alasannya sakit. Tetapi yang sebenarnya adalah tidak percaya.
Pemilik usaha kecil berusia 40 tahun asal Bekasi, Jawa Barat, ini percaya bahwa vaksin justru melemahkan kekebalan tubuh sang anak.
"Tidak satu pun dari delapan anak saya yang divaksinasi sejak bayi," ujarnya kepada Channel News Asia (CNA), seraya menambahkan bahwa ia telah banyak membaca tentang vaksin.
Para tenaga kesehatan dan para ahli memperingatkan, sikap seperti itu membuka pintu bagi munculnya kembali penyakit yang sebenarnya dapat dicegah dengan vaksin. Selama beberapa minggu terakhir, Indonesia telah mencatat ribuan penyakit campak menyasar anak-anak.
Salah satu daerah yang paling parah terkena dampaknya adalah Sumenep di Pulau Madura, Jawa Timur. Tercatat, 2.000 kasus infeksi dan kematian 17 anak.
Dua daerah rawan lainnya selain Sumenep adalah Medan (351 kasus suspek) dan Deli Serdang (154), keduanya di Provinsi Sumatera Utara.
Ellya Fardasah, Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk, dan Keluarga Berencana (Dinkes P2KB) Sumenep, mengatakan, vaksin akan diberikan kepada 78.569 anak berusia sembilan bulan hingga tujuh tahun.
"Target kami adalah 95 persen dari angka tersebut, yaitu 70.271 anak. Target hariannya adalah 4,8 persen atau 3.346 anak dalam rentang usia tersebut," kata Ellya diwawancara CNA.
Namun, para ahli percaya bahwa kemajuan berkelanjutan dalam cakupan vaksinasi membutuhkan lebih dari sekadar kampanye. Hal ini membutuhkan edukasi berbasis masyarakat. Terutama dari para pemimpin agama, untuk melawan disinformasi dan meyakinkan keluarga bahwa vaksin penting bagi keselamatan anak.
Campak dalam Angka di Indonesia
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5329558/original/078647400_1756288862-1000862856.jpg)
Campak disebabkan oleh virus yang sangat menular yang ditularkan melalui droplet pernapasan dari batuk atau bersin. Gejalanya meliputi demam tinggi, batuk, pilek, mata merah, dan ruam merah yang muncul pertama kali di wajah dan menyebar ke seluruh tubuh.
Hingga 24 Agustus, Kementerian Kesehatan RI mengonfirmasi 46 wabah campak yang terverifikasi laboratorium di 42 kabupaten dan kota di 14 provinsi, ujar Direktur Imunisasi Prima Yosephine Berliana Tumiur Hutapea dalam konferensi pers.
Secara nasional, jumlah kumulatif kasus dugaan campak yang tercatat tahun ini telah mencapai 23.128 hingga Agustus 2025.
Dari angka tersebut, 20.710 sampel telah diperiksa di laboratorium, dengan hasil yang mengonfirmasi 3.444 kasus positif. Angka ini menandai peningkatan tajam dari tahun-tahun sebelumnya, yang mencatat 10.628 kasus pada tahun 2023 dan 3.520 kasus pada tahun 2024.
Hal ini menjadikan rasio positif campak di Indonesia proporsi kasus terkonfirmasi laboratorium di antara mereka yang diuji sebesar 16,6 persen pada tahun 2025.
Sebagai perbandingan, Indonesia mencatat 25.639 kasus dugaan pada tahun 2024, dengan 22.493 spesimen diuji dan 3.520 kasus terkonfirmasi positif rasio positif yang sedikit lebih rendah, yaitu 15,6 persen.
Pihak berwenang di Sumenep, Jawa Timur, menyatakan campak setelah melaporkan 2.139 kasus, termasuk 205 infeksi yang terkonfirmasi laboratorium dan 17 kematian per 24 Agustus. Di Kecamatan Bluto, Sumenep, 79 anak telah terinfeksi, menurut Kepala Puskesmas Bluto, Rifmi Utami.
"Kasus ringan diobati dan diisolasi di rumah dengan vitamin A dosis tinggi. Kasus berat memerlukan rawat inap,” kata Rifmi.
Advertisement
Kasus Paling Tragis
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3323371/original/081337900_1607930309-20201214-Vaksin-Campak-Pentablo-dan-Polio-penyuluhan-anak-anak-DWI-5.jpg)
Salah satu kasus paling tragis melibatkan seorang anak berusia empat tahun yang meninggal meskipun telah dilarikan ke rumah sakit. Lima anak saat ini sedang dirawat di rumah sakit, tambah Rifmi.
"Kematian akibat campak biasanya bukan hanya karena virusnya saja, melainkan karena komplikasi seperti pneumonia, radang otak, atau kejang," jelas Rifmi.
Ellya Fardasah, Kepala Dinkes P2KB Sumenep, mencatat bahwa sebagian besar pasien saat ini tidak memiliki riwayat vaksinasi.
"Saat ini, 89 persen kasus dugaan campak pada anak usia satu hingga empat tahun di Sumenep belum divaksinasi, dan tidak ada anak yang meninggal yang telah menerima vaksin campak," ujarnya kepada CNA.
Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kemenkes, Aji Muhawarman memaparkan sejumlah faktor mengapa kasus ini bisa terjadi. Menurut Aji, rendahnya cakupan imunisasi menjadi penyebab utama.
"Kalau anak tidak diimunisasi, mereka tidak punya perlindungan terhadap penyakit berbahaya seperti campak," ujarnya.
Kedua, terkait ramainya hoaks terkait vaksin yang akhirnya menyebabkan keraguan orang tua. "Ada orang tua yang ragu karena terpengaruh informasi keliru. Ini berisiko besar," ungkap Aji.
Ketiga, daya tular campak yang sangat tinggi karena virus menyebar melalui udara ketika penderita batuk atau bersin, terutama di lingkungan padat dan rumah dengan ventilasi buruk. Keempat, faktor gizi dan kerentanan campak menjangkit balita. Mengingat lebih dari separuh kasus di Sumenep menyerang balita.
"Anak dengan gizi buruk atau sakit berat jauh lebih rentan terkena campak dan mengalami komplikasi," kata Aji.
Kelima, adanya keterlambatan deteksi, sehingga ditemukan banyak orang tua yang membawa anak ke Fasilitas Pelayanan Kesehatan (Fasyankes) setelah kondisi parah. Hal ini memperbesar risiko penularan ke orang lain.
Aji menuturkan, bahwa campak bisa saja dicegah apabila semua anak diimunisasi. Dengan begitu kasus seperti ini tidak akan terulang kembali.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3267613/original/079814300_1602679710-Kejahatan_Siber.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8471519/original/070085400_1782374653-Tugas__40_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8519902/original/067689300_1782446978-Tugas__41_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8262299/original/014349800_1781777647-Tugas__37_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/avatars/3884478/original/ACg8ocLi6ElW7OHVGDKlBsa6GtZL7gmP_Ob7rD3yhXnJ0oNnQBKIHq7-%3Ds200.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2823408/original/068549400_1559806709-compako.jpg)


:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8615608/original/002262500_1782601852-063_2283621934.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8389880/original/043940700_1782270022-AP26174722689391.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8615223/original/052059800_1782601281-063_2283624238.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8392528/original/081634600_1782272943-000_B83Z88V.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8553933/original/032729600_1782499706-uzbek_2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8615333/original/040722200_1782601521-000_B8JQ6V9.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5540213/original/078998400_1774689981-AP26086742238879.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261027/original/025366000_1781675161-AP26168084988387.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261062/original/073105300_1781677236-063_2281989496.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8331592/original/085679400_1782201838-mesir.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263929/original/069841500_1782033777-portugal.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5580020/original/087479900_1778124108-Gemini_Generated_Image_dq4o5cdq4o5cdq4o.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4895998/original/057531400_1721381183-Screenshot_2024-07-19_162153.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8259699/original/014606400_1781510172-Prima_Yosephine_Dengue_Day.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2233920/original/010136500_1527754896-Bungkus-Rokok3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256516/original/001356600_1781160580-penyakit_langka.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256814/original/023312800_1781170685-WhatsApp_Image_2026-06-11_at_1.45.07_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256450/original/001326500_1781158947-siti_nadia__6_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5559990/original/038897500_1776655094-cuci_darah__3_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256411/original/070326700_1781156918-siti_nadia__5_.jpeg)