Sukses

Yaman Berisiko Kelaparan Skala Besar, PBB Serukan Deeskalasi Kekerasan

Liputan6.com, New York City - Dewan Keamanan PBB pada hari Rabu menyerukan deeskalasi kekerasan di Yaman, dalam sebuah pernyataan untuk melawan meningkatnya risiko kelaparan skala besar di negara itu.

15 anggota dewan menekankan perlunya deeskalasi kekerasan oleh semua, menuntut gencatan senjata nasional segera, dan menyerukan diakhirinya eskalasi oleh Houthi di kota strategis Marib.

Mereka juga mengutuk perekrutan dan penggunaan anak-anak, dan kekerasan seksual, dalam konflik, seperti dikutip dari Inquirer Net, Jumat (22/10/2021).

“Anggota Dewan Keamanan menyatakan keprihatinan yang mendalam atas situasi kemanusiaan yang mengerikan, termasuk kelaparan yang berkepanjangan dan meningkatnya risiko kelaparan skala besar,” kata pernyataan itu.

Mereka juga meminta pemerintah Yaman untuk memfasilitas masuknya kapal bahan bakar ke pelabuhan Hodeida, dan bagi semua pihak untuk memastikan aliran bebas bahan bakar di dalam negeri untuk mengirimkan komoditas penting dan bantuan kemanusiaan.

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 2 halaman

Adanya Perang Yaman Mendorong ke Jurang kelaparan

Dewan Keamanan PBB juga mengulangi keprihatinannya atas potensi ancaman yang ditimbulkan oleh kapal tanker minyak Safer.

Berlabuh di lepas pantai Hodeida, kapal bahan bakar FSO Safer berusia 45 tahun telah berisiko tenggelam atau meledak selama beberapa tahun.

Houthi bertanggung jawab atas situasi tersebut karena mereka menolak untuk mengizinkan PBB melakukan penilaian apa pun terhadap kapal tersebut, kata Dewan Keamanan PBB.

Pemberontak Houthi dan pasukan pemerintah telah berperang dalam perang  sejak 2014, ketika Houthi terkait dengan Iran merebut ibu kota utara, Sanaa.

Sejak 2015, koalisi pimpinan Saudi telah melakukan intervensi untuk mendukung pasukan loyalis yang berjuang melawan pemberontak.

Perang Yaman telah menjerumuskan negara termiskin di Semenanjung Arab ke dalam krisis kemanusiaan terburuk di dunia, menurut PBB, mendorong penduduk ke jurang kelaparan.

Puluhan ribu orang, sebagian besar warga sipil, tewas dan jutaan mengungsi sejak konflik dimulai.

 

Reporter: Cindy Damara