Sukses

Ukraina Berlakukan Pemadaman Listrik Darurat Usai Serangan Rusia

Liputan6.com, Kyiv - Ukraina memberlakukan pemadaman listrik darurat baru saat mencoba memperbaiki infrastruktur energi yang rusak akibat serangan udara Rusia yang menurut operator jaringan nasional telah menyebabkan kekurangan pasokan yang signifikan.

Rusia menghantam fasilitas listrik di seluruh Ukraina dalam gelombang serangan besar terbaru pada Senin kemarin di saat konsumsi energi biasanya meningkat karena musim dingin tiba.

“Pada pukul 11 pagi tanggal 8 Desember, karena kerusakan yang disebabkan oleh serangan rudal ke pembangkit listrik dan jaringan bertegangan tinggi, sistem mengalami kekurangan listrik yang signifikan,” kata operator jaringan Ukrenergo, dikutip dari Straits Times, Jumat (8/12/2022).

Dikatakan situasinya diperumit oleh cuaca, dengan wilayah barat menghadapi embun beku, hujan, salju, dan angin kencang yang menyebabkan kabel-kabel menutupi es, tetapi situasi yang paling sulit adalah di wilayah timur di mana pertempuran paling sengit terjadi.

“Di semua wilayah, ada kekurangan energi hingga sepertiga dari yang dibutuhkan,” kata Oleksandr Starukh, gubernur wilayah Zaporizhzhia di tenggara Ukraina.

Serangan Senin kemarin dimulai saat pemadaman darurat akan berakhir, dengan kerusakan sebelumnya diperbaiki. DTEK, produsen listrik swasta terbesar Ukraina, mengatakan bahwa ada pemadaman listrik darurat di ibu kota Kyiv, Odessa dan di Dnipro, Ukraina tengah.

Rusia, yang menginvasi Ukraina pada Februari 2022 dan telah meningkatkan serangan terhadap fasilitas energi dalam beberapa pekan terakhir.

Rusia mengatakan, serangan terhadap infrastruktur vital adalah sah secara militer. Ukraina mengatakan bahwa serangan yang dimaksudkan untuk menyebabkan kesengsaraan sipil adalah kejahatan perang.

Walikota Kyiv Vitali Klitschko memperingatkan skenario "kiamat" untuk ibukota pada musim dingin ini jika serangan udara Rusia terus berlanjut. Dia mengatakan bahwa orang tidak perlu mengungsi sekarang, tetapi mereka harus siap melakukannya.

Pemadaman listrik semakin sering terjadi dan pemerintah mengimbau masyarakat untuk melakukan penghematan energi dengan mengurangi penggunaan peralatan rumah tangga seperti oven, mesin cuci, ceret listrik, dan setrika.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Rusia Kirim Rudal Gelombang ke-8 ke Ukraina

Rusia kembali menembakan rudal ke Ukraina. Gangguan listrik kembali dilaporkan di Ukraina, terutama di bagian timur.

Dilaporkan BBC, Selasa (6/12/2022), pihak Ukraina berkata ada empat orang tewas dalam serangan terbaru ini. Serangan ini merupakan gelombang ke delapan dalam delapan pekan terakhir. 

Rusia berkata berhasil mengenai semua targetnya yang berjumlah 17 dalam serangan ini. Namun, Ukraina mengaku telah menangkal 60 dari 70 rudal yang ditembakkan Rusia.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky berkata serangan Rusia turut mengenai persediaan listrik di Moldova. Aksi Rusia tersebut disebutnya sebagai serangan teroris.

"Ini sekali lagi membuktikan kemampuan Rusia untuk melaksanakan serangan-serangan teroris yang masif adalah ancaman yang tak hanya kepada Ukraina, tetapi ke seluruh kawasan," ujar Presiden Volodymyr Zelensky pada Senin malam.

Sebelumnya, serangan-serangan Rusia mengenai grid energi Ukraina. Jutaan orang pun kehilangan listrik dan penghangat, padahal musim dingin sedang tiba. Namun, serangan pekan ini tak separah yang sebelumnya.

Peringatan terhadap serangan Rusia ini telah beredar selama beberapa hari. Serangan terjadi beberapa jam setelah ada ledakan di dua pangkalan udara di Rusia. Pemerintah Rusia menyalahkan drones Ukraina.

Menteri Pertahanan Rusia berkata ada tiga prajurit tewas dan dua pesawat rusak ringan akibat ledakan tersebut. Pihak Ukraina belum berkomentar mengenai hal ini.

BBC mencatat serangan skala besar kepada power grid di Ukraina terjadi sejak 10 oktober. Sejak itu, sekitar setengah infrastruktur energi Ukraina telah rusak dan berdampak ke jutaan warga Ukraina.

3 dari 4 halaman

Kanselir Jerman Olaf Scholz Bakal Terus Berunding dengan Putin hingga Rusia Mundur dari Ukraina

Kanselir Jerman Olaf Scholz mengatakan pada Minggu 4 Desember 2022 merupakan sebuah kesalahan besar untuk berhenti berbicara sama sekali dengan Presiden Rusia Vladimir Putin.

Dilansir VOA Indonesia, Senin (5/12), Scholz menyampaikan hal itu setelah dirinya dan Putin berbincang melalui sambungan telepon Jumat 2 Desember lalu untuk mendiskusikan invasi Rusia ke Ukraina yang masih berlanjut. 

"Itu sebabnya penting bagi presiden Prancis dan saya, sebagai perwakilan negara-negara G7 dan dua negara anggota NATO, untuk kembali mengupayakan dialog. Namun, tanpa ilusi," kata Scholz pada sebuah upacara penganugerahan penghargaan Hadiah Marion Doenhoff yang tahun ini diberikan kepada Irina Scherbakowa, pendiri organisasi HAM Rusia Memorial.

Scholz mengatakan dirinya membahas serangan Rusia terhadap infrastruktur energi Ukraina dan perlunya pasukan Rusia untuk mundur dari Ukraina dalam pembicaraan telepon itu.

"Saya akan terus melakukannya, berapa lama pun perbincangan itu berlangsung," tambah Scholz.

Dalam pidatonya sebelum menyerahkan hadiah itu kepada Scherbakowa, Scholz memuji perjuangan perempuan itu dan bahwa hadiah itu diberikan kepadanya untuk mewakili semua warga Rusia yang dapat membayangkan "masa depan Rusia yang berbeda, lebih baik dan lebih cerah."

Memorial juga menerima Hadiah Nobel Perdamaian tahun ini bersama dengan pegiat hak asasi manusia asal Belarusia Ales Bialiatski dan organisasi HAM Ukraina Center for Civil Liberties.

4 dari 4 halaman

Rusia Dilaporkan Bangun Pangkalan Militer Baru di Mariupol Ukraina

Rusia sedang mengkonsolidasikan kehadiran militernya di kota pelabuhan Mariupol Ukraina yang direbut dengan membangun pangkalan tentara besar, foto satelit yang dirilis dari perusahaan pengamatan Maxar tampaknya menunjukkan.

Kompleks baru berbentuk U ini terletak di dekat pusat kota. Di atapnya, bintang merah, putih dan biru tentara Rusia dapat dilihat, dengan huruf-huruf bertuliskan: "Untuk orang-orang Mariupol."

Maxar mengatakan bangunan itu tampaknya merupakan fasilitas militer Rusia, demikian seperti dikutip dari BBC, Minggu (4/12).

Namun BBC tidak dapat memverifikasi ini atau mengkonfirmasi untuk apa gedung baru itu digunakan.

Pasukan Moskow mengepung kota selama hampir tiga bulan awal tahun ini, dan rentetan artileri yang konstan meninggalkan sebagian besar reruntuhan.

Para pejabat Ukraina memperkirakan bulan lalu bahwa sekitar 25.000 warga sipil tewas dalam serangan itu, sementara PBB mengatakan telah mengkonfirmasi kematian 1.348 warga sipil, tetapi mengatakan jumlah korban tewas sebenarnya "kemungkinan ribuan lebih tinggi".

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS