Kim Jong Un Desak Percepatan Ekspansi Senjata Nuklir, Sebut Latihan AS-Korea Selatan Berbahaya

Media Korea Utara melaporkan bahwa target percepatan senjata nuklir terus dipantau oleh pemerintahan Kim Jong Un.

Diterbitkan 19 Agustus 2025, 19:31 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Pyongyang - Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un pada Selasa (19/8/2025) menyerukan percepatan ekspansi kemampuan senjata nuklir negaranya. Ia menilai latihan militer gabungan Amerika Serikat dan Korea Selatan yang tengah berlangsung dapat memicu konflik berskala besar.

"Hubungan militer AS-Korea Selatan yang semakin intensif dan aksi pamer kekuatan adalah bukti paling nyata dari niat mereka memicu perang," ujar Kim, seperti dikutip Kantor Berita Pusat Korea (KCNA), Selasa (19/8).

Menurut Kim, situasi terkini menuntut perubahan radikal dalam strategi militer Korea Utara, termasuk mempercepat program nuklir.

"Kita harus melakukan transformasi cepat dalam teori dan praktik militer, sekaligus memperluas nuklirisasi secara intensif," tegasnya.

Pernyataan itu disampaikan saat Kim meninjau kapal perusak angkatan laut Choe Hyon pada Senin (18/8). Dalam kunjungan tersebut, ia menerima laporan mengenai sistem persenjataan kapal dan menyatakan puas dengan kemajuan modernisasi militer Korea Utara.

KCNA menyebut bahwa persiapan menuju target penilaian pada Oktober "berjalan sesuai rencana", termasuk langkah menjadikan angkatan laut bersenjata nuklir dan berteknologi tinggi.

 

Latihan Gabungan AS-Korsel

Sementara itu, Amerika Serikat dan Korea Selatan pada Senin (18/8) memulai latihan gabungan tahunan selama 11 hari. Militer AS menyebut latihan tersebut bersifat defensif, namun mencakup sejumlah simulasi perang dan latihan tembak langsung berskala besar untuk menghadapi potensi ancaman dari Pyongyang.

Di sisi lain, Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung pada Jumat lalu berjanji akan menghormati sistem politik Korea Utara serta membangun “kepercayaan militer” dengan Pyongyang. Sejak dilantik pada Juni, Lee berkomitmen melanjutkan dialog dengan Korea Utara tanpa prasyarat, berbeda dengan pendekatan konfrontatif pendahulunya.

Namun, tanda-tanda perbaikan hubungan masih jauh dari nyata.

Sehari sebelum pidato Lee, Kim Yo Jong — adik perempuan Kim Jong Un — menegaskan bahwa Korea Utara “tidak memiliki keinginan” untuk memperbaiki hubungan dengan Seoul. Ia juga membantah laporan yang menyebut Pyongyang telah menyingkirkan pengeras suara propaganda di perbatasan kedua negara.