Sukses

Sepatu Ramah Lingkungan Daur Ulang dari Ampas Kopi Dibanderol Rp 2,7 Juta, Tertarik?

, Phnom Penh - Sebuah upaya untuk lebih ramah lingkungan digalakkan oleh sebuah perusahaan di Finlandia, yang mengklaim telah menghabiskan AU$800,000 atau sekitar Rp 11 miliar untuk memproduksi sepatu dari ampas kopi.

Rens, perusahaan sepatu yang berlokasi di Helsinki, mengatakan sudah memproduksi sepatu kedap air dari ampas kopi dan botol plastik daur ulang. Mereka berupaya untuk mengurangi dampak ampas kopi bagi lingkungan.

Ampas kopi saat terurai di tempat pembuangan sampah menghasilkan metan, gas rumah kaca yang kuat dan menyebabkan pemanasan global secara signifikan.

Diperkirakan sebanyak 6 juta ton ampas kopi dikirim ke lahan pembuangan sampah setiap tahunnya.

"Ketika baru mulai, kami sadar hanya lima persen ampas kopi di seluruh dunia didaur ulang," ujar pendiri dan CEO Rens, Jesse Tran seperti dikutip dari ABC Australia, Rabu (5/1/2021).

"Dan ampas kopi adalah limbah bio, tapi sebenarnya juga menghasilkan banyak metan, yang 32 kali lebih kuat dari gas rumah kaca CO2," ujar Jess.

Ia mengatakan upaya yang dilakukan perusahaannya adalah untuk memanfaatkan ampas kopi agar tidak cepat berakhir jadi sampah yang merusak lingkungan.

Versi Pertama dari 300 Gram Ampas Kopi

Rens mengatakan sepasang sepatu generasi pertamanya yang bernama "Original" terbuat dari 300 gram ampas kopi, yang setara dengan 21 cangkir kopi java.

Limbah ini diolah dan dicampur dengan biji plastik dari botol daur ulang, kemudian dijadikan benang poliester untuk bagian atas dari sepatu tersebut.

Bagian luar sepatu terbuat dari karet alami.

Rens mengatakan ampas kopi ini berasal dari pabrik besar di Asia.

Sepatu-sepatu ini diproduksi oleh pabrik di Vietnam, salah satu negara penghasil kopi terbesar di dunia.

"Setelah kopi dibeli dan dibuang, kami mengambilnya, mencampurnya dengan plastik daur ulang dari botol plastik yang sudah dipakai," ujar Jesse."Jadi, kami membuat yang namanya benang poliester kopi. Jadi kebanyakan bagian atas sepatu terbuat dari benang poliester kopi."

Setelah mendapatkan idenya di bulan Juli 2017, pendiri perusahaan tersebut menggalang dana di situs 'Kickstarter' pada Juni 2019.

Mereka mencapai target penggalangan dana dalam waktu 24 jam dan mendapatkan lebih dari $550,000 (atau sekitar Rp7 miliar) dari lebih dari 5.000 orang.

Penggalangan dana selanjutnya di bulan Agustus menghasilkan lebih dari $350,000 (atau sekitar Rp5 miliar) dan dipakai untuk memproduksi versi kedua sepatu, yang diberi nama "Nomad", dengan tali sepatu dari limbah kopi dan plastik daur ulang.

"Di pasar, produk ramah lingkungan sangatlah populer," ujar Son Chu, salah satu pendiri perusahaan, yang juga mengatakan produk ini menargetkan pasar anak muda.

"Tapi cara mereka menjual produk ramah lingkungan biasanya adalah: 'Hai, pakailah produk kami, karena kalau tidak planet ini hancur'. Kami tidak suka pendekatan ini."

Sebaliknya, ia ingin perusahaannya menjadi merek yang memproduksi barang ramah lingkungan yang "keren, berguna, dan benar-benar bisa dipakai orang", bukan sekedar menakut-nakuti bumi yang akan hancur.

Perusahaan tersebut mengatakan meski produk sepatunya ramah lingkungan dan sebagian terbuat dari bahan daur ulang, tetap masih ada dampak lingkungan lain yang ditimbulkan, misalnya proses pengiriman produknya.

Rens mengatakan akan menghilangkan emisi iklim dari proses produksi, pengemasan, distribusi dan pengiriman supaya produk "Nomad" mereka bebas karbon.

 

 

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 3 halaman

Produk Ramah Lingkungan Masih Mahal

Untuk saat ini, produk yang ramah lingkungan masih mahal.

Harga sepasang sepatu Rens bisa mencapai lebih dari Rp 2,7 juta, dengan harga 'pre-order' sekitar Rp1,5 juta.

Kesuksesan penjualan sepatu kopi membuat perusahaan Rens ingin memproduksi baju serta pakaian olahraga yang ramah lingkungan.

"Kami juga akan menambahkan, memperluas produksi barang lain. Sehingga, produk apa pun yang kami luncurkan juga akan memakai rumus yang sama, yakni dari bahan daur ulang," ujar Jesse.

"Bisa jadi terbuat dari ampas kopi lagi atau lainnya."

3 dari 3 halaman

Infografis 6 Cara Dukung Anak dengan Long COVID-19 Kembali ke Sekolah