Sukses

Amerika Serikat Tak Berharap Antony Blinken Bertemu Menlu Rusia Lavrov di G20

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Luar Negeri Amerika Antony Blinken akan siap “terlibat sepenuhnya” dalam KTT G20 pada musim gugur nanti, yang mengarah pada kemungkinan pertemuan dengan Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov, demikian pernyataan juru bicara Departemen Luar Negeri Ned Price pada Selasa (5/7).

“Menlu Blinken bermaksud terlibat sepenuhnya dalam KTT G20. Saya tidak akan membicarakan rencana apapun dari Menlu Lavrov, tetapi saya dapat memberitahukan bahwa Menlu Blinken akan menjadi peserta penuh dan aktif dalam forum G20, yang kami nilai sebagai forum berharga,” tegasnya kepada wartawan.

Menteri Luar Negeri Antony Blinken akan bertemu dengan mitranya, Menteri Luar Negeri China Wang Yi, minggu ini dalam pertemuan para menteri luar negeri blok negara-negara G20, yang kemungkinan akan memperburuk perpecahan mengenai perang Rusia di Ukraina, demikian dikutip dari laman VOA Indonesia, Rabu (7/7/2022).

Meskipun hubungan Amerika Serikat-China yang tegang akan menjadi fokus pembicaraan Blinken dengan Wang Yi, pertemuan G20 yang lebih luas di Indonesia hampir pasti akan dibayangi oleh konflik Ukraina dan dampaknya terhadap ketahanan pangan dan energi global.

Menteri Luar Negeri Rusia Sergey Lavrov juga akan berada di sana, menandai untuk pertama kalinya Lavrov dan Blinken akan berada di kota – dan bahkan ruang dan waktu – yang sama, dalam waktu hampir enam bulan.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Blinken Siap Bertemu Wang Yi

Departemen Luar Negeri Amerika pada Selasa mengumumkan bahwa Blinken akan bertemu dengan Wang Yi di Bali, tetapi tidak bicara tentang kemungkinan ia bertemu dengan Lavrov, yang dijauhi Amerika sejak invasi Rusia ke Ukraina pada 24 Februari lalu.

Para pejabat Amerika menuduh Lavrov dan diplomat-diplomat Rusia lainnya kurang serius untuk mencegah potensi invasi itu sejak periode menjelang peristiwa itu.

Pemerintah Biden telah mengesampingkan “hubungan yang tidak berubah” dengan Rusia selama militer negara itu masih bercokol di Ukraina.

Para pejabat Amerika menekankan tidak akan ada diskusi formal antara Blinken dan Lavrov di Bali.

Namun tidak menutup kemungkinan kedua pejabat tinggi ini akan bertemu secara kebetulan, yang akan menjadi pertemuan pertama mereka sejak pertemuan terakhir di Jenewa bulan Januari lalu.

 

3 dari 4 halaman

KTT G20 Dibayangi Invasi Rusia ke Ukraina

Sebagaimana banyak pertemuan dipomatik internasional lainnya baru-baru ini, pertemuan di Bali juga akan difokuskan pada Ukraina selagi para peserta sedang mempersiapkan panggung untuk pertemuan puncak para pemimpn G20, yang juga akan diselenggarakan di Bali pada November nanti.

Namun tidak seperti KTT G7 di Jerman dan pertemuan puncak NATO di Spanyol pekan lalu, KTT G20 akan memiliki cita rasa berbeda.

China dan banyak peserta lain – termasuk India, Afrika Selatan, Brasil dan beberapa negara berkembang berpengaruh lainnya – telah menolak menandatangani tentangan Amerika dan Eropa terhadap invasi Rusia ke Ukraina.

Sebagian pihak bahkan menolak mentah-mentah permohonan Barat untuk ikut mengutuk konflik tersebut; yang oleh Amerika dan sekutunya dilihat sebagai serangan langsung terhadap tatanan berbasis aturan internasional yang telah berlaku sejak akhir Perang Dunia II.

Perbedaan sikap ini telah mendorong terjadinya pertemuan persiapan yang berpotensi kontroversial menjelang KTT G20 bulan November nanti, di tengah pertanyaan tentang apakah Presiden Rusia Vladimir Putin akan hadir atau tidak.

Amerika telah memperjelas bahwa pihaknya tidak yakin Putin harus hadir, tetapi telah menyerukan kepada Indonesia – selaku tuan rumah – untuk mengundang Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy jika pemimpin Rusia itu tetap berpartisipasi dalam pertemuan penting itu.

4 dari 4 halaman

Alasan Indonesia Tetap Undang Rusia Hadir ke G20

Perdana Menteri Australia Scott Morrison menyampaikan keberatannya jika Presiden Rusia Vladimir Putin tetap diundang untuk hadir ke G20.

Menanggapi hal tersebut, pihak Kementerian Luar Negeri (Kemlu RI) mengeluarkan pernyataan.

"Sudah sesuai dengan presidensi sebelumnya, adalah untuk mengudang semua anggota G20," ujar Dian Triansyah Djani, Stafsus Program Prioritas Kemlu dan Co-Sherpa G20 Indonesia.

"Hal harus diunderline juga adalah bahwa diplomasi Indonesia selalu didasarkan pada based of principal," ujarnya.

Dalam press briefing mingguan Kemlu RI pada Kamis (24/3/2022) Dubes Triansyah menyatakan bahwa Indonesia dalam mengetuai berbagai konferensi, forum, atau organisasi baik itu dalam konteks badan-badan PBB, atau pada saat kami memimpin DK PBB, ASEAN atau dewan lainnya, selalu berpegang pada rules of procedur dan aturan yang berlaku.

"Demikian juga di G20. Oleh karena itu, sudah kewajiban presiden G20 untuk mengundang seluruh anggotanya," ujar Dubes Triansyah.

"Saya ingin underline juga, bahwa penting bagi kita untuk fokus pada G20 menangani global recovery yang jadi prioritas warga dunia."

"Seperti diketahui bahwa duniakan belum sepenuhnya keluar dari krisis pandemi. Banyak negara berkembang mengalami kesulitan ekonomi. Jadi G20 berupaya dorong recovery tersebut."

"Jadi, saya pikir akan melangsungkan tugas kita seperti presidensi sebelumnya."