Sukses

Jelang Forum KTT Menlu G20, China dan AS Saling Kecam

Liputan6.com, Madrid - China, pada Rabu 6 Juli 2022 melancarkan serangan pedas terhadap Amerika Serikat dan NATO, sebelum pertemuan antara Menteri Luar Negeri China Wang Yi dan Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken berlangsung di Bali.

Mengutip VOA Indonesia, Kamis (7/7/2022), pernyataan juru bicara Kementerian Luar Negeri China Zhao Lijian itu menggarisbawahi hubungan kedua negara yang semakin retak, dengan pendekatan China yang semakin konfrontatif dalam hubungan luar negerinya yang dengan keras menolak setiap kritik yang ditujukan kepadanya.

Dalam KTT NATO di Spanyol pekan lalu, Blinken menuduh China "berusaha merusak tatanan internasional berbasis aturan."

Membalas hal itu, Zhao pada Rabu mengatakan “apa yang disebut tatanan internasional berbasis aturan itu sebenarnya adalah aturan yang dibuat oleh segelintir negara demi melayani kepentingan Amerika sendiri.”

Amerika Serikat "hanya menjalankan aturan internasional yang dianggap cocok (dengan kepentingan Amerika.red),” ujarnya, seraya menambahkan bahwa NATO "seharusnya meninggalkan keyakinan butanya pada kekuatan militer.”

Hubungan AS-China didominasi oleh perselisihan tentang masalah perdagangan dan hak asasi manusia, juga klaim teritorial soal Taiwan dan Laut China Selatan.

China telah menolak mengutuk perang Rusia di Ukraina yang berlangsung sejak 24 Februari lalu. Negara tersebut juga mengecam sanksi-sanksi yang dijatuhkan anggota-anggota NATO terhadap Rusia, dan menuduh Amerika Serikat dan sekutu-sekutunya telah memprovokasi konflik.

Dalam komentarnya yang panjang, Zhao menuding NATO “telah secara sewenang-wenang melancarkan perang dan membunuh warga sipil yang tidak berdosa.”

"Fakta membuktikan bahwa bukan China yang menimbulkan tantangan sistemik terhadap NATO, dan sebaliknya NATO yang menciptakan tantangan sistemik terhadap perdamaian dan keamanan dunia," ujar Zhao.

Blinken diperkirakan akan melangsungkan pertemuan dengan Wang pada Sabtu 9 Juli di sela-sela pertemuan para menteri luar negeri anggota negara-negara G20 di Bali.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Amerika Serikat Tak Berharap Antony Blinken Bertemu Menlu Rusia Lavrov di G20

Sebelumnya, Menteri Luar Negeri Amerika Antony Blinken menyatakan siap “terlibat sepenuhnya” dalam KTT G20 pada musim gugur nanti, yang mengarah pada kemungkinan pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov, demikian pernyataan juru bicara Departemen Luar Negeri Ned Price pada Selasa (5/7).

“Menlu Blinken bermaksud terlibat sepenuhnya dalam KTT G20. Saya tidak akan membicarakan rencana apapun dari Menlu Lavrov, tetapi saya dapat memberitahukan bahwa Menlu Blinken akan menjadi peserta penuh dan aktif dalam forum G20, yang kami nilai sebagai forum berharga,” tegasnya kepada wartawan.

Menteri Luar Negeri Antony Blinken akan bertemu dengan mitranya, Menteri Luar Negeri China Wang Yi, minggu ini dalam pertemuan para menteri luar negeri blok negara-negara G20, yang kemungkinan akan memperburuk perpecahan mengenai perang Rusia di Ukraina, demikian dikutip dari laman VOA Indonesia, Rabu (7/7/2022).

Meskipun hubungan Amerika Serikat-China yang tegang akan menjadi fokus pembicaraan Blinken dengan Wang Yi, pertemuan G20 yang lebih luas di Indonesia hampir pasti akan dibayangi oleh konflik Ukraina dan dampaknya terhadap ketahanan pangan dan energi global.

Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov juga akan berada di sana, menandai untuk pertama kalinya Lavrov dan Blinken akan berada di kota – dan bahkan ruang dan waktu – yang sama, dalam waktu hampir enam bulan.

3 dari 4 halaman

KTT G20 Dibayangi Invasi Rusia ke Ukraina

Sebagaimana banyak pertemuan dipomatik internasional lainnya baru-baru ini, pertemuan di Bali juga akan difokuskan pada Ukraina selagi para peserta sedang mempersiapkan panggung untuk pertemuan puncak para pemimpn G20, yang juga akan diselenggarakan di Bali pada November nanti.

Namun tidak seperti KTT G7 di Jerman dan pertemuan puncak NATO di Spanyol pekan lalu, KTT G20 akan memiliki cita rasa berbeda.

China dan banyak peserta lain – termasuk India, Afrika Selatan, Brasil dan beberapa negara berkembang berpengaruh lainnya – telah menolak menandatangani tentangan Amerika dan Eropa terhadap invasi Rusia ke Ukraina.

Sebagian pihak bahkan menolak mentah-mentah permohonan Barat untuk ikut mengutuk konflik tersebut; yang oleh Amerika dan sekutunya dilihat sebagai serangan langsung terhadap tatanan berbasis aturan internasional yang telah berlaku sejak akhir Perang Dunia II.

Perbedaan sikap ini telah mendorong terjadinya pertemuan persiapan yang berpotensi kontroversial menjelang KTT G20 bulan November nanti, di tengah pertanyaan tentang apakah Presiden Rusia Vladimir Putin akan hadir atau tidak.

Amerika telah memperjelas bahwa pihaknya tidak yakin Putin harus hadir, tetapi telah menyerukan kepada Indonesia – selaku tuan rumah – untuk mengundang Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy jika pemimpin Rusia itu tetap berpartisipasi dalam pertemuan penting itu.

4 dari 4 halaman

Alasan Indonesia Tetap Undang Rusia Hadir ke G20

Perdana Menteri Australia Scott Morrison menyampaikan keberatannya jika Presiden Rusia Vladimir Putin tetap diundang untuk hadir ke G20.

Menanggapi hal tersebut, pihak Kementerian Luar Negeri (Kemlu RI) mengeluarkan pernyataan.

"Sudah sesuai dengan presidensi sebelumnya, adalah untuk mengudang semua anggota G20," ujar Dian Triansyah Djani, Stafsus Program Prioritas Kemlu dan Co-Sherpa G20 Indonesia.

"Hal harus diunderline juga adalah bahwa diplomasi Indonesia selalu didasarkan pada based of principal," ujarnya.

Dalam press briefing mingguan Kemlu RI pada Kamis (24/3/2022) Dubes Triansyah menyatakan bahwa Indonesia dalam mengetuai berbagai konferensi, forum, atau organisasi baik itu dalam konteks badan-badan PBB, atau pada saat kami memimpin DK PBB, ASEAN atau dewan lainnya, selalu berpegang pada rules of procedur dan aturan yang berlaku.

"Demikian juga di G20. Oleh karena itu, sudah kewajiban presiden G20 untuk mengundang seluruh anggotanya," ujar Dubes Triansyah.

"Saya ingin underline juga, bahwa penting bagi kita untuk fokus pada G20 menangani global recovery yang jadi prioritas warga dunia."

"Seperti diketahui bahwa duniakan belum sepenuhnya keluar dari krisis pandemi. Banyak negara berkembang mengalami kesulitan ekonomi. Jadi G20 berupaya dorong recovery tersebut."

"Jadi, saya pikir akan melangsungkan tugas kita seperti presidensi sebelumnya."

  • NATO adalah sebuah organisasi militer internasional yang terdiri dari 2 negara Amerika Utara, 27 negara Eropa, dan 1 negara Eurasia.
    NATO adalah sebuah organisasi militer internasional yang terdiri dari 2 negara Amerika Utara, 27 negara Eropa, dan 1 negara Eurasia.
    NATO
  • G20 disebut juga Group of Twenty.
    G20
  • Negara dengan penduduk terbanyak di seluruh dunia. Negara ini telah berganti nama menjadi Republik Rakyat Tiongkok.
    Negara dengan penduduk terbanyak di seluruh dunia. Negara ini telah berganti nama menjadi Republik Rakyat Tiongkok.
    China
  • Pertemuan Para Menteri Luar Negeri G20, atau G20 Foreign Ministers Meeting atau FMM, yang diselenggarakan di Bali pada tanggal 7-8 Juli 2022
    KTT Menlu G20
  • Ukraina
  • as
  • VOA Indonesia