Sukses

Raja Salman Undang Xi Jinping ke Arab Saudi

Liputan6.com, Riyadh - Raja Salman mengundang Presiden China Xi Jinping ke Arab Saudi. Undangan ini diberikan di tengah hubungan Arab Saudi dan Amerika Serikat yang renggang karena masalah produksi minyak. 

Berdasarkan laporan Arab News, Selasa (6/12/2022), Raja Salman mengajak Presiden Xi Jinping untuk menghadiri Saudi-Chinese summit yang digelar di Saudi. Acara berlangsung pada 7 hingga 9 Desember 2022. 

Raja Salman dan Pangeran Mohammed bin Salman (MbS) akan memimpin summit tersebut. Tujuan summit itu adalah melihat hubungan antara Gulf Cooperation Council (GCC) dan negara-negara Arab dengan Republik Rakyat China.

GCC terdiri dari Arab Saudi, Bahrain, Kuwait, Oman, Qatar, dan Uni Emirat Arab.

Diskusi diperkirakan akan membahas penguatan kerja sama ekonomi dan pembangunan.

Hubungan AS dan Arab Saudi sedang renggang karena OPEC Plus mengurangi pasokan minyak. Presiden AS Joe Biden secara terbuka mengaku kecewa dengan Arab Saudi yang notabene memimpin OPEC Plus.

Gedung Putih pun berkata melakukan peninjauan terhadap relasi antara Arab Saudi dan AS. 

Sementara, hubungan AS dan China tampak menghangat di G20 Bali. Meski AS dan China terlibat perang dagang sebelum pandemi COVID-19 dan ada cekcok terkait Taiwan, Presiden Joe Biden bertemu Presiden Xi Jinping ketika di Bali. 

Media pemerintah China, Global Times, menyebut pertemuan antara Presiden Biden dan Presiden Xi berlangsung tiga jam lebih. Media pemerintah China menyebut pertemuan itu memberikan kesan positif pada hubungan keluarga negara, terutama setelah kunjungan Ketua DPR AS Nancy Pelosi ke Taiwan.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Joe Biden Ungkap Kesan Pertama Bertemu Xi Jinping: Dia Tegas, Kami Saling Blak-blakan

Sebelumnya dilaporkan, Presiden Amerika Serikat Joe Biden mengungkapkan kesan pertamanya saat bertemu dengan Presiden China Xi Jinping. Dalam pertemuan bilateral tersebut, Biden secara blak-blakan mengungkapkan kesan pertamanya.

“Ia sangat tegas dan sangat berterus terang,” ujar Biden saat menyampaikan pernyataan pers-nya di Grand Hyatt Nusa Dua Bali bersama wartawan Indonesia dan asing, Senin (14/11).

Joe Biden juga mengaku blak-blakan saat berbicara dengan Xi Jinping.

"Kami sangat blak-blakan satu sama lain tentang hal-hal apa saja yang kami tidak setuju atau di mana kami tidak yakin tentang posisi satu sama lain," kata Biden.

"Dan kami setuju akan mengatur dan melakukan mekanisme untuk saling bertemu kembali."

Presiden Amerika Serikat Joe Biden mengaku menghabiskan waktu kurang lebih 3,5 jam saat berbincang dengan Presiden China Xi Jinping saat melakukan pertemuan di Bali, sebelum KTT G20.

Ini adalah kali pertama keduanya bertemu secara tatap muka setelah Biden resmi dilantik sebagai presiden.

"Tidak ada salah paham. Itu kekhawatiran terbesar yang saya miliki. Kesalahpahaman tentang niat atau tindakan di pihak kita," ujar Joe Biden.

"Saya ingin bertanya ke tim saya, berapa lama pertemuan itu berlangsung? Tiga setengah jam. Jadi perbincangan kami tadi mencakup banyak hal."

3 dari 4 halaman

Jabat Tangan dan Tatap Muka Perdana

Presiden Amerika Serikat Joe Biden melakukan pertemuan tatap muka dengan Presiden China Xi Jinping. Jabat tangan pertama keduanya sejak Joe Biden menjadi Presiden AS pun terjalin di Pulau Dewata.

Dikutip dari CNN, Senin (14/11) ini merupakan pertemuan langsung pertama keduanya sejak Biden menjabat sebagai presiden Amerika Serikat.

Pertemuan antara Joe Biden dan Xi Jinping membahas soal konsekuensi jangka panjang dan hubungan bilateral dua negara terpenting di dunia tersebut.

Pembicaraan ini berlangsung di sela-sela KTT G20 di Bali, Indonesia, di mana para pemimpin dunia berkumpul untuk mengatasi masalah-masalah global yang mendesak mulai dari perubahan iklim hingga inflasi dan kenaikan harga pangan, karena dampak dari perang Rusia di Ukraina.

Bagi Biden dan Xi, pembicaraan tersebut merupakan kesempatan langka untuk meningkatkan komunikasi dan membahas hubungan kedua negara di masa depan.

Biden sempat menyinggung bahwa ia ingin mencari apa "benang merah" untuk masing-masing pihak, di tengah meningkatnya ketegangan AS-China dan kebuntuan yang semakin termiliterisasi atas Taiwan.

4 dari 4 halaman

Harga Minyak Dunia Hari Ini Langsung Melambung Usai OPEC Pangkas Produksi

Harga minyak dunia hari ini pada Senin, 5 Desember 2022 terpantau melambung setelah negara-negara OPEC+ mempertahankan target produksi mereka menjelang larangan impor Uni Eropa dan pembatasan harga pada minyak mentah Rusia.

Pada saat yang sama, sebagai tanda positif untuk permintaan bahan bakar, banyak kota di China mulai melonggarkan pembatasan Covid-19 selama akhir pekan. 

Dilansir dari Euro News, Senin (5/12) harga minyak mentah berjangka Brent naik USD 1,84, atau 2,2 persen, menjadi USD 87,41 per barel, sementara minyak mentah berjangka West Texas Intermediate (WTI) AS naik USD 1,64, atau 2 persen, menjadi USD 81,62 per barel.

Seperti diketahui, Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya termasuk Rusia, yang dikenal sebagai OPEC+,sepakat untuk tetap memangkas produksi minyak sebesar 2 juta barel per hari dari bulan November hingga 2023.

Analis mengatakan keputusan OPEC+ diharapkan karena produsen utama menunggu untuk melihat dampak larangan impor UE dan batas harga dari negara G7 pada minyak Rusia.

“Keputusan tersebut mencerminkan ketidakpastian penawaran dan permintaan dalam beberapa bulan mendatang," kata analis ANZ Research dalam catatan kepada klien.

Adapun  wakil presiden Wood Mackenzie, Ann-Louise Hittle yang menyarankan dalam sebuah catatan bahwa Uni Eropa perlu mengganti minyak mentah Rusia dengan minyak dari Timur Tengah, Afrika Barat dan Amerika Serikat, yang akan menempatkan harga minyak setidaknya dalam waktu dekat.

"Harga (minyak) saat ini terbebani oleh ekspektasi pertumbuhan permintaan yang lambat, meskipun ada larangan impor minyak dari UE untuk minyak mentah Rusia dan batasan harga G7. Penyesuaian larangan UE dan batasan harga kemungkinan akan mendukung harga untuk sementara," ujar Hittle.

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS