UNFCCC: Indonesia Buktikan Ambisi Iklim dan Pembangunan Ekonomi Bisa Sejalan

Simon Stiell menyebut aksi iklim tidak hanya soal angka atau target pengurangan emisi, melainkan soal manusia.

Diperbarui 26 Juli 2025, 14:13 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Sekretaris Eksekutif Kantor PBB untuk Koordinasi Kerja Perubahan Iklim (United Nations Framework Convention on Climate Change) Simon Stiell memuji Indonesia sebagai contoh nyata bahwa ambisi iklim dan pembangunan ekonomi tidak saling bertentangan, tetapi justru dapat berjalan beriringan.

Hal itu ia sampaikan pidatonya di Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) yang diselenggarakan oleh Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) di Jakarta pada Sabtu (26/7/2025).

"Indonesia menunjukkan kepada dunia bahwa ambisi iklim dan pembangunan ekonomi bukanlah dua hal yang saling bertolak belakang," kata Stiell dalam pidatonya.

Ia menekankan bahwa aksi iklim tidak hanya soal angka atau target pengurangan emisi, melainkan soal manusia -- komunitas, keluarga, dan generasi masa depan yang berhak atas kehidupan yang lebih baik.

Di tengah pembahasan mengenai emisi gas rumah kaca dan transisi energi bersih, Stiell menyampaikan optimisme terhadap langkah Indonesia dalam menyusun Nationally Determined Contributions (NDC) yang baru. Ia menyebut bahwa jika rencana tersebut dilakukan dengan tepat dan ambisius, maka NDC berikutnya bisa menjadi fondasi kuat menuju Indonesia yang netral karbon pada tahun 2060.

"Percepatan transisi energi bersih dan berkeadilan akan menciptakan jutaan pekerjaan baru dan menarik investasi dalam jumlah besar," tambahnya. Ia mencatat bahwa kapasitas energi terbarukan Indonesia telah meningkat 40 persen sejak 2019, termasuk hampir 1.000 megawatt tambahan pada tahun ini saja.

 

Puji Presiden Prabowo

Stiell juga memberikan apresiasi terhadap kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dalam isu perubahan iklim. Ia menyebut komitmen Indonesia untuk mencapai emisi nol bersih pada 2060 dan akselerasi energi bersih sebagai "pesan kuat kepada dunia" bahwa masa depan akan dibangun dengan cara yang lebih berkelanjutan.

Dalam pidatonya, Stiell mengingatkan bahwa transisi menuju energi bersih bukan sekadar pengurangan emisi, tetapi sebuah "transformasi menuju harapan." Ia menekankan bahwa menunda aksi iklim bukanlah pilihan netral, karena setiap tahun tanpa tindakan nyata akan memperbesar risiko bagi masyarakat, ekosistem, dan ekonomi global.

"Kita hidup di dekade yang menentukan. Menunda bukan pilihan," ujar Stiell. Ia juga menyoroti semangat gotong royong sebagai nilai penting dalam mengatasi krisis iklim, seraya menegaskan bahwa UN Climate Change siap menjadi mitra Indonesia dalam perjalanan menuju masa depan rendah karbon.