Sukses

Joe Biden Masih Positif COVID-19 Kasus Rebound, Sedikit Batuk dan Lanjut Isoman

Liputan6.com, New York - Hasil tes COVID-19 Joe Biden masih positif. Demikian seperti disampaikan dokternya pada Jumat 5 Agustus 2022 waktu setempat.

Kendati demikian, mengutip Xinhua, Sabtu (6/8/2022). batuk Presiden Amerika Serikat (AS) itu "hampir sepenuhnya sembuh".

"Biden terus merasa sangat baik dan akan melanjutkan isolasi ketat berdasarkan hasil tes tersebut," tulis dokter Gedung Putih Dr. Kevin O'Connor dalam sebuah pembaruan.

Pada Jumat sore harinya, Biden dijadwalkan untuk menandatangani dua rancangan undang-undang yang "akan membantu meminta pertanggungjawaban mereka yang melakukan penipuan di bawah program bantuan usaha kecil COVID-19."

Joe Biden positif COVID-19 pada 21 Juli, dan teruji negatif pada 26 Juli setelah beberapa hari menjalani isolasi dan perawatan. Dirinya kembali teruji positif pada 30 Juli dalam kasus "rebound", menurut Gedung Putih.

Gedung Putih mengatakan meskipun tes Virus Corona COVID 19-nya positif, Joe Biden tetap bekerja dari tempat tinggal eksekutifnya. Ia menjalani aktivitas dengan hati-hati guna melindungi staf di tempat tinggal eksekutif, juga staf Agen rahasia, serta staf Gedung Putih lainnya yang berada di dekat dengan presiden.

Pada Senin 2 Agustus malam, ia bahkan masih berpidato di hadapan sekelompok kecil jurnalis dari jarak jauh tentang tewasnya pemimpin Al Qaeda Ayman Al Zawahiri dalam serangan pesawat nirawak pasukan AS pada akhir pekan lalu.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Kasus Rebound COVID-19, Joe Biden Perdana Positif

Joe Biden positif COVID-19 pada akhir Juli, tepatnya 21 Juli 2022. Ini adalah pertama kalinya Presiden AS berusia 79 tahun itu dinyatakan terinfeksi Virus Corona.

Pada Rabu 27 Juli lalu Joe Biden dinyatakan sembuh setelah meminum obat anti-virus Paxlovid selama beberapa hari dan hasil uji medisnya menunjukkan negatif Virus Corona COVID-19. Ia pun menyudahi masa isolasi mandiri di Gedung Putih setelah lima hari.

Setelah keluar dari isolasi, presiden akan mengenakan masker selama 10 hari ketika berada di sekitar orang lain dan terus melakukan tes virus secara teratur. Biden tidak mengalami demam, tambah dokter, mencatat "gejalanya terus membaik, dan hampir sepenuhnya sembuh". 

Selang tiga hari kemudian, ia kembali terjangkit COVID-19.

Kasus kambuh kembali terjadi dalam sejumlah kecil pasien yang mengkonsumsi obat Paxlovid, sebuah pil yang dibuat oleh Pfizer dan diizinkan untuk diberikan kepada pasien yang mempunyai risiko tinggi.

Menurut Pusat Pencegahan dan Pengendalian Penyakit AS (CDC), kebanyakan kasus kambuh kembali ini menimbulkan sakit ringan, dan tidak ada laporan terjadinya komplikasi yang serius.

3 dari 4 halaman

COVID-19 Masih Bersama Kita

Dalam akun Twitternya, Biden mengatakan bahwa suntikan vaksin booster gratis dapat membantu siapapun menghindari penyakit serius. "Dengan suntikan booster gratis, tes di rumah, dan perawatan yang efektif, hari ini, kami dapat melindungi diri dari penyakit serius dan mencegah sebagian besar kematian akibat COVID," tulis Biden.

"COVID-19 masih bersama kita, tetapi perjuangan kita melawannya lebih kuat dari sebelumnya," lanjutnya.

Ia menambahkan, setiap orang di atas 5 tahun harus mendapatkan suntikan booster. Dan jika penduduk di atas usia 50, maka harus mendapatkan dua suntikan seperti yang ia sendiri dapatkan.

"Setelah dikuatkan, peluang Anda untuk sakit parah akibat COVID sangat sangat rendah."

Saat ini, lanjutnya, dunia menghadapi BA.5. Subvarian Omicron ini pula lah yang membuat Biden sakit. "Kami menghadapi BA.5, itulah alasan saya jatuh sakit dan telah menginfeksi banyak orang di seluruh dunia." 

4 dari 4 halaman

Usia Lanjut Joe Biden Picu Kekhawatiran

Sebagai presiden AS tertua yang pernah terpilih, usianya meningkatkan kekhawatiran atas dampak COVID-19.

Menghadapi beban kerja yang berat, Biden - seperti presiden lain sebelum dia - telah menunjukkan ketegangan dalam beberapa bulan terakhir: jalannya lebih kaku, rambutnya lebih tipis, dan pidatonya kurang lancar daripada ketika dia menjabat pertama kali.

Dan secara politik Biden berada dalam fase sulit kepresidenannya, menghadapi pemilihan paruh waktu November yang diperkirakan akan menyakitkan bagi Partai Demokratnya, serta penurunan peringkat persetujuan pribadi.

Gedung Putih telah menekankan sejak diagnosis positif COVID-19 Biden bahwa presiden telah divaksinasi dosis penuh dan dua kali booster -- dan O'Connor menegaskan kembali bahwa ia diharapkan "merespon dengan baik" terhadap pengobatan.

"Tidak ada apa pun dalam perjalanan penyakitnya sejauh ini yang memberi saya alasan untuk mengubah harapan awal itu," tulisnya.