Meteorit yang Hantam Rumah di AS Lebih Tua daripada Bumi, Berapa Usianya?

Benda angkasa luar, yang kini diberi nama Meteorit McDonough, itu merupakan meteorit ke-27 yang berhasil ditemukan di Georgia.

Diperbarui 12 Agustus 2025, 12:07 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Washington, DC - Sebuah meteorit yang jatuh menimpa sebuah rumah di Amerika Serikat (AS) ternyata lebih tua daripada planet Bumi.

Sebagaimana dikonfirmasi oleh NASA, benda padat dari angkasa luar itu melesat melintasi langit di siang bolong sebelum meledak di atas wilayah Negara Bagian Georgia pada 26 Juni.

Para peneliti di University of Georgia kemudian meneliti sebuah fragmen batu yang menembus atap rumah di Kota McDonough.

Mereka menemukan bahwa, berdasarkan jenisnya, meteorit tersebut diperkirakan terbentuk sekitar 4,56 miliar tahun yang lalu, sehingga usianya kira-kira 20 juta tahun lebih tua daripada Bumi. Demikian seperti dilansir BBC.

Warga di Georgia dan negara bagian terdekat melaporkan ratusan penampakan dan suara dentuman keras ketika bola api tersebut melesat di langit.

Batu itu cepat menyusut ukurannya dan melambat lajunya, namun masih bergerak setidaknya 1 km per detik hingga menembus atap sebuah rumah di Henry County.

Beberapa fragmen yang menghantam bangunan itu diserahkan kepada para ilmuwan, yang kemudian menganalisis asal-usulnya.

"Meteorit, yang memasuki atmosfer, memiliki sejarah panjang sebelum akhirnya sampai ke tanah di McDonough," kata Scott Harris, ahli geologi di University of Georgia.

Dengan menggunakan mikroskop optik dan mikroskop elektron, Harris dan timnya menemukan bahwa batu itu adalah kondrit. Menurut NASA, kondrit merupakan jenis meteorit batu yang paling umum ditemukan di Bumi. Berdasarkan jenisnya, batu ini diperkirakan berusia sekitar 4,56 miliar tahun.

Pemilik rumah mengatakan dia masih menemukan serpihan debu luar angkasa di sekitar rumahnya akibat hantaman tersebut.

"Dulu hal seperti ini hanya diharapkan terjadi sekali dalam beberapa dekade, bukan berkali-kali dalam 20 tahun," tutur Harris. "Teknologi modern, ditambah dengan perhatian publik, akan membantu kita menemukan semakin banyak meteorit."

Harris berharap dapat memublikasikan temuannya mengenai komposisi dan kecepatan asteroid tersebut, yang akan membantu memahami ancaman dari asteroid di masa depan.

"Suatu hari nanti mungkin saja — dan kita tidak pernah tahu kapan — sesuatu yang besar menabrak dan menimbulkan situasi yang katastrofis. Jika kita bisa mengantisipasinya, tentu kita ingin melakukannya," imbuhnya.