Hamas Berencana Bebaskan Sandera AS, Upaya Menuju Gencatan Senjata

Pembebasan ini disebut sebagai bagian dari upaya menuju kesepakatan gencatan senjata dan memperlancar masuknya bantuan kemanusiaan ke wilayah Gaza.

Diterbitkan 12 Mei 2025, 14:02 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Gaza - Hamas mengumumkan rencananya untuk membebaskan Edan Alexander, sandera berkewarganegaraan ganda Israel-Amerika, yang diyakini sebagai satu-satunya warga negara AS yang masih ditahan di Gaza.

Pembebasan ini disebut sebagai bagian dari upaya menuju kesepakatan gencatan senjata dan memperlancar masuknya bantuan kemanusiaan ke wilayah yang telah diblokade selama lebih dari dua bulan, dikutip dari laman BBC, Senin (12/5/2025).

Langkah ini muncul menjelang kunjungan Presiden Donald Trump ke Timur Tengah pada Selasa mendatang. Dalam pernyataannya, Hamas menyebut keputusan ini diambil untuk memfasilitasi masuknya makanan, obat-obatan, dan kebutuhan penting lainnya ke Gaza yang telah berada dalam kondisi darurat akibat blokade total Israel selama 70 hari.

Seorang pejabat senior Hamas mengatakan kepada BBC bahwa pembicaraan terkait pembebasan Alexander dilakukan secara langsung dengan seorang utusan dari pemerintahan AS di Qatar. Sementara itu, kantor Perdana Menteri Israel menyatakan bahwa mereka telah mendapat informasi dari pihak AS mengenai niat Hamas tersebut.

Menurut seorang sumber Palestina yang mengikuti proses negosiasi, pengumuman Hamas dimaksudkan sebagai tanda itikad baik menjelang kedatangan Presiden Trump. Ia menambahkan bahwa pertemuan lanjutan antara Hamas dan para mediator dijadwalkan berlangsung pada Senin pagi untuk memfinalisasi proses pembebasan. Proses tersebut diperkirakan memerlukan penghentian sementara operasi militer Israel, termasuk penangguhan serangan udara saat penyerahan sandera berlangsung. 

Presiden Trump membenarkan kabar ini melalui unggahan di Truth Social, menyebutnya sebagai “berita monumental” dan “langkah positif penuh itikad baik.” 

 

Fakta Edan Alexander

Edan Alexander, 21 tahun, lahir di Tel Aviv dan dibesarkan di New Jersey. Ia bertugas di unit infanteri elit Israel yang ditempatkan di perbatasan Gaza. Ia ditangkap oleh militan Hamas dalam serangan mendadak pada 7 Oktober 2023. Dari total 251 orang yang disandera dalam serangan tersebut, 59 orang masih berada di Gaza. Diperkirakan hingga 24 dari mereka masih hidup, dan Alexander disebut sebagai satu-satunya warga negara AS yang diyakini masih bertahan.

Hamas menyatakan bahwa pembebasan ini adalah bagian dari langkah menuju gencatan senjata yang lebih luas dan penyelesaian konflik secara menyeluruh. Dalam pernyataannya, kelompok itu menegaskan keinginannya untuk mencapai kesepakatan akhir guna mengakhiri perang dan membuka jalur bantuan kemanusiaan.

Menanggapi hal ini, Kantor Perdana Menteri Israel menyebutkan bahwa mereka melihat langkah Hamas sebagai isyarat terhadap Amerika Serikat, dan berharap hal ini dapat membuka ruang negosiasi lebih lanjut terkait para sandera lainnya. Meski begitu, pemerintah Israel menegaskan bahwa mereka akan tetap melanjutkan operasi militer sesuai dengan tujuan utama mereka dalam perang ini, sambil tetap membuka peluang diplomasi di tengah konflik.