Sukses

Rusia Serang Pasar di Ukraina, Pemda: Ini Murni Terorisme!

Liputan6.com, Slovyansk - Serangan Rusia menghantam pasar di kota Slovyansk di timur Ukraina. Akibatnya, dua orang tewas dan tujuh lainnya terluka. Kepala regional Donetsk, Pavlor Kyrylenko, mengecam keras serangan tersebut.

"Ini murni terorisme!" ujarnya seperti dikutip BBC, Rabu (6/7/2022).

Wali Kota Slovyansk Vadym Lyakh memposting video dan foto terkait serangan ini. Bagian dalam pasar tampak terbakar dan sejumlah pemadam tampak berusaha menjinakkan api. Lyakh meminta agar masyarakat berlindung di shelter yang tersedia. 

Lokasi Slovyansk berada di Donbas yang ingin dikuasai Rusia. Sejumlah daerah Donbas telah dikuasai oleh separatis Republik Rakyat Donetsk dan Republik Rakyat Luhansk yang telah mendapatkan dukungan dan pengakuan Rusia. 

Provinsi Luhansk baru-baru ini juga telah direbut oleh Rusia. Pemerintahan Vladimir Putin menguasai Luhansk milik Ukraina beberapa hari setelah Presiden Jokowi pulang dari kunjungannya.

Provinsi Luhansk

Sebelumnya dilaporkan VOA Indonesia, Selasa (5/7), Presiden Rusia Vladimir Putin mendeklarasikan kemenangan atas Provinsi Luhansk di timur Ukraina hari Senin (4/7) ketika pasukan Ukraina mundur dari benteng terakhir mereka di kota Lysychansk.

Pasukan Moskow langsung mengalihkan perhatian mereka ke pertempuran di Provinsi Donetsk yang bersebelahan. Provinsi itu merupakan bagian dari wilayah industri Donbas yang ingin dikuasai Putin selama invasinya ke Ukraina, yang telah memasuki bulan kelima, setelah sebelumnya gagal menggulingkan pemerintahan Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy atau merebut ibu kota, Kyiv.

Gubernur Luhansk Serhiy Haidai mengatakan kepada Associated Press hari Senin (4/7) bahwa pasukannya, pasukan Ukraina, telah mundur dari Lysychansk untuk menghindari pengepungan.

“Terdapat risiko pengepungan di Lysychansk,” kata Haidai, yang menurutkan bahwa pasukan Ukraina bisa saja bertahan lebih lama, namun kemungkinan akan memakan lebih banyak korban.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Misil Rusia Hancurkan Rumah Warga Sipil di Mykolaiv dan Bashtanka

Rumah-rumah warga sipil Ukraina di Mykolaiv dan Bashtanka hancur diserang militer Rusia. Fasilitas-fasilitas sosial juga turut hancur.

Menurut laporan media pemerintah Ukraina, Ukrinform, Selasa (5/7), ada dua distrik di kota Mykolaiv yang terkena serangan. 

"Pada pagi hari 5 Juli 2022, dua distrik di kota Mykolaiv terkena serangan musuh. Sejumlah bangunan hancur, termasuk rumah tempat tinggal. Para penolong dan medis bekerja di TKP. Data korban masih dicek," ujar Kepala Dewan Regional Mykolaiv, Hanna Zamazieleva.

Sementara, ada enam roket yang ditembakan di Bashtanka. Tiga berhasil ditumbangkan unit pertahanan anti-aircraft milik Ukraina. Namun, gedung administratif hancur akibat serangan tesrebut.

Daerah-daerah Ukraina lain yang terkena serangan Rusia adalah Shyroke, Inhulka, Bereznehuvate, dan Halystynove. Berdasarkan data awal, tak ada warga sipil yang tewas.

Wilayah Mykolaiv berada di sisi selatan ibu kota Kyiv dan cukup jauh dari Luhansk dan Donbas di timur yang diklaim Rusia sebagai daerah yang dikuasai "Nazi". 

 

3 dari 4 halaman

Menlu Rusia Akan Hadiri Forum G20

Sejak minggu lalu, Menteri Luar Negeri Rusia Sergei Lavrov dipastikan akan menghadiri pertemuan Menteri Luar Negeri dalam KTT G20 di Bali pada 7-8 Juli 2022. 

Lavrov akan menghadiri pertemuan para menteri luar negeri dari Kelompok 20 ekonomi terbesar (G20) yang diadakan di pulau Bali, Indonesia, akhir pekan ini.

Sebelum menuju Bali, ia mengunjungi Hanoi pada Selasa (5 Juli) untuk kunjungan dua hari ke Vietnam sebelum menuju pertemuan G20 akhir pekan ini di Indonesia, kata pemerintah Vietnam.

Kunjungan atas undangan Menteri Luar Negeri Vietnam Bui Thanh Son itu dilakukan saat kedua negara memperingati 10 tahun "kemitraan strategis komprehensif" mereka, kata pemerintah dalam sebuah pernyataan. Demikian seperti dikutip dari laman Channel News Asia, Selasa (5/7).

Rusia adalah pemasok senjata terbesar bagi Vietnam dan perusahaan-perusahaannya terlibat dalam beberapa proyek energi besar di negara itu.

Kedua negara memiliki hubungan dekat sejak era Soviet dan Vietnam sejauh ini tidak mengutuk invasi Rusia ke Ukraina, yang disebut Moskow sebagai "operasi khusus".

Pada bulan April, Vietnam memilih menentang resolusi untuk menangguhkan Rusia dari Dewan Hak Asasi Manusia PBB atas perang.

Perdagangan antara Vietnam dan Rusia naik 25 persen tahun lalu menjadi US$7,1 miliar, kata pernyataan itu.

4 dari 4 halaman

Misi Damaikan Ukraina dan Rusia, Jokowi Dianggap Layak Dapat Nobel Perdamaian

Misi besar Presiden Joko Widodo atau Jokowi dengan berupaya penuh mendamaikan Rusia dan Ukraina patut mendapat apresiasi dari dunia internasional. Jokowi bahkan dianggap layak mendapatkan Nobel Perdamaian.

Aktivis Kepemudaan Nasional, Chrisman Damanik mengapresiasi keputusan Jokowi mengunjungi Rusia dan Ukraina. Menurut dia, upaya yang sudah dilakukan Jokowi dalam menciptakan perdamaian dunia pantas mendapat pengakuan tinggi. 

Dia menilai pengakuan yang diberikan dimaksudkan untuk menghargai kerja keras Jokowi dalam membantu meredam konflik Rusia dan Ukraina. dengan tujuan menghapus peperangan dan membawa ketenteraman dunia.

"Tentu harus kita dukung dan kita apresiasi, tentu saja berharap supaya tidak hanya wacana. Pak Jokowi dapat diberikan Nobel Perdamaian atas apa yang telah beliau lakukan," ujar Chrisman dalam keterangan tertulisnya, Minggu (3/7).

Ketua Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) periode 2015-2017 ini mengakui kerja nyata Jokowi begitu terlihat dan dapat dirasakan oleh masyarakat dunia.

Menurut dia, Jokowi benar-benar membawa pesan perdamaian dari dalam hati. Sikap Jokowi mengunjungi Rusia dan Ukraina tidak didasari oleh kepentingan apapun, melainkan tulus untuk mengutamakan nilai-nilai kemanusiaan dan kebaikan sesama.

"Presiden Jokowi juga telah membawa Indonesia ke mata dunia global yang menunjukkan Indonesia sangat menginginkan perdamaian di atas dunia," tutur Chrisman.

Lebih dari itu, dia menilai langkah Jokowi untuk menciptakan perdamaian dunia ini merupakan bentuk perwujudan mengamalkan amanat konstitusi yang begitu dipegang teguh bangsa Indonesia, yakni UUD 1945.

"Kunjungan Jokowi ke Ukraina dan Rusia untuk bertemu dengan kedua presiden tersebut harus kita apresiasi karena melaksanakan amanat dalam pembukaan UUD 1945," kata Chrisman menandaskan.