Panas Ekstrem Tutup Menara Eiffel, Industri Wisata Eropa Terancam oleh Krisis Iklim

Suhu di sejumlah negara Eropa mencatat lebih dari 35 derajat Celcius.

Diterbitkan 02 Juli 2025, 21:11 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Paris - Musim panas yang biasanya menjadi puncak kejayaan pariwisata Eropa kini berubah menjadi mimpi buruk. Gelombang panas ekstrem yang melanda benua ini tidak hanya memecahkan rekor suhu, tetapi juga menghantam langsung sektor pariwisata, salah satunya dengan penutupan puncak Menara Eiffel untuk pengunjung.

Penutupan ini berlangsung Selasa dan Rabu, di tengah suhu menyengat yang melanda ibu kota Prancis. Otoritas pengelola landmark ikonik itu menyampaikan permintaan maaf kepada para turis dan mengimbau mereka untuk melindungi diri dari panas dan tetap terhidrasi.

"Ini bukan sekadar cuaca buruk, tapi bukti nyata bahwa perubahan iklim sedang mengubah wajah industri pariwisata dunia," ujar seorang pakar iklim dari Paris kepada media lokal, seperti mengutip CNN, Rabu (2/7/2025). 

Selama bertahun-tahun, musim panas di Eropa menjadi magnet bagi jutaan pelancong. Namun, suhu yang mencapai 46 derajat Celcius di Spanyol dan Portugal, serta 100 derajat Fahrenheit (sekitar 38 derajat Celcius) di beberapa wilayah Prancis, membuat banyak wisatawan membatalkan atau menyesuaikan rencana liburan mereka.

Pemandangan para wisatawan yang berteduh di bawah mist fan di Spanyol, atau mengenakan payung di tengah kota Lisbon, menjadi hal umum minggu ini. Di Inggris, gelombang panas kedua dalam sebulan menambah tekanan pada sektor pariwisata lokal yang belum pulih sepenuhnya dari pandemi.

Kebakaran Luas

Di luar Prancis, kebakaran hebat menyapu wilayah Aude dan Turki, menyebabkan ribuan orang dievakuasi. Temperatur ekstrem juga menyebabkan pembatalan acara luar ruang, keterbatasan layanan transportasi, dan peningkatan risiko kesehatan bagi wisatawan lanjut usia.

Situasi ini menunjukkan bahwa pariwisata tidak kebal terhadap krisis iklim. Landmark seperti Menara Eiffel, yang biasanya menjadi daya tarik utama, kini juga harus mempertimbangkan faktor keselamatan dan suhu ekstrem dalam operasionalnya.

Gelombang panas kali ini dipicu oleh dua elemen utama: pemanasan luar biasa di Laut Mediterania — hingga 9 derajat Celcius di atas normal — dan fenomena “heat dome”, yakni sistem tekanan tinggi yang menjebak panas di atmosfer.

Keduanya saling memperkuat: laut yang panas mempertinggi kelembaban udara, sementara udara panas dari Afrika memperparah kondisi di darat — menciptakan siklus berbahaya yang semakin sulit dikendalikan.