Lebih dari 65 Persen Orang Dewasa di China Diprediksi Obesitas pada 2030

Setelah puluhan tahun berjuang menghadapi kelaparan, Tiongkok kini menghadapi krisis obesitas.

Diterbitkan 07 April 2025, 08:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Beijing - Tiongkok, negara yang enam hingga tujuh dekade lalu dilanda kelaparan hebat, kini menghadapi ancaman sebaliknya: krisis obesitas.

Pemerintah China memperingatkan bahwa pada tahun 2030, lebih dari 65 persen orang dewasa di negara itu bisa mengalami kelebihan berat badan atau obesitas, jika tidak ada langkah konkret yang diambil segera.

Mengutip SCMP, Senin (7/4/2025), situasi ini menimbulkan kekhawatiran serius, mengingat penyakit kronis seperti hipertensi, diabetes, dan gangguan kardiovaskular bisa memperberat beban sistem kesehatan nasional. Sebagai respons, tahun lalu Komisi Kesehatan Nasional (NHC) bersama sejumlah kementerian meluncurkan rencana tiga tahun untuk menangani masalah ini. Rencana tersebut mencakup panduan pola makan sehat dan peningkatan aktivitas fisik.

Langkah terbaru pemerintah diumumkan bulan lalu, yakni dengan memperkenalkan klinik manajemen berat badan multidisipliner di berbagai rumah sakit di seluruh negeri.

Sebuah studi yang diterbitkan di The Lancet bulan lalu menunjukkan bahwa pada 2021, jumlah orang dewasa di Tiongkok yang kelebihan berat badan atau obesitas telah melampaui 400 juta—jauh lebih tinggi dibanding India (180 juta) dan Amerika Serikat (172 juta). Angka ini diperkirakan akan naik menjadi 630 juta pada 2050.

Studi tersebut menggunakan definisi obesitas dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), yaitu indeks massa tubuh (BMI) di atas 30. Namun, pemerintah Tiongkok menetapkan ambang batas berbeda: BMI di atas 24 dianggap kelebihan berat badan dan di atas 28 dikategorikan obesitas.

Berdasarkan definisi nasional, NHC menyebut bahwa sebuah studi resmi memprediksi 65 persen orang dewasa Tiongkok akan masuk dalam kategori kelebihan berat badan atau obesitas pada 2030. Beban biaya pengobatan pun diperkirakan melonjak hingga 418 miliar yuan (sekitar US$57 miliar), setara dengan 22 persen anggaran kesehatan nasional—naik tajam dari 8 persen pada 2022.

 

Sulit Mengubah Gaya Hidup

Zhang Wenhong, pakar penyakit menular yang berbicara dalam pertemuan legislatif nasional bulan lalu, menegaskan bahwa sistem kesehatan akan “menargetkan perut buncit” dan berfokus pada program penurunan berat badan.

Namun, bagi sebagian warga, mengubah gaya hidup bukan perkara mudah. Wang Xiaoni (33), pegawai bank di Shanghai, mengaku berat badannya naik drastis akibat stres kerja dan ketidakpastian ekonomi. Ia kerap makan berlebihan saat merasa tertekan dan tidak punya waktu untuk berolahraga. “Teman-teman kuliah saya bahkan hampir tidak mengenali saya lagi,” ujarnya.

Keberadaan layanan pesan antar juga memperparah situasi. Wang mengaku sulit menolak camilan seperti keripik, permen, dan bubble tea. “Saya termotivasi untuk berubah, tapi godaannya besar sekali.”

Tak hanya orang dewasa, masalah obesitas juga mulai menjangkiti anak-anak. NHC memperkirakan bahwa hampir sepertiga anak-anak Tiongkok berusia di atas tujuh tahun akan mengalami kelebihan berat badan atau obesitas pada 2030—naik dari 19 persen pada 2018.

Sebagai langkah pencegahan, Kementerian Pendidikan telah mewajibkan penambahan indeks massa tubuh (BMI) dalam penilaian pendidikan jasmani. Sekolah juga diminta menyisihkan setidaknya satu jam per hari untuk aktivitas luar ruangan, mengurangi beban tugas rumah, serta memperpanjang waktu istirahat dari 10 menjadi 15 menit.