Sejarah Alaska: Dulunya Dijual Rusia ke AS, Kini Jadi Lokasi Pertemuan Trump dan Putin

Dulunya dijual Rusia ke AS seharga USD 7,2 juta. Kini menjadi sorotan sebagai lokasi pertemuan Donald Trump dan Vladimir Putin.

Diterbitkan 15 Agustus 2025, 18:35 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Washington D.C - Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin dijadwalkan bertemu di Anchorage, Alaska, pada 15 Agustus 2025. Pertemuan puncak ini akan berlangsung di Joint Base Elmendorf-Richardson, sebuah instalasi militer AS yang terletak di tepi utara kota terpadat Alaska.

Agenda utama yang akan dibahas meliputi perang di Ukraina serta potensi kerja sama ekonomi antara Washington D.C dan Moskow. Trump juga mengisyaratkan adanya diskusi mengenai "pertukaran lahan" sebagai bagian dari upaya penyelesaian konflik yang lebih luas.

Perhelatan ini menandai pertemuan tatap muka pertama antara kedua pemimpin sejak pertemuan Presiden Joe Biden dan Putin di Jenewa pada tahun 2021. Pemilihan Alaska sebagai lokasi pertemuan membawa makna historis yang mendalam, mengingat masa lalu wilayah ini sebagai koloni Rusia.

Sejarah Penjualan Alaska dari Rusia ke Amerika Serikat

Alaska, yang dikenal sebagai "Tanah Luas" atau "Alyeska", menjadi negara bagian ke-49 Amerika Serikat pada 3 Januari 1959. Namun, wilayah ini telah dibeli hampir seabad sebelumnya. Rusia sendiri telah mendirikan kehadiran kolonial di sebagian Amerika Utara pada paruh pertama abad ke-19, meskipun hanya sedikit orang Rusia yang menetap di Alaska.

Pada tahun 1799, Kaisar Paul I memberikan monopoli kepada "Perusahaan Rusia-Amerika" untuk mengelola Alaska. Perusahaan ini mendirikan pemukiman seperti Sitka, yang kemudian menjadi ibu kota kolonial setelah Rusia berhasil mengalahkan suku Tlingit pada tahun 1804.

Ambisi Rusia di Alaska menghadapi banyak tantangan. Jarak yang sangat jauh dari St. Petersburg, iklim yang keras, kekurangan pasokan, dan persaingan dari penjelajah Amerika menjadi kendala utama dalam pengelolaan wilayah tersebut. Kondisi ini membuat Alaska menjadi beban yang semakin berat bagi Kekaisaran Rusia.

Kaisar Alexander II dari Rusia mulai mempertimbangkan penjualan Alaska setelah kekalahan telak dalam Perang Krimea (1853–56). Ia menyadari bahwa wilayah tersebut akan sulit dipertahankan dari Inggris dalam potensi perang di masa depan, mengingat keterbatasan sumber daya Rusia.

Alaska Jadi Beban Ekonomi Bagi Rusia

 

Alaska telah menjadi beban ekonomi yang signifikan bagi Rusia. Biaya dan kesulitan logistik dalam memasok wilayah tersebut sangat tinggi, ditambah lagi dengan utang yang menumpuk akibat Perang Krimea. Penjualan dianggap sebagai solusi untuk mengurangi beban finansial negara.

Rusia juga lebih memilih untuk menjual Alaska kepada Amerika Serikat, yang dianggap sebagai kekuatan yang bersahabat. Daripada berisiko wilayah tersebut jatuh ke tangan Inggris, yang dianggap sebagai musuh utama, Rusia melihat AS sebagai pembeli yang lebih strategis dan aman.

Rusia pertama kali menawarkan penjualan Alaska kepada Amerika Serikat pada tahun 1859. Namun, pecahnya Perang Saudara AS menunda negosiasi penting ini selama beberapa tahun, hingga situasi politik di AS kembali stabil.

Setelah Perang Saudara berakhir pada tahun 1865, Menteri Luar Negeri AS William H. Seward melanjutkan tawaran Rusia. Seward, yang dikenal sebagai politikus ulung, bekerja sama dengan diplomat Rusia Eduard de Stoeckl untuk mencapai kesepakatan.

Seward dan Stoeckl akhirnya menyepakati perjanjian penjualan pada 30 Maret 1867. Harga pembelian ditetapkan sebesar USD 7,2 juta atau lebih dari USD 150 juta dalam nilai uang saat ini, dengan perkiraan dua sen per acre. Senat Amerika Serikat meratifikasi perjanjian tersebut pada 15 Mei 1867, dan kedaulatan Amerika secara hukum berlaku di seluruh wilayah pada 18 Oktober 1867. Upacara penyerahan berlangsung di Sitka pada tanggal tersebut, di mana bendera Rusia diturunkan dan bendera AS dikibarkan.

Reaksi terhadap Pembelian Alaska di kalangan orang Amerika sebagian besar positif. Banyak yang percaya bahwa Alaska akan berfungsi sebagai basis penting untuk memperluas perdagangan Amerika di Asia, membuka peluang ekonomi baru.

Meskipun demikian, beberapa penentang menyebut pembelian ini sebagai "Seward's Folly" atau "Seward's Icebox". Mereka berpendapat bahwa Amerika Serikat telah mengakuisisi tanah yang tidak berguna dan hanya membuang-buang uang negara.

Sebagian besar pemukim Rusia meninggalkan Alaska setelah pembelian. Wilayah tersebut tetap jarang penduduknya hingga Demam Emas Klondike dimulai pada tahun 1896, yang kemudian membuktikan nilai ekonomi dan strategis Alaska. Pentingnya strategis Alaska diakui secara bertahap, terutama selama Perang Dunia II dan Perang Dingin, menjadikannya "garis pertahanan pertama" Amerika.

Pertemuan Donald Trump dan Vladimir Putin di Alaska

 

Trump mengungkapkan bahwa tujuannya adalah untuk mendapatkan gencatan senjata dari Vladimir Putin. Ia berharap pertemuan ini dapat menghasilkan ide fundamental bahwa Putin bersedia mengakhiri perang, membuka jalan bagi perdamaian di kawasan tersebut.

Alaska secara geografis merupakan titik terdekat antara Amerika Serikat dan Rusia. Keduanya hanya dipisahkan oleh Selat Bering sejauh 55 mil, menjadikannya lokasi yang strategis dan simbolis untuk pertemuan diplomatik.

Kehadiran Vladimir Putin di Alaska, yang dulunya merupakan bekas koloni Rusia, memiliki makna simbolis yang mendalam. Hal ini mengingatkan pada ikatan sejarah yang kuat antara wilayah tersebut dengan tanah airnya, menambah dimensi unik pada pertemuan tersebut.

Selain itu, Alaska juga memiliki kepentingan strategis yang besar terkait sumber daya energi Arktik, jalur pelayaran, dan penelitian iklim. Faktor-faktor ini dapat membentuk pembicaraan Trump-Putin mengenai akses ke mineral penting dan pasokan energi, yang semakin krusial di pasar global pasca-konflik Ukraina.