Sukses

Penerbangan Komersial Internasional Pertama dari Yaman ke Yordania Dipuji PBB

Liputan6.com, Sanaa - Penerbangan internasional pertama dalam enam tahun dari bandara Sana'a, Yaman menuju Amman, Yordania dibuka. Juru bicara PBB Stephane Dujarric, pada Senin (16/5/2022) menyambut baik langkah tersebut.

"Penerbangan dari Sana'a ke Amman itu merupakan elemen penting dalam gencatan senjata yang dicapai baru-baru ini lewat upaya yang dimediasi oleh Utusan Khusus PBB Hans Grundberg," ujar Dujarric kepada wartawan seperti dikutip dari VOA Indonesia

Penerbangan komersial internasional Yaman yang pertama itu lepas landas setelah pukul 09.00 pagi waktu setempat, dari Sana'a menuju Amman, dengan membawa 130 penumpang asal Yaman.

Dujarric mendesak semua pihak yang terlibat "untuk terus memfasilitasi penerbangan sesuai dengan ketentuan perjanjian gencatan senjata yang ada."

Ia menambahkan bahwa Grundberg telah “bekerja sama dengan para pihak untuk memastikan keberhasilan penerapan seluruh persyaratan gencatan senjata, termasuk untuk mencapai kemajuan menjelang pembukaan jalan-jalan di Taiz dan provinsi lainnya, guna memfasilitasi kebebasan gerakan warga Yaman di dalam negara mereka sendiri dengan melibatkan pihak-pihak "untuk memperkuat dan memperpanjang gencatan senjata."

Tak hanya sampai di situ, Dujarric mendesak semua pihak yang terlibat "untuk terus memfasilitasi penerbangan sesuai dengan ketentuan perjanjian gencatan senjata yang ada."

"Grundberg telah bekerja sama dengan para pihak untuk memastikan keberhasilan penerapan seluruh persyaratan gencatan senjata, termasuk untuk mencapai kemajuan menjelang pembukaan jalan-jalan di Taiz dan provinsi lainnya, guna memfasilitasi kebebasan gerakan warga Yaman di dalam negara mereka sendiri dengan melibatkan pihak-pihak untuk memperkuat dan memperpanjang gencatan senjata," imbuh Dujarric.

Dujarric juga menegaskan perlunya mencapai solusi politik yang komprehensif dan berkelanjutan bagi konflik yang melanda wilayah tersebut.

2 dari 4 halaman

Ramadhan di Yaman Berjalan Lancar Berkat Gencatan Senjata Selama 2 Bulan

Gencatan senjata selama dua bulan di Yaman, memberi kesempatan kepada kelompok-kelompok bantuan untuk meningkatkan bantuan bagi jutaan orang Yaman yang kelaparan.

Namun kekurangan gizi yang melanda anak-anak, diperkirakan akan memburuk, jika pertempuran kembali terjadi atau dana untuk kemanusiaan tidak meningkat.

"Manfaat gencatan senjata itu sudah sangat signifikan pada minggu-minggu pertama," kata Erin Hutchinson, Direktur Dewan Pengungsi Norwegia untuk Yaman.

Kelompok itu mampu memberi bantuan kepada 12.000 orang di satu kabupaten di provinsi Hajjah yang belum terjangkau, selama lebih dari tiga tahun.

Konflik di Yaman selama lebih dari tujuh tahun itu telah menghancurkan ekonomi, menyebabkan jutaan orang terlantar dan meningkatkan harga pangan di luar jangkauan banyak orang. Lonjakan harga biji-bijian dan komoditas dunia menambah ketegangan lebih lanjut.

"Puluhan juta orang di Yaman hidup tanpa ketersediaan pangan," kata Richard Ragan dari Program Pangan Dunia (WFP), yang berupaya memberi bantuan pangan bagi separuh dari 30 juta orang Yaman, melalui salah satu program terbesar WFP.

Data PBB bulan Maret menunjukkan angka kelaparan dan kekurangan gizi yang memburuk tahun ini, dan badan itu memperkirakan, antara Juni hingga Desember mereka yang tidak memperoleh gizi minimum akan mencapai angka baru kekurangan gizi tertinggi yaitu 19 juta, naik dari angka sekarang 17,4 juta.

3 dari 4 halaman

Perang Rusia Ukraina Ternyata Perburuk Krisis di Yaman dan Afghanistan

Melonjaknya biaya makanan dan bahan bakar, bersama dengan pemotongan anggaran di beberapa negara donor tradisional, telah memaksa World Food Program (WFP) untuk mengurangi separuh jumlah makanan yang diberikannya kepada jutaan orang di Yaman, Chad dan Niger.

“Jangan membuat kami mengambil makanan dari anak-anak yang lapar untuk diberikan kepada anak-anak yang kelaparan,” pinta Program Pangan Dunia PBB (WFP). 

Pada Desember 2021, PBB membuat rekor seruan sebesar $41 miliar (£31 miliar) untuk membantu 273 juta orang tahun ini. Seperti yang ditekankan oleh para pekerja bantuan, mereka bukanlah orang-orang yang akan dibuat sedikit lebih nyaman dengan bantuan dari PBB. Demikian seperti dikutip dari laman Channel News Asia, Selasa (12/4/2022)

Mereka adalah orang-orang, terutama anak-anak, yang mungkin akan mati tanpanya.

Tapi seruan itu dibuat sebelum Rusia menginvasi Ukraina. Kedua negara itu dulunya menjual gandum ke WFP.Saat itu, Ukraina adalah pemasok, bukan negara yang membutuhkan bantuan kemanusiaan, seperti yang ditunjukkan direktur WFP di Jenewa, Annalisa Conte.

Pada bulan pertama perang, WFP menjangkau satu juta orang di Ukraina. Tapi pasokan gandum Ukraina, yang ditakdirkan untuk memberi makan beberapa yang paling lapar di planet ini, telah mengering.

Sementara itu, banyak negara Afrika, meskipun tidak bergantung pada bantuan PBB, mengimpor gandum dari Ukraina.Somalia mendapatkan lebih dari 60% gandumnya dari Ukraina dan Rusia, sementara Eritrea mendapatkan hampir 97% gandumnya dari Ukraina.

Mereka sekarang harus menawar melawan orang Eropa dan Amerika Utara di pasar internasional untuk mencari makanan.Jan Egeland, mantan kepala bantuan darurat PBB dan sekarang dengan Dewan Pengungsi Norwegia, menggambarkan ini sebagai "bencana" untuk bagian termiskin di dunia. "Mereka akan kelaparan," katanya. 

4 dari 4 halaman

Arab Saudi dan Uni Emirat Arab Janji Donasi Rp 43 Triliun ke Yaman

Kerajaan Arab Saudi dan Uni Emirat Arab sepakat untuk memberikan paket dana bantuan ke Yaman dengan total US$ 3 miliar (Rp 43 triliun). Langkah ini mendapat respons positif dari Dewan Keamanan PBB.

Menurut laporan Arab News, Kamis (14/4/2022), dana bantuan itu merupakan paket bantuan ekonomi. Arab Saudi juga menambahkan komitmen sebesar US$ 300 juta untuk respons kemanusiaan PBB di Yaman.

Dewan Keamanan PBB mengaku prihatin dengan krisis kemanusiaan di Yaman, sehingga para donor diminta menyumbangkan rencana kemanusiaan PBB dan mendukung pemerintahan Yaman untuk menstabilkan ekonomi.

Pemberian paket bantuan ini terjadi pekan lalu yang juga terjadi transisi kekuasaan dari Presiden Abed Rabbo Mansour Hadi (Abdrabbuh Mansur Hadi) kepada Dewan Kepemimpinan Kepresidenan. Dewan tersebut dibentuk di Arab Saudi dengan tujuan mengakhiri perang di Yaman.

Sebelumnya, Arab Saudi dan sekutunya mendukung Hadi sebagai tokoh pemimpin di Yaman untuk melawan pengaruh Houthi. 

DK PBB lanjut meminta para pemberontak Houthi untuk bekerja dengan utusan-utusan DK untuk meraih gencatan senjata yang permanen, serta meminta agar ada minimum 30 persen partisipasi perempuan di persetujuan apapun.

Pada awal Ramadhan 2022, Yaman memang mengadakan gencatan senjata. 

Perang saudara di Yaman telah terjadi sejak 2014. Lebih dari 100 ribu tewas di konflik ini. Arab Saudi cs ikut melakukan intervensi untuk melawan Houthi. 

Utusan khusus PBB untuk Yaman, Hans Grundberg, meminta agar perdamaian terwujud dan melihat gencatan senjata Ramadhan membantu mengurangi konflik yang terjadi. Ia juga melihat kapal-kapal masuk ke pelabuhan Hodeidah sehingga bisa membantu kekurangan BBM di ibu kota Sanaa. Namun, ia menyebut masih ada tantangan-tantangan ke depannya. 

"Kami mengandalkan berbagai pihak-pihak unuk melanjutkan komitmen dan komunikasi serius dalam menjunjung gencatan senjata," ujar Utusan PBB Hans Grundberg.