Putin: Tidak Ada Kebutuhan Gunakan Senjata Nuklir di Ukraina

Ketakutan akan eskalasi nuklir telah menjadi salah satu pertimbangan dalam pandangan para pejabat AS sejak Rusia menginvasi Ukraina pada awal 2022. Mantan Direktur CIA William Burns,pernah mengatakan bahwa akhir 2022, terdapat risiko nyata bahwa Rusia bisa saja menggunakan senjata nuklir terhadap Ukraina.

Diperbarui 06 Mei 2025, 13:05 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Moskow - Presiden Vladimir Putin mengatakan bahwa Rusia memiliki kekuatan dan sarana untuk membawa perang di Ukraina menuju akhir yang logis.

Pernyataan ini dia sampaikan dalam wawancara dengan media pemerintah Rusia, di tengah upaya internasional yang sejauh ini belum berhasil menghentikan perang di Ukraina, lebih dari tiga tahun sejak Putin melancarkan invasi skala penuhnya.

"Kami memiliki cukup kekuatan dan sarana untuk membawa apa yang dimulai pada 2022 ini menuju kesimpulan logis dengan hasil yang diinginkan Rusia," kata Putin, menurut cuplikan wawancara dengan televisi pemerintah, seperti dilansir Politico.

Dalam wawancara tersebut, Putin mengatakan bahwa tidak ada kebutuhan untuk menggunakan senjata nuklir dalam konflik di Ukraina.

"Tidak ada kebutuhan untuk menggunakan senjata (nuklir) tersebut... dan saya berharap senjata itu memang tidak akan dibutuhkan," ujar Putin menanggap pertanyaan tentang serangan Ukraina ke wilayah Rusia. 

Pada November 2024, Putin menandatangani doktrin nuklir Rusia yang telah diperbarui, yang menjelaskan situasi-situasi di mana Rusia akan menggunakan persenjataan nuklirnya, yang merupakan yang terbesar di dunia. Dokumen tersebut menurunkan ambang batas penggunaan senjata nuklir sebagai respons terhadap berbagai jenis serangan konvensional yang lebih luas.

Gencatan Senjata Sepihak Rusia

Pada Senin, Putin mengumumkan gencatan senjata sementara selama tiga hari mulai 8 Mei untuk memperingati berakhirnya Perang Dunia II. Menanggapi hal itu, Menteri Luar Negeri Ukraina Andrii Sybiha menyerukan agar gencatan senjata diperpanjang setidaknya selama 30 hari, mengulang proposal dari Kyiv yang sejauh ini belum direspons oleh Moskow.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy menolak pengumuman gencatan senjata sepihak selama 72 jam oleh Rusia dengan mengatakan ini hanyalah sebuah "pertunjukan teatrikal" dan merupakan upaya untuk menciptakan "suasana yang lunak" menjelang perayaan di Rusia.

Pada Sabtu (3/5) malam, Zelenskyy mengatakan bahwa Kyiv "Siap bergerak menuju gencatan senjata secepat mungkin — bahkan mulai hari ini — jika Rusia bersedia mengambil langkah timbal balik — untuk menciptakan keheningan total, gencatan senjata yang berkelanjutan setidaknya selama 30 hari."

"Namun, intensitas serangan Rusia saat ini tidak menunjukkan apa pun selain keinginan Rusia untuk terus berperang," kata Zelenskyy.