Netanyahu Ribut dengan Panglima Militer Israel soal Rencana Pendudukan Total Gaza

Perselisihan keduanya ikut menyeret anak Netanyahu.

Diperbarui 06 Agustus 2025, 17:07 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Tel Aviv - Perdana Menteri Benjamin Netanyahu dan Kepala Staf Angkatan Pertahanan Israel (IDF) Eyal Zamir dikabarkan terlibat perselisihan terkait rencana untuk menduduki Gaza sepenuhnya. Zamir berargumen bahwa keputusan tersebut merupakan sebuah "jebakan" bagi IDF.

Keduanya juga dilaporkan terlibat ketegangan, menurut media berbahasa Ibrani, akibat unggahan di platform X oleh Yair Netanyahu — putra sang perdana menteri yang tidak memegang jabatan apa pun di pemerintahan. Dalam unggahannya, Yair melontarkan serangan tajam yang tidak langsung kepada Zamir, dengan menuduhnya sebagai dalang upaya kudeta militer. Demikian seperti dilansir The Times of Israel.

Zamir menolak tuduhan tersebut dan menurut lembaga penyiaran publik nasional Israel, Kan, dia menyampaikan dalam pertemuan yang sama, "Kenapa Anda menyerang saya? Kenapa Anda justru memusuhi saya di tengah situasi perang seperti ini?"

Netanyahu dilaporkan merespons, "Jangan ancam akan mundur lewat media. Saya tidak bisa menerima jika setiap kali rencana Anda tidak disetujui, Anda mengancam akan mundur. Anak saya sudah 33 tahun, dia pria dewasa."

Zamir telah berulang kali berselisih dengan kabinet dan sumber di Kantor Perdana Menteri menyebutkan bahwa jika dia menolak rencana pendudukan Gaza maka dia dipersilakan untuk mengundurkan diri.

Kepala staf IDF itu juga dilaporkan mengatakan dalam pembahasan pada Selasa (5/8/202) bahwa pendudukan penuh akan membahayakan sandera yang masih ditahan di Gaza dan akan semakin membebani militer.

Perkiraan Rencana Pendudukan Penuh Gaza Diputuskan

Ketegangan ini merupakan yang terbaru dari serangkaian ketidaksepakatan antara kabinet dan petinggi IDF. Perdebatan itu dilaporkan terjadi dalam pertemuan selama tiga jam yang melibatkan sekelompok kecil menteri, menjelang pemungutan suara kabinet untuk menyetujui rencana pendudukan.

Netanyahu dikabarkan telah memutuskan untuk melanjutkan rencana pendudukan, yang telah lama menjadi tuntutan mitra koalisinya dari kelompok sayap kanan jauh, setelah negosiasi dengan Hamas menemui jalan buntu dalam beberapa pekan terakhir.

"Anda akan menciptakan jebakan di Gaza," kata Zamir kepada Netanyahu seperti dilaporkan Kan.

Channel 12 Israel yang mengutip Zamir menyebutkan bahwa pendudukan akan secara signifikan membahayakan nyawa para sandera dan menguras kekuatan militer.

Zamir, menurut kedua media tersebut, merekomendasikan agar alih-alih menaklukkan seluruh wilayah, IDF mengepung Kota Gaza dan kemungkinan juga pusat-pusat populasi lainnya, lalu menggunakan posisi itu untuk melancarkan serangan.

Situs berita Walla melaporkan bahwa kepala staf IDF itu menyarankan pendekatan bertahap.

Netanyahu dilaporkan merespons dengan memerintahkan Zamir untuk menyiapkan rencana pendudukan Gaza dan menyajikannya kepada kabinet. Kan melaporkan bahwa ketika Zamir mengatakan dia sudah menyajikan rencana tersebut, perdana menteri menjawab, "Perbaiki dan presentasikan ulang."

Dalam pernyataan yang dirilis usai pertemuan, kantor Netanyahu menyatakan, "IDF siap melaksanakan keputusan apa pun yang dibuat oleh kabinet keamanan".

Kabinet keamanan sendiri diperkirakan akan mengadakan pertemuan pada Kamis (7/8) untuk menyetujui rencana pendudukan.

Berapa Sandera yang Tersisa di Gaza

Saat ini, IDF menguasai sekitar 75 persen wilayah Gaza. Namun, dalam rencana baru yang diajukan pemerintah, militer akan diminta untuk menduduki seluruh wilayah yang tersisa — yang berarti membawa seluruh Gaza berada di bawah kendali penuh Israel.

Belum jelas apa dampak dari langkah semacam itu bagi jutaan warga sipil di Gaza maupun bagi kelompok-kelompok kemanusiaan yang beroperasi di wilayah tersebut.

Perang di Gaza pecah pada 7 Oktober 2023, ketika kelompok bersenjata yang dipimpin Hamas menyerbu Israel. Serangan itu, menurut otoritas Israel, menewaskan sekitar 1.200 orang dan menyandera 251 lainnya.

Sejak itu, sejumlah sandera telah dibebaskan melalui kesepakatan dan operasi militer. Dalam masa gencatan senjata antara Januari dan Maret 2024, Hamas membebaskan 30 sandera — terdiri dari 20 warga sipil Israel, lima tentara, dan lima warga negara Thailand — serta menyerahkan delapan jenazah sandera.

Pada Mei, satu sandera tambahan, seorang warga negara ganda Amerika Serikat–Israel, juga dibebaskan.

Sebelumnya, dalam gencatan senjata selama sepekan pada akhir November 2023, Hamas membebaskan 105 warga sipil. Empat sandera lainnya dibebaskan lebih awal, pada minggu-minggu pertama perang.

Delapan sandera berhasil diselamatkan dalam keadaan hidup oleh pasukan Israel. Sementara itu, jenazah 49 sandera telah ditemukan — termasuk tiga yang secara tragis tertembak oleh tentara Israel saat mencoba melarikan diri, serta satu jenazah tentara yang gugur pada tahun 2014.

Dengan demikian, dari total 251 sandera yang diculik, 197 orang telah dibebaskan, diselamatkan, atau ditemukan dalam keadaan meninggal.

Hingga kini, sekitar 50 sandera masih diyakini berada di Gaza. Setidaknya 20 dari mereka diperkirakan masih hidup, sementara 28 lainnya telah dikonfirmasi tewas. Israel juga menyatakan keprihatinan serius terhadap dua sandera lain yang statusnya belum jelas.