Sukses

WHO Keluarkan Rekomendasi Penggunaan Vaksin COVID-19 Valneva dari Prancis

Liputan6.com, Jakarta - Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Kamis 18 Agustus 2022 merekomendasikan penggunaan vaksin baru untuk COVID-19 buatan Prancis bernama Valneva.

Menurut informasi dari US News, Jumat (19/8/2022), Badan PBB itu juga merekomendasikan penggunaan dosis booster kedua untuk beberapa individu yang berisiko tinggi terkena penyakit parah. Namun, itu bukan merupakan rekomendasi umum untuk memvaksinasi semua orang dewasa, dan ditujukan untuk menghindari penyakit parah dan kematian pada populasi dengan risiko tertinggi.

Rekomendasi itu muncul setelah Strategic Advisory Group of Experts (SAGE) atau Kelompok Ahli Penasihat Strategis tentang imunisasi WHO mengadakan pertemuan pekan lalu.

Sebelumnya, WHO telah menerbitkan pembaruan 'Strategi Vaksinasi COVID-19 Global' pada 22 Juli 2022. Di dalamnya menyebut bahwa setiap negara harus memprioritaskan cakupan 100 persen vaksinasi COVID-19 terhadap tenaga kesehatan (nakes) dan kelompok rentan, termasuk lansia, immunocompromised, dan yang memiiki komorbid. 

Untuk memastikan vaksinasi COVID-19 mencapai kelompok prioritas tertinggi, strategi WHO menekankan perlunya mengukur kemajuan dalam memvaksinasi kelompok-kelompok rentan dan mengembangkan pendekatan yang ditargetkan untuk menjangkau mereka.

Pendekatan, seperti menggunakan data lokal dan melibatkan masyarakat untuk mempertahankan permintaan vaksin, membangun sistem untuk memvaksinasi orang dewasa, dan menjangkau lebih banyak orang terlantar melalui respons kemanusiaan.

“Walaupun cakupan vaksinasi 70 persen tercapai, jika sejumlah besar petugas kesehatan, lansia, dan kelompok berisiko lainnya tetap tidak divaksinasi, kematian akan terus berlanjut, sistem kesehatan akan tetap di bawah tekanan dan berdampak terhadap pemulihan global,” tegas Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus.

“Vaksinasi semua yang paling berisiko adalah satu-satunya cara terbaik untuk menyelamatkan nyawa, melindungi sistem kesehatan, dan menjaga masyarakat dan ekonomi tetap berjalan.”  

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

WHO: Pandemi COVID-19 Masih Jauh dari Kata Selesai

Gelombang baru infeksi COVID-19 menunjukkan pandemi itu "masih jauh dari berakhir", kepala Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperingatkan Selasa (12 Juli), menyuarakan keprihatinan virus itu "berjalan bebas".

Dilansir Channel News Asia, Rabu (13/7/2022), Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan dia khawatir bahwa jumlah kasus terus meningkat, memberikan tekanan lebih lanjut pada sistem kesehatan dan pekerja.

Gelombang baru virus menunjukkan lagi bahwa COVID-19 belum berakhir," katanya pada konferensi pers, menambahkan: "Ketika virus mendorong kita, kita harus mendorongnya kembali."

“Virus ini berjalan bebas dan negara-negara tidak efektif mengelola beban penyakit berdasarkan kapasitasnya, baik dari segi rawat inap untuk kasus akut maupun peningkatan jumlah orang dengan kondisi pasca COVID, yang sering disebut sebagai Long COVID,” katanya. 

"Ketika penularan COVID-19 dan rawat inap meningkat, pemerintah juga harus menerapkan langkah-langkah yang telah dicoba dan diuji seperti masker, peningkatan ventilasi, dan protokol pengujian dan perawatan," tegas Tedros.

Komite darurat WHO tentang COVID-19 bertemu pada hari Jumat melalui konferensi video dan memutuskan bahwa pandemi tetap menjadi Darurat Kesehatan Masyarakat yang Menjadi Perhatian Internasional - alarm tertinggi yang dapat dibunyikan WHO.

3 dari 4 halaman

Kasus Global COVID-19 Meningkat

Direktur kedaruratan WHO Michael Ryan mengatakan pada pertemuan itu kasus global COVID-19 yang dilaporkan ke WHO meningkat 30 persen dalam dua minggu terakhir, sebagian besar didorong oleh sub-varian Omicron BA.4, BA.5 dan dan pencabutan kebijakan kesehatan masyarakat dan langkah-langkah sosial.

Ryan mengatakan perubahan baru-baru ini dalam kebijakan pengujian menghambat deteksi kasus dan pemantauan evolusi virus.

Komite menekankan perlunya mengurangi penularan virus karena implikasi dari pandemi yang disebabkan oleh virus pernapasan baru tidak akan sepenuhnya dipahami, kata WHO dalam sebuah pernyataan pada hari Senin.

Kelompok tersebut menyuarakan keprihatinan atas pengurangan tajam dalam pengujian, yang mengakibatkan berkurangnya pengawasan dan pengurutan genom.

"Ini menghambat penilaian varian virus yang saat ini beredar dan muncul," kata WHO.

4 dari 4 halaman

Tak Dapat Diprediksi

Komite mengatakan lintasan evolusi virus dan karakteristik varian yang muncul tetap "tidak pasti dan tidak dapat diprediksi", dengan tidak adanya langkah-langkah untuk mengurangi penularan meningkatkan kemungkinan "varian baru yang lebih bugar muncul, dengan tingkat virulensi, transmisibilitas, dan kekebalan yang berbeda."

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan kasus meningkat di 110 negara, di mana peningkatan tersebut sebagian besar didorong oleh Varian Omicron BA.4 dan BA.5.

"Pandemi ini berubah, tetapi belum berakhir," kata Ghebreyesus pada minggu ini saat konferensi pers.

Tedros juga mengatakan kemampuan melacak evolusi genetik COVID-19 "terancam" karena negara-negara melonggarkan upaya pengawasan dan pengurutan genetik. Ia memperingatkan bahwa itu akan membuat lebih sulit untuk mengetahui varian baru yang muncul dan berpotensi berbahaya.

Dia menyerukan negara-negara untuk mengimunisasi populasi mereka yang paling rentan, termasuk petugas kesehatan dan orang usia lebih dari 60 tahun.

"Ratusan juta orang belum divaksinasi. Mereka berisiko terkena penyakit yang parah dan kematian," jelas Ghebreyesus 

Ia menambahkan, walaupun lebih dari 1,2 miliar vaksin COVID-19 telah diberikan secara global, tingkat imunisasi rata-rata di negara-negara miskin adalah sekitar 13 persen.

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS